JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pengurus Pimpinan Daerah Majelis Ulama Indonesia (PD MUI) Kecamatan Kepohbaru masa bakti 2026-2031 menggelar silaturahim sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Mambaul Falah, Desa Brangkal, Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro, Selasa (2/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi bagi jajaran pengurus baru sekaligus memperkuat komitmen MUI Kepohbaru untuk hadir di tengah masyarakat. Semangat yang diusung yakni “Melayani Umat dan Mitra Pemerintah.”
Selain memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, pertemuan tersebut juga membahas sejumlah agenda organisasi untuk masa khidmat lima tahun ke depan. Di antaranya persiapan pelantikan bersama MUI se-Kabupaten Bojonegoro, pembahasan tugas dan fungsi kepengurusan, serta pemetaan sejumlah isu aktual yang berkaitan dengan kehidupan umat.
Dalam diskusi, para pengurus juga menyoroti tantangan dakwah di tengah perkembangan media sosial. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga berbagai informasi yang berpotensi memicu konflik dinilai membutuhkan respons yang bijak dari para tokoh agama dan organisasi keumatan.
MUI Kepohbaru didorong tidak hanya menjadi lembaga yang memberikan pandangan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi penyejuk sekaligus penyaring informasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketua Umum PD MUI Kepohbaru, KH Ghufron Ilham, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi dan kekompakan seluruh pengurus. Menurutnya, soliditas organisasi menjadi modal penting agar program MUI dapat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kepohbaru Moch. Ghozali, S.Sos. menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan MUI dan pondok pesantren dalam kehidupan masyarakat.
Ia menilai MUI dan pesantren memiliki peran penting sebagai bagian dari kekuatan moral masyarakat sekaligus mitra pemerintah dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
Mauidhoh hasanah dalam kegiatan tersebut disampaikan Kepala KUA Kecamatan Kepohbaru, KH Warsito. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan akhlak dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
KH Warsito juga mengajak masyarakat menyikapi secara bijak aktivitas pengeboran minyak yang berlangsung di Desa Sidomukti. Menurutnya, berbagai dinamika pembangunan harus dihadapi dengan tenang, cerdas, dan mengedepankan musyawarah.
“Mari kita sikapi dengan tenang, cerdas, dan tetap mengedepankan musyawarah. Jangan sampai rezeki dari bumi justru memecah persatuan kita dan merusak generasi kita,” katanya l.
Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam diskusi, mengingat pembangunan dan aktivitas ekonomi di suatu wilayah perlu diiringi dengan perhatian terhadap kondisi sosial masyarakat.
Sesi tanya jawab berlangsung cukup dinamis. Sejumlah pengurus menyampaikan pertanyaan dan gagasan terkait strategi dakwah di ruang digital, upaya menangkal paham radikal dan informasi yang menyesatkan di media sosial, serta kemungkinan peran MUI dalam mendampingi masyarakat yang terdampak berbagai program pembangunan.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimcam Kepohbaru, pengurus PD MUI Kepohbaru masa bakti 2026-2031, pengasuh pondok pesantren, serta tokoh agama dari berbagai wilayah di Kecamatan Kepohbaru.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin K. Ahmad Muaddin.
Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut, PD MUI Kepohbaru diharapkan mampu menjalankan kepengurusan secara aktif dan responsif. MUI tidak sekadar menjadi simbol kelembagaan, tetapi hadir memberikan manfaat, menjadi tempat rujukan umat, sekaligus membangun sinergi dengan pemerintah untuk mewujudkan Kepohbaru yang religius, damai, dan sejahtera.(Red)













