Oleh : Ibnu Khakim, MHI *)
Pelaksanaan Pilkada tinggal menghitung hari, per hari ini lebih dari enam hari, besok sudah berakhir masa kampanye, sampai pada titik ini kondisi Bojonegoro relative kondusif aman dan terkendali, semua tahapan secara umum berjalan dengan cukup baik, meskipun tentu tidak ada yang serta merta mulus tanpa cela, namun masih dalam batas kewajaran, karena inilah konsekwensi negara yang mengikuti system demokrasi.
Demokrasi adalah menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Berdasarkan KBBI, demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat. Kemudian, demokrasi juga diartikan KBBI sebagai gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Abraham Lincoln mengartikan demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sedangkan menurut Sidney Hook mengartikan demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintahan yang penting, baik secara langsung atau tidak langsung, didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa. Koentjoro Poerbopranoto dalam Sistim Pemerintahan Demokrasi menjelaskan bahwa demokrasi adalah sistem yang mendorong rakyat untuk ikut berpartisipasi secara aktif dalam pemerintahan negara.
Untuk menang dalam pesta demokrasi Bojonegoro, selain dukungan partai pengusung yang mengantarkan sebagai pasangan calon, secara rasional dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Membangun Personal Branding, Membangun personal branding yang kuat dapat menjadi faktor penting dalam kampanye politik. Meski ada banyak faktor yang mempengaruhi hasil pemilu, termasuk dukungan partai politik, program politik, isu-isu yang relevan, serta kampanye yang efektif.
2. Aktif Mengikuti Kegiatan Masyarakat, hal ini dapat membantu memperkuat kredibilitas dan popularitas sebagai calon. Calon dapat ikut terlibat dalam acara-acara sosial, seperti aksi sosial, kerja bakti, dan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Selain itu, mengunjungi beberapa tempat keramaian seperti pasar, terminal, atau tempat wisata juga dapat memperluas jangkauan kampanye dan memberikan kesempatan bagi para pemilih untuk bertemu langsung untuk membangun personal branding yang kuat dapat membantu seorang kandidat membangun citra yang positif di mata pemilih, meningkatkan kesadaran tentang dirinya dan membuatnya terlihat sebagai figur yang dapat dipercaya dan berkompeten.
3. Blusukan, Sebagai calon yang penuh dengan semangat perubahan, maksimalkan itu semua dengan pengabdian nyata. Ada banyak contohnya, salah satunya adalah rela blusukan. Menjangkau tempat-tempat yang selama ini terabaikan dan tak diperhatikan lalu buatlah perubahan di sana, seperti daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan).
4. Memberikan Solusi Nyata, Tidak hanya berhenti hanya pada visi misi, dan janji-janji saja. Namun memberikan juga solusi yang nyata sehingga wujud konkret pengabdian bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Seperti perbaikan jalan yang rusak, pembangunan infrastruktur, pembenahan jaringan internet atau pun perbaikan sistem pendidikan, lingkungan, sosial.
5. Kampanye Digital, Dahulu mungkin kita selalu menerima kartu nama dari para calon ataupun pendukungnya. Namun sekarang media sosial menjadi alat yang efektif untuk mengkampanyekan diri dan menjangkau pemilih dengan biaya yang nyaris nol rupiah. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan menarik agar mudah dicerna dan diingat oleh pemilih. Selain itu, juga dapat memperluas jangkauan kampanye dengan menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan para pemilih secara langsung, seperti menjawab pertanyaan atau tanggapan komentar.
6. Sowan kepada para tokoh Agama kan tokoh masyarakat, kultur masyarakat Bojonegoro masih belum lepas dari kecenderungan mengikuti tokoh yang ada di lingkungannya, baik tokoh agama maupun tokoh adat yang selama ini dikenal luas berperilaku baik dan menjadi panutan. Pengaruh para tokoh masih cukup tinggi dan signifikan di Bojonegoro, terutama tokoh Ulama Pondok Pesantren.
7. Menggelar doa bersama, ritual ini menjadi slah satu hal yang wajib dilalukan oleh calon dan pendukungnya jika ingin sukses menjadi pemenang, segala sesuatu didunia ini di imani oleh semua pemeluk agama sebagai hak preogratif Alloh Swt, Tuhan yang maha kuasa, sehingga dengan selalu mendekat pada Alloh Swt, doa dan permintaan hamba akan mudah terkabul dan wujud.
8. Menyiapkan dana yang mencukupi, meskipun politik uang atau money politik merupakan suatu penyimpangan dan pelanggaran, namun riset Undip tahu 2020 menginformasikan bahwa 80 persen pemilih mempertimbangkan uang untuk menentukan pilihannya, dan harus kita sadari bersama, bahwa money politik adalah buday yang merusak demokrasi dan kedaulatan rakyat.
Dengan pemaparan di atas, dan dengan izin Alloh, kita bisa membuat prediksi siapa paslon akan terpilih pada pemilulkada Rabu depan. Semoga pemimpin baru nanti, yang dipilih oleh rakyat Bojonegoro berbanding lurus dengan kehendak Alloh Swt, sehingga mampu mengantarkan Bojonegoro tetap rukun bersatu dan menjadikan lebih baik dalam segala aspek kehidupan masyarakat Bojonegoro. Amin
*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, Intelektual Muda dan Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.













