Komunitas Bojonegoro History Gelar Tadarus Sejarah, Bahas Wilayah Perbatasan

Diskusi Tadarus Sejarah Budaya Bojonegoro di Deulleuda Coffee
Suasana diskusi Tadarus Sejarah Budaya Bojonegoro yang membahas sejarah wilayah perbatasan, diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah. Senin (16/03/2026)

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Komunitas Bojonegoro History sukses menggelar kegiatan Tadarus Sejarah Budaya Bojonegoro bertema “Membaca Sejarah Perbatasan Bojonegoro” pada Senin (16/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman Deulleuda Coffee Kelurahan Kepatihan Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro ini menjadi ruang diskusi terbuka bagi pegiat sejarah, komunitas, dan masyarakat umum.

Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut diikuti sekitar 50 peserta dari Bojonegoro dan sejumlah daerah lain. Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Pada sesi awal, pegiat Jonegoroan Berdaya Bersama, Muhammad Yuda Pradana, menyoroti pentingnya membangun ekosistem komunitas yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa komunitas tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga wadah kolaborasi, berbagi pengetahuan, serta menciptakan gerakan berdampak bagi masyarakat.

“Keberlanjutan komunitas sangat ditentukan oleh konsistensi kegiatan, keterbukaan terhadap kolaborasi, serta kemampuan merawat jaringan antar pegiat,” ujarnya.

Selanjutnya, Founder Bojonegoro History, Muhammad Andrea, memaparkan profil dan visi komunitas yang ia dirikan. Ia menjelaskan bahwa Bojonegoro History hadir sebagai ruang literasi sejarah lokal untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat.

Berbagai kegiatan seperti diskusi sejarah, riset lapangan, hingga publikasi tulisan menjadi upaya komunitas dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sejarah dan kebudayaan daerah.

Usai berbuka puasa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi utama bertajuk “Membaca Sejarah Perbatasan Bojonegoro” yang disampaikan oleh Muhamad Margi Anggoro Putra, alumni Jurusan Sejarah dari salah satu perguruan tinggi di Kediri, Jawa Timur.

Dalam pemaparannya, Putra mengungkapkan bahwa wilayah perbatasan Bojonegoro dengan kabupaten tetangga menyimpan jejak sejarah yang kompleks dan menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Ia menyebutkan, sejumlah temuan artefak seperti prasasti batu, batu lumpang, batu yoni, hingga lempengan prasasti yang diduga berasal dari masa Majapahit ditemukan di kawasan tersebut.

“Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah perbatasan Bojonegoro pada masa lampau kemungkinan memiliki peran penting dalam jaringan permukiman, aktivitas ekonomi, maupun praktik keagamaan pada masa klasik Jawa,” jelasnya.

Sementara itu, panitia kegiatan, Gema Romadhoni, berharap kegiatan ini dapat mendorong minat masyarakat untuk lebih mengenal sejarah lokal, sekaligus membuka ruang diskusi dan penelitian lebih lanjut.

“Khususnya terkait berbagai situs dan temuan sejarah di wilayah perbatasan Bojonegoro yang selama ini masih jarang dikaji secara mendalam,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *