Oleh: Usman Roin *
Lembaga pendidikan –dalam hal ini sekolah-madrasah, perlu semangat untuk mengenalkan kelebihannya kepada khayalak umum atau publik. Istilah mengenalkan dalam bahasa kini familiar dikenal dengan branding.
Lalu, mengapa sekolah-madrasah perlu membranding dirinya sendiri? Jawaban sederhana dari saya, “bila bukan kita siapa lagi”. Kemudian diteruskan, “kita saja tidak mau branding sekolah-madrasah sendiri, apalagi orang lain!”
Jika logika berpikir sederhana di atas bisa dipahami, tentu kita –sebagai bagian dari SDM sekolah-madrasah, kudu ikut ambil bagian untuk melakukan branding lembaga pendidikan sebagai tempat bernaung profesi keseharian.
Dengan cara apa? Untuk menjawab pertanyaan ini, bila pembaca setuju, dengan belajar menulis. Pertama, bagi pribadi, keterampilan menulis akan menunjukkan penciri kita dengan sesama pendidik. Lalu, apa yang perlu ditulis bila kita sebagai pendidik!
Pangalaman saya dulu yang tidak bisa menulis dan kini alhamdulillah bisa menulis berita, esai, artikel; kala menjadi guru, pengalaman bisa menerangkan materi pembelajaran dengan baik kepada peserta didik itu yang saya tulis.
Pemikiran saya sederhana. Menghargai keberhasilan kecil –berupa berhasil menerangkan materi kepada peserta didik, sehingga saat mereka melangkah keluar pintu kelas, dan sesampainya di rumah ditanya orang tuanya, diajar apa tadi sama bapak dan ibu guru? Peserta didik dengan gamblang menjawab diajar ini, ini dan ini; itulah pangalaman yang layak untuk ditulis.
Selain pengalaman –berpuluh-puluh tahun menjadi guru, kreativitas dalam kita mengajar juga perlu dituliskan. Mengapa? Sebab, hal itu menjadi dokumentasi diri bahwa apa yang kita lakukan layak dan menginspirasi orang lain.
Mungkin, ada sebagian dari diri kita mengatakan “ah biasa saja”. Itukan bagi kita! Tetapi bagi orang lain, kreativitas kita dalam mengajar itu menginspirasi orang nan jauh di sana, untuk bersemangat pula dalam mengajar. Jika itu kita tulis dan nyata menginspirasi, berarti kehadiran kita membangkitkan sesama guru yang “sedang down” dalam mengajar.
Kedua, secara internal bisa membangun emosional yang hangat antara pendidik dan peserta didik. Emosional yang saya maksud disini lebih kepada kehadiran kita yang menjadi tauladan –bahasa lainnya inspirasi terdekat, sesama pendidik dan peserta didik.
Karenanya, kala mengisi pengabdian di MTs Islamiyah Unggulan Kecamatan Balen saya sampaikan kepada guru PAI, bagaimana mungkin perkataan kita didhel (percaya) peserta didik, kala kita tidak menjadi contoh terlebih dahulu!
Karenanya, kala menjadi dosen di Prodi PAI saya dipeseni Prof. Muslih kala selesai ujian tesis progam Magister PAI UIN Walisongo Semarang. Ketika saya keluar ruang sidang, beliau menghampiri saya dan berkata “Mas Usman, saya tahu sampean senang menulis, pesen saya lanjutkan menulisnya dibayar atau tidak, di media ternama atau tidak, menulislah,” pesan beliau kepada saya.
Kala diterima sebagai dosen, di situlah saya amalkan pesan beliau –Prof. Muslih, sehingga mahasiswa mengenal saya senang menulis dan penulis. Ketika kemudian saya mengajak “mengkampanyekan” nulis, mereka langsung percaya oleh sebab sudah ada teladan menulis di kampus yaitu saya.
Jika kemudian kita fleshback jauh kepada baginda Nabi Muhammad Saw, beliau adalah teladan sejati dan hadir dekat. Sehingga para sahabat bila ingin melihat, siapa yang ingin diteladani tidak perlu jauh mencari. Sebab, yang dekat sudah ada, yakni beliau sendiri. Keterangan ini silahkan baca bukunya Prof. Fadhl Ilahi Zhahir (2020:92), atau bukunya Dr. Musthafa Muhammad at-Thahhan (2019: 59).
Berdasar deskripsi di atas, pendidik perlu menjadi teladan peserta didik. Dengan apa? Salah satunya adalah belajar menguasai keterampilan menulis berita yang bisa digunakan untuk mengcapture program-program sekolah-madrasah; atau menulis artikel, esai, dan lainnya sebagai bagian dari menyumbangkan ide demi perbaikan kondisi pendidikan.
Lalu, setelah terampil dan produktif menulis, apakah bisa meningkatkan citra diri? Saya jawab bisa.
Perlu saya tunjukkan, dahulu saya bukan siapa-siapa. Minderan, dan sering diremehin orang lain. Tetapi saya tidak mau hal itu berkelanjutan. Berbekal ketekunan ikut pelatihan jurnalistik dasar, menengah, serta aktif hadir dalam pelatihan kepenulisan berbagai genre, kepenulisan saya tekuni. Niat saya hanya satu, semoga Allah Swt beri keberkahan apa yang saya tekuni ini.
Karenanya, jika di sekolah-madrasah belum ada sosok penulis yang lahir, tidak ada salahnya panjenengan yang membaca tulisan ini, ambil sikap acungkan jari dan berkata “saya” akan jadi penulis. Dengan begitu saya lega, ada teman berjuang di sekolah-madrasah untuk menciptakan literasi secara masif.
Ketiga, secara eksternal kehadiran kita –sebagai pendidik di jenjang apapun, yang memiliki keterampilan menulis sebagaimana yang terdeskripsi di atas, akan mampu menarik calon peserta didik menambatkan pilihannya melanjutkan jenjang pendidikan di sekolah-madrasah A, B dan seterusnya oleh sebab berkualitas.
Coba bila tidak percaya tengok kabar media sosial yang viral. Seorang anak yang oleh sebab tidak dibelikan motor Ninja –maaf saya sebut merek, rela menghancurkan rumah orang tuanya sendiri. Moralitasnya di mana bila sudah begini!
Maka, bagi saya, kehadiran pendidikan yang berkualitas melalui keterampilan menulis yang dimiliki, bisa menginspirasi generasi muda bahwa proses untuk menabung –sebagai misal, perlu menjadi karakter nyata dan bukan sekadar slogan yang berakhir dengan menyusahkan orang tua serta orang lain.
Pendidik yang ingin berkualitas bisa belajar otodidak, atau menghadirkan orang yang expert guna menggugah semangat agar tiarapnya tidak terlalu panjang, sehingga kehadirannya menjadi unsur branding sekolah-madrasah dipilih oleh calon peserta didik.
Akhirnya, mari kita angan-angan, representasi keterampilan apa yang mudah mengingatkan orang lain kepada kita? Lalu, representasi kualitas apa yang mendorong orang lain memilih sekolah-madrasah kita! Monggo dicari sendiri jawabannya. Maturnuwun.
*Penulis adalah Dosen Jurnalistik Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.














