Oleh: Ahmad Rifqi Azmi
Semua manusia akan meninggal dunia dan semua manusia meyakini hal itu. Sebab itu, Al-Quran meredaksikan kematian dengan redaksi al-yakin. Allah berfirman:
وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ (سورة الحجر 99)
Artinya: Dan sembahlah Tuhanmu sampai kematian (al-yaqin) datang kepadamu (QS. Al-Hijr 99)
Dalam ayat tersebut kematian diceritakan sebagai sesuatu yang mendatangi. Ini menunjukkan bahwasanya kematian itu tidak sesuai dengan kehendak manusia. Misalnya, jika manusia ingin mati maka ia akan mendatangi kematian, jika dia tidak ingin mati maka ia tidak akan mati dengan cara tidak mendatangi kematian. Ayat di atas berbunyi ya’tiyaka al-yaqin (kematian akan mendatangimu). Dalam ayat lain Allah berfirman:
أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ (النساء 78)
Artinya: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, sekalipun kamu berada dalam benteng-benteng yang tinggi dan kokoh (An-Nisa’ 78)
Diceritakan dalam kisah Israiliyyat, sebagaimana dikutip oleh Abu Laits al-Samarkandi dalam tafsirnya bahwa suatu ketika Nabi Sulaiman ketika sedang bersama temannya, ia ditamui oleh Malaikan Maut yang menjelma sebagai manusia. Ketika bertamu, Malaikat tersebut selalu memandangi wajah teman duduk Nabi Sulaiman. Ketika Malaikat itu berpamit pergi, teman Sulaiman bertanya, “Siapakah tamu itu?” Sulaiman menjawab, “Dia adalah Malaikat Maut. Teman Sulaiman ketakutan ketika mengetahui yang datang itu adalah Malaikat Maut, sebab ia ketika bertamu selalu mandangnya. Ia menduga bahwa malaikat itu akan mencabut nyawanya. Maka, ia memohon kepada Nabi Sulaiman untuk menyuruh angin untuk membawanya ke Hindia. Lalu, terbanglah temannya tersebut ke Hindia. Betapa kagetnya temannya itu ketika di Hindia Malaikat Maut sudah menunggunya di Sana.
Setelah Malaikat Maut mencabut nyawa temannya, ia kembali menemui Nabi Sulaiman di Palestina. Malaikat itu bercerita bahwa awalnya ia kebingungan, sebab Allah memerintahkannya mencabut nyawa teman Nabi Sulaiman di Hindia, padahal saat itu temannya Nabi Sulaiman masih di palestina di samping Nabi Sulaiman. Karena merasa aneh, Malaikat itu memandanginya terus menerus.
Kisah ini menunjukkan bahwa betapapun seseorang lari dari kematian, ia tetap tidak adan dapan menghindarinya. Bahkan, walaupun ia mempunyai jimat yang paling ampuh-pun, jimat itu tidak akan mampu melindunginya dari kematian yang akan menjemputnya. Al-Hudzaili dalam salah satu syairnya berkata:
وَإِذَا الْمَنِيَّةُ أَنْشَبَتْ أَظْفَارَهَا … أَلْفَيْتَ كُلَّ تَمِيْمَةٍ لَا تَنْفَعُ
Artinya: “Apabila ajal telah mencengkeramkan kukunya, maka engkau akan mendapati semua jimat tak akan ada gunanya.”
Semakin Tua Semakin Mendekati Kematian
Semua manusia meyakini akan mati, namun tidak satupun dari mereka yang tahu kapan kematian itu menjemputnya. Meskipun seperti itu, semua meyakini semakin bertambah umur seseorang berarti semakin ia mendekati kematian. Oleh sebab itu, sudah selayaknya orang semakin tua, semakin giat ibadahnya. Nabi SAW. bersabda
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: « ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ – قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ -، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ (رواه مسلم)
Artinya: Tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, pemimpin yang suka berdusta, orang miskin tetapi sombong. (HR. Muslim)
Dalam hadis lain, Nabi SAW. bersabda:
أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً (رواه البخاري)
Artinya: Allah telah memberikan uzur (ampunan) bagi seseorang yang ditangguhkan umurnya hingga mencapai enam puluh tahun. (HR. Bukhari)
Kedua hadis di atas menjelaskan betapa Allah tidak senang kepada orang tua yang masih berkelakuan buruk. Bahkan dalam hadis pertama Allah tidak berkenan berbicara kepada orang tua dan tidak mudah memberikan ampunan yang berkelakuan buruk. Sedangkan hadis kedua menjelaskan bahwa jika serang hamba memasuki umur 60 tahun namun tetap tidak taat, maka ia tidak punya hujjah di hadapan Allah. Allah sudah memberinya umur panjang, kesempatan taubat, dan waktu untuk beribadah, sehingga bila ia masih bermaksiat, tidak ada lagi udzur baginya.
Hal ini dikarenakan, ketika seorang hamba memasuki masa tua, Allah memberikan begitu banyak pengingat kepadanya untuk mendekatkan diri kepadaNya. Allah memperingatinya dengan uban, gigi yang mulai rontok, wajah yang mulai ketampanan dan kecantikan yang mulai hilang digantikan oleh keriput, teman-teman sebaya yang mulai meninggalkannya, dan Allah memberikan aneka penyakit kepadanya. Ini semua agar orang tua tidak senang dengan dunia lagi, dan agar dia membelokkan cintanya yang asalnya kepada dunia menjadi kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu banyaknya pengingat mendekatkan diri ini apabila orang tua masih bermaksiat dan bermalas-malasan melakukan ibadah, maka sungguh ini merupakan kerugian yang sangat besar, dan ia layak untuk mendapatkan murka dari Allah Ta’ala.
Berbagai Inspirasi Ketekunan Ibadah di Usia Senja
1. Rasulullah SAW.
Sebaik-baik teladan adalah Rasulullah SAW. Bagaimana Rasulullah SAW. diusia senja menjelang kewafatannya? Imam Muslim meriwayatkan, Rasulullah SAW. sangat gemar berdzikir diusia senjanya, terlebih dzikir yang berupa tasbih, tahmid, dan istighfar.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ. قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ: سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ. فَقَالَ: خَبَّرَنِي رَبِّي أَنِّي سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَدْ رَأَيْتُهَا (رواه البخاري)
Artinya: Aisyah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW. (di usia senjanya) sering berdzikir: ‘Subḥānallāhi wa biḥamdih, astaghfirullāha wa atūbu ilaih’. Aku (Aisyah) Pernah bertanya: ‘Wahai Rasulullah, aku melihat engkau sering mengucapkan dzikir itu. Beliau menjawab: ‘Tuhanku telah memberitahuku bahwa aku akan melihat suatu tanda pada umatku. Maka apabila aku melihat tanda itu, aku memperbanyak bacaan: Subḥānallāhi wa biḥamdih, astaghfirullāha wa atūbu ilaih. Dan sungguh aku telah melihat tanda itu. (HR. Muslim)
Dzikir berupa tasbih ini sangat penting, sebab tujuan dari dzikir adalah mensucikan Allah dari segala hal yang tidak pantas dinisbahkan kepada-Nya. Kadang, orang tua yang banyak dosa, terbesit di dalam pikirannya bahwasanya Allah bakhil memberikan pengampunannya kepadanya sebab dosanya terlalu besar. Allah bakhil memberikan penjagaannya terhadap anak cucunya yang masih kecil-kecil ketika ia meninggal. Pikiran seperti ini harus dibersihkan dengan membaca tasbih.
Dzikir berupa tahmid juga penting dibaca oleh orang tua, sebab begitu banyak nikmat Allah kepadanya mulai kecil hingga saat tua. Ia harus mensyukuri Allah tidak mencabut nyawanya ketika ia bermaksiat. Ia harus bersyukur kepadanya karena meskipun ia bermaksiat akan tetapi Allah tetap baik kepadanya dengan memberikan aneka macam nikmat. Ia harus bersyukur meskipun ia malam hari bermaksiat, Allah tetap membangunkannya dipagi hari memberikan kesempatan taubat kepadanya.
Begitupula istighfar. Ini tidak kalah penting dibaca oleh orang tua. Sebab semakin panjang umur seseorang maka semakin banyak dosa yang ia lakukan. Semakin panjang umur seseorang maka semakin banyak kecerobohan dan su’ul adab ketika ia melakukan ketaatan. Misalnya meskipun ia shalat, tapi ia tidak memenuhi hak-hak shalat. Ketika ia berhaji, ia tidak memenuhi hak-hak haji. Bahkan, istighfar yang kita bacapun butuh untuk kita istighfari sebab kita membaca istitighfar dilisan saja tapi perbuatan kita seakan menentang dan meremehkan Allah. Tidak heran Rabiah al-Adawiyyah berkata:
إِسْتِغْفَارُنَا يَحْتَاجُ إِلَى الْإِسْتِغْفَارِ الْكَثِيْرِ
Artinya: Istighfar kami butuh banyak diistighfari
Terkait istighfar yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasulullah SAW. Para ulama berkata bahwa istighfar itu bukan berarti Rasulullah saw. pernah berbuat dosa, melainkan karena setiap hari, maqam beliau selalu meningkat sebagaimana janji Allah dalam surah al-Dhuha
وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ [الضحى: 4]
Artinya: Dan akhirmu senantiasa lebih baik daripada awalmu (QS. Al-Dhuha 4)
Hal ini berbeda dengan manusia pada umumnya yang imannya naik turun. Kadang hari berikutnya lebih baik dari hari sebelumnya, kadang sama, kadang justru lebih buruk dari hari sebelumnya. Rasulullah SAW. tidak demikian, maqamnya selalu naik lebih tinggi dan tidak pernah menurun. Nah, istighfar beliau adalah mengistighfari maqam sebelumnya, sebab jarak antara maqam yang didapat dengan maqam sebelumnya sangat jauh, sehingga seakan-akan beliau SAW. melihat itu adalah sebuah kesalahan atau dosa.
Rasulullah SAW. tidak mungkin berdosa sebab andaikan beliau berdosa berarti Allah memerintahkan semua manusia untuk berdosa, sebab Allah menyuruh semua manusia untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW.
Terkait ibadah Rasulullah SAW., dalam hadis lain riwayat Imam Muslim, Anas bin Malik menceritakan bahwa menjelang kewafatan Beliau, Jibril sangat sering mendatanginya, menyampaikan wahyu kepadanya. Jika insentisas wahyu meningkat, berarti amal Rasulullah SAW. juga semakin meningkat, ilmu beliau juga meningkat, dan meningkat pula pengajaran beliau kepada umatnya. Maka, kita jumpai, walaupun dalam keadaan sakit, Rasulullah SAW. tetap memberikan pelajaran dan teladan kepada umatnya.
2. Salafus Shalih
Diriwayatkan bahwasanya al-Junaid ketika sakit menjelang kewafataannya, ia membaca al-Quran bahkan sempat menghatamkannya. Murid-murid yang ada disekelilng beliau merasa kasihan dengan al-Junaid sebab itu sanggat memberatkan al-Junaid, namun al-Junaid menjawab, ini adalah saat saat aku paling membutuhkannya.
Imam Abdul Wahhab Asy-Sya’rani di dalam kitabnya yang berjudul al-Akhlaq al-Mabtuliyyah, berkata:
وَمِن أَخْلَاقِهِمْ: مَحَبَّتُهُمْ لِلْوَحْدَةِ أَوَاخِرَ أَعْمَارِهِمْ وَكَرَاهَتِهِمْ لِتَرَدُّدِ النَّاسِ إِلَيْهِمْ.
Artinya: Di antara akhlak sebagian guru-guruku adalah pada usia senjanya, mereka lebih senang menyendiri, dan mereka tidak senang apabila para manusia sowan kepada mereka.
Ada pula cerita dari Imam al-Junaid sebagaimana dikutib oleh Ibnu al-Jauzi di dalam al-Tabshirahnya, bahwasanya al-Junaid berkata:
مَا رَأَيْتُ أَعْبَدَ للَّهِ مِنْ سري السَّقَطِيٍّ، أَتَتْ عَلَيْهِ ثَمَانٍ وَسَبْعُونَ سَنَةً مَا رُئِيَ مُضْطَجِعًا إِلا فِي عِلَّةِ الْمَوْت
Artinya: Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih giat beribadah daripada Sirri al-Saqthi (guru al-Junaid). Selama 78 tahun aku tidak pernah melihatnya terlentang kecuali saat ia sakit menjelang kewafatannya.
Dan yang hendaknya disadari, biasanya para shalihin, semakin usia senja ibadah aspek batinnya semakin kuat dibanding dzahirnya.
Semoga kita semua ditakdirkan oleh Allah dapat meneladani Rasulullah saw. dan para salafusshaleh dan mendapatkan husnul khatimah. Aamiin.
*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Pengasuh Jamaah Sabtu Sore Masjid Agung Bojonegoro dan Pengasuh Jamaah Ngabar Banjarsari yang juga kolumnis di jagatsembilan.com














