JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pembukaan Pendidikan Kader Lanjutan (PKL) GP Ansor Bojonegoro menjadi momentum penguatan kaderisasi sekaligus penegasan pentingnya kesiapan kader untuk berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama. Katib Syuriah PCNU Bojonegoro KH. Hilmi Aljumadi menekankan agar kader ditempa secara lahir dan batin, sementara Ketua PW GP Ansor Jawa Timur H. Musaffa Safril menyoroti pentingnya jiwa korsa yang dibangun melalui kepedulian dan solidaritas.
Pembukaan PKL GP Ansor Bojonegoro tersebut berlangsung di halaman MTs Unggulan Islamiyah Balen, Desa Balenrejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PW GP Ansor Jawa Timur H. Musaffa Safril beserta jajaran, Rois Syuriah PCNU Bojonegoro KH. Maimun Syafi’i, Katib Syuriah PCNU Bojonegoro KH. Hilmi Aljumadi, Wakil Sekretaris PCNU Bojonegoro Dr. Saiful Anwar, serta Kusnandaka Catur selaku Asda Pemkab Bojonegoro.
Hadir pula Ketua PC GP Ansor Bojonegoro Mochamad Nurwahyudi beserta jajaran, Kasatkorcab Banser Bojonegoro Moh. Muhtadin beserta jajaran, perwakilan Banom NU tingkat Cabang Bojonegoro, Ketua MWCNU Balen beserta Banom NU tingkat kecamatan, Forkopimcam Balen, Kepala Desa Balenrejo, serta peserta PKL GP Ansor Bojonegoro.

KH. Hilmi Aljumadi yang juga Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan PKL. Menurutnya, kaderisasi merupakan proses penting untuk menyiapkan generasi penerus NU yang memiliki kesiapan menjalankan amanah organisasi.
“Benar-benar dikader betul sehingga digembleng lahir batin siap mengabdi di Nahdlatul Ulama pada usianya nanti,” kata KH. Hilmi Aljumadi.
KH Hilmi: NU Butuh Kader yang Siap Khidmah
KH. Hilmi mengatakan, keberadaan kader yang telah melalui proses kaderisasi menjadi sumber optimisme bagi keberlangsungan NU. Ia berharap para peserta PKL kelak mampu menjadi kader yang siap ketika organisasi membutuhkan.
“Mugi-mugi kader-kader yang sekarang di PKL ini, apa niku? Pelatihan kepemimpinan lanjutan, mudah-mudahan sehat semuanya, panjang umur semuanya, bisa khidmat semuanya di Nahdlatul Ulama,” ujar KH. Hilmi Aljumadi.
Menurutnya, PKL harus mampu menghasilkan kader yang tidak hanya memahami organisasi, tetapi juga memiliki kesiapan untuk mengabdi dan menjalankan amanah.
“Ke depan kita ayem, kita senang, punya kader-kader yang benar-benar bibit-bibit unggul dari yang paling dasar,” tutur KH. Hilmi Aljumadi.
Ia menegaskan, kader yang telah mengikuti PKL diharapkan memiliki kesiapan ketika NU membutuhkan tenaga dan pikirannya, khususnya di Kabupaten Bojonegoro.
“Kalau jadi PKL seperti ini, insyaallah sak wayah-wayah kapanpun NU butuh, sudah siap untuk ditampilkan di wajah-wajah terutama di Kabupaten Bojonegoro,” kata KH. Hilmi Aljumadi.
KH Hilmi Tekankan Nilai Tasamuh dan Tawazun
Dalam sambutannya, KH. Hilmi juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan, kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat. Menurutnya, kader NU harus mampu mengamalkan nilai tasamuh, tawasuth dan tawazun.
“Jiwanya ada tasamuh, ada tawasut, ada tawazun, yang bisa ngemong sesama Islam maupun non-muslim,” ujar KH. Hilmi Aljumadi.
Ia menilai nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari karakter NU dalam menjaga kehidupan masyarakat dan kebangsaan.
“Benar-benar yang mengawal NKRI, yang benar-benar menjadi apa? Pendinginlah suasana-suasana sekarang kan panas-panas,” tutur KH. Hilmi Aljumadi.
Karena itu, ia mengajak kader untuk membangun suasana yang damai dan rukun dengan siapapun.
“Jadi, kita butuh ketenangan, butuh damai, butuh rukun dengan siapapun,” kata KH. Hilmi Aljumadi.

Musaffa: Cinta kepada Ansor Harus Melahirkan Kepedulian
Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur H. Musaffa Safril menekankan bahwa kecintaan terhadap organisasi harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian nyata terhadap sesama kader.
Musaffa bahkan menceritakan kehadirannya dalam pembukaan PKL meski sebelumnya mendapat anjuran dokter untuk beristirahat. Ia mengaku tetap datang karena kecintaannya kepada GP Ansor dan para kader.
“Saya cinta terhadap Ansor, walaupun tadi malam saya diwanti-wanti betul oleh dokter tidak boleh ke mana-mana, harus istirahat total,” kata Musaffa Safril.
Ia kemudian mengajak peserta PKL memahami bahwa kecintaan terhadap Ansor dan NU juga berarti mencintai serta menjaga warisan perjuangan para ulama.
“Sinau, bahwa panjenengan ini benar-benar cinta terhadap warisan para ulama, cinta terhadap warisan para anbiya,” ujar Musaffa Safril.
Menurutnya, kecintaan tersebut harus diwujudkan dengan menjaga kaderisasi dan keberlangsungan perjuangan NU.
“Cinta terhadap warisan yang diwariskan oleh Mbah Hasyim Asy’ari, kita jaga bersama-sama kadernya para ulama ini, sahabat-sahabat sekalian,” tutur Musaffa Safril.
Jiwa Korsa Tidak Cukup dengan Yel-Yel
Musaffa menegaskan, salah satu kekuatan GP Ansor adalah jiwa korsa dan semangat satu komando. Namun, menurutnya, jiwa korsa tidak cukup dibangun hanya melalui yel-yel.
Jiwa korsa harus tumbuh melalui kepedulian dan solidaritas antarkader, terutama ketika ada kader yang sedang menghadapi persoalan.

“Jiwa korsa bisa lahir daripada kepedulian, tumbuh dari solidaritas dan teruji ketika ada kader yang sakit, panjenengan hadir, hadir di antara kebutuhan-kebutuhan sahabat-sahabat yang lain,” kata Musaffa Safril.
Ia menjelaskan, PW GP Ansor Jawa Timur memiliki sejumlah program sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap kader. Salah satunya adalah program Buser atau Bantuan untuk Banser.
Program tersebut, kata Musaffa, menjadi salah satu cara organisasi membangun jiwa korsa melalui kepedulian nyata.
“Nah, itulah dari situ kemudian sahabat-sahabat sekalian, cara kita membangun jiwa korsa itu, membangun dari kepedulian, tidak hanya dengan yel-yel,” ujar Musaffa Safril.
Kaderisasi untuk Membentuk Karakter
Musaffa juga menekankan bahwa kaderisasi bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Kaderisasi harus menjadi ruang untuk menempa karakter sebelum seorang kader menerima amanah kepemimpinan.
Ia mengambil pelajaran dari kisah Nabi Adam AS yang dipersiapkan sebelum menerima amanah sebagai khalifah di muka bumi.
“Dari sini kita belajar, bahwa manusia tidak lahir langsung menjadi pemimpin. Ia harus ditempa, diajari, diuji, dan kemudian diberi amanah,” tutur Musaffa Safril.
Karena itu, proses kaderisasi di GP Ansor harus mampu membentuk kader yang matang dan memiliki ketahanan dalam menghadapi dinamika organisasi.
“Maka kaderisasi ini selain menanamkan ilmu pengetahuan, adalah menempa karakter sahabat-sahabat sekalian biar tidak baperan,” kata Musaffa Safril.
Ia mengingatkan bahwa kader yang nantinya menerima amanah kepemimpinan harus memiliki mental yang kuat dan tidak mudah terbawa persoalan personal.
“Sahabat-sahabat sekalian, maka kaderisasi ini dalam rangka membentuk karakter panjenengan menjadi kuat, agar kemudian nanti tidak baperan,” ujar Musaffa Safril.
Kaderisasi Tidak Berhenti Setelah PKL
Musaffa mengingatkan peserta agar tidak menganggap proses kaderisasi selesai setelah mengikuti seluruh rangkaian PKL dan pembaiatan.
Menurutnya, proses kaderisasi justru akan terus berlangsung ketika kader kembali menjalankan amanah di struktur organisasi masing-masing.
“Ikuti kaderisasi ini dengan baik. Bukan hanya ketika hari ini panjenengan masuk dan nanti setelah pembaiatan,” kata Musaffa Safril.
Ia menegaskan, proses kaderisasi harus dibawa dalam praktik kehidupan organisasi di tingkat cabang maupun anak cabang.
“Tapi kaderisasi itu berjalan sampai panjenengan pulang dan kembali ke PC-nya masing-masing, PAC-nya masing-masing,” tutur Musaffa Safril.
Menurutnya, materi yang diterima dalam PKL merupakan bekal awal. Sementara proses belajar dan ujian sesungguhnya akan berlangsung ketika kader menjalankan tugas organisasi di lapangan.
“Tapi ajaran yang sesungguhnya, belajaran yang sesungguhnya, ujian yang sesungguhnya ketika panjenengan jadi pengurus di pimpinan cabang, jadi pengurus di pimpinan anak cabang,” ujar Musaffa Safril.
Musaffa mengajak seluruh peserta membangun GP Ansor dengan kebaikan hati, menjaga hubungan antarkader dan menghindari perilaku yang dapat membuat suasana organisasi menjadi keruh.
“Mari kita ber-Ansor dengan kebaikan hati, sahabat-sahabat sekalian,” kata Musaffa Safril.(Red)













