Oleh : Ibnu Khakim, M.HI *)
Masyarkat sering disuguhi pemberitaan seorang tentang pegawai yang memiliki harta berlimpah. Tindakan yang memamerkan gaya hidup yang hedon dan mewah mendominasi acara – acara dihampir semua media. Hal ini sebenarnya juga tidak serta merta bisa digebyah uyah merupakan wajah semua pegawai, masih banyak yang teguh integritas, jujur dan amanah.
Disadari atau tidak telah ada yang akan pergi, atau bahkan sudah pergi dan menghilang dari nilai bangsa luhur Indonesia, yaitu kesederhanaan, Ya, saat ini menjadi makhluk langka, tidak hanya di kota yang memang identic dengan kemegahan dan glamour, bahkan di pedesaan pun kesederhanaan sudah mulai menipis dan nyaris sirna. Bahkan sebagian kalangan justru memaknai kesederhanaan itu identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Jangankan diaplikasikan dalam kehidupan, disebut saja sangat jarang. Kesederhanaan sebagai konsep dan prilaku kini telah menjadi orang asing di rumah sendiri. Kesederhanaan mulai tergusur dengan kemewahan, dengan perbelanjaan (konsumerisme) dan segudang aktifitas ekonomi lainnya. Kesederhanaan tidak hanya tercermin dalam gaya hidup saja, tetapi juga hadir dalam pola pikir mencari penghidupan. Seorang yang berpikiran sederhana, tentunya tidak akan sampai melebihi batas kebutuhan hidup. Tuntutan dan keinginan akan selalu disesuaikan dengan kemampuan. Sehingga tidak ada rasa ingin menguasai dan memiliki hak orang lain di luar haknya.
Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) versi online arti sederhana adalah bersahaja; tidak berlebih-lebihan, dalam arti pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, dan, tidak banyak seluk-beluknya (kesulitan dan sebagainya); tidak banyak pernik; lugas. Secara umum sederhana didefinisikan dengan konsep yang menekankan kesadaran akan kebutuhan esensial dan mengurangi kecenderungan untuk mencari kebahagiaan dalam benda-benda material.
Dalam Islam, hidup sederhana berarti menerima apa yang diberikan Allah SWT, tidak boros, dan tidak kikir. Hidup sederhana juga berarti menjauhkan diri dari sikap tidak puas dan suka berlebihan yang di istilahkan dengan qana’ah. Sifat qana’ah merupakan benteng untuk menerapkan pola hidup sederhana. Orang yang memiliki sifat qana’ah adalah orang yang selalu merasa cukup atas apa yang diberikan Allah.
Al-Qur’an menginformasikan hidup sederhana itu adalah di antara tidak berlebihan (boros) dan tidak kikir. Dalam Surat Al-Furqan ayat 67, yang artinya ; ” Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya ”. Konsep ini diilustrasikan dengan jelas. Hidup sederhana mengandung arti tidak terjerat dalam kerakusan dan pemborosan yang tidak memiliki batas. Ini sekaligus tidak merosot dalam sifat kikir yang menyebabkan ketidakmampuan berbagi dengan sesama.
Pada dasarnya, menurut Al-Qur’an hidup sederhana itu adalah di antaranya sikap bijaksana dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan. Tidak terjebak dalam mewah yang berlebihan, tetapi juga tidak menahan diri dengan sifat kikir yang menghalangi kedermawanan. Mengambil sikap tengah ini, individu dapat menjalani kehidupan yang seimbang. Ada pemuasan kebutuhan diri sendiri tidak mengabaikan tanggung jawab sosial dan moral terhadap sesama. Abu Umamah Iyash bin Tsa’labah al-Anshariy al-Haritsy RA berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW membicarakan masalah dunia. Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, ‘Apakah kalian tidak mendengar? Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu sebagian dari iman.'” (HR Abu Daud).
Mengenai kesederhanaan yang kebanyakan orang keliru dalam menafsirkannya, sehingga orang yang orang yang berpakaian jelek dan murah atau rumahnya kurang elok itu bisa disebut sebagai seorang yang sangat sederhana, kalau dari sana hendak diukur kesederhanaan, kita tidak akan bertemu hakikat yang sebenarnya. Kita tidaklah dapat berpedoman kepada lahiriyahnya saja. Oleh karenanya, yang sederhana itu bukan pada bentuk lahir, bukan pada kemestian orang kaya dan termasyhur saja, bukan pula diperuntukkan bagi kaum fakir miskin.
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal Buya Hamka mengatakan yang sederhana itu adalah niat, sederhana tujuan, yang merupakan tujuan segala manusia yang berakal. Berikut perfektif sederhana menurut Buya Hamka:
Pertama, sederhana dalam niat, Tidak usah berniat hendak jadi raja. Tidak perlu bercita-cita jadi orang berpangkat dengan gaji besar, akan mengharapkan bintang yang akan dihiaskan di dada. Yang perlu ialah meluruskan niat. Sebagai makhluk hidup, kita harus berjasa kepada kehidupan. Sebagai laki-laki kita harus tegak pada garis laki-laki. Sebagai manusia, kita harus mempunyai kemanusiaan. Jika telah cukup kemanusiaan, walaupun kaya atau papa, termasyhur atau tidak terkenal, semuanya hanya warna hidup belaka, bukan hakikat hidup. Hakikat hidup ialah, tujuan, niat suci dan sederhana itu.”
Kedua, sederhana dalam berpikir. Untuk mencapainya perlu niat hidup yang suci, teratur urusan hidup kita, mencapai keselamatan hidup di dunia yang fana, menjelang akhirat yang baqa, hendaklah kita mematangkan pikiran kita sendiri. Pikiran yang matang dapat membedakan yang gelap dengan yang terang, yang hak dengan yang batil, membuang jauh-jauh pendapat yang salah dan pendirian yang jahat.
Amat berbahaya bagi hidup ialah pikiran yang tidak mandiri, yang hanya berlindung atau terpengaruh oleh pikiran orang lain. Kekuatan hanya apabila ditolong orang lain. Tidak bisa hidup mandiri. Tak ubahnya dengan rumput yang tumbuh di bawah naungan pohon beringin, hidup segan mati tak mau, sebab dia tidak mendapat cahaya yang langsung dari matahari. Jadi, kita harus berusaha berpikir sederhana dan selalulah menjaga tiga hal, yakni tawakkal kepada Allah, menghidupkan cita-cita dalam hati, dan berbaik sangka kepada Alloh Swt dan sesama manusia.
Ketiga, sederhana keperluan hidup, bisa makan dua kali sehari, pakaian dua ganti pakaian, rumah yang cukup udaranya untuk tempat tinggal, dapat menghisap udara dan bergerak, kita sudah dapat hidup. Namun nafsu yang meminta lebih dari itu, sehingga di dalam memenuhi keperluan hidup, kerapkali manusia lupa akan kesederhanaan”.
*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, adalah Intelektual Muda, Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.












