Oleh : Ibnu Khakim, MHI
Pemilukada serentak sudah di depan mata, hiruk pikuk kampanye menggema diseluruh pelosok daerah, poster dan banner berbagai ukuran berbaris rapi di sepanjang jalan kota maupun desa, bahkan tidak sedikit yang kondisinya sudah rusak dan tidak beraturan, pemandangan ini sangat lazim setiap menjelang hajatan demokrasi disemua lini dan tingkatan.
Terlepas dari hal tersebut, masyarakat tentu menginginkan lahirnya pemimpin yang bisa membawa ke arah masa depan yang lebih baik, lebih sejahtera, lebih adil dan makmur secara merata. Pemimpin yang mampu membuka akses kemudahan dalam pekerjaan, pendidikan dan kesehatan, sejuta asa dan harapan selalu muncul setiap lima tahunan.
Pemimpin yang baik bukanlah lahir secara instant dan karbitan, teringat akan kisah luhur dan abadi sepanjang zaman yaitu kisah dari Ali bin al-Ma’mun al-Abbasi dikenal sebagai seorang gubernur dan putra seorang khalifah.
Ia menjalani hidup mewah di sebuah istana yang besar, apa pun yang ia inginkan di dunia ini dengan mudah ia peroleh. Suatu hari, ia melongok ke bawah dari balkon istananya. Ia melihat seseorang yang sedang bekerja keras di ladang. Orang itu terlihat sangat bahagia dengan pekerjaannya. Dia bekerja penuh semangat. Pada hari-hari berikutnya, Ali terus memerhatikan orang yang bekerja di ladang itu. Dia sangat tertarik melihat orang yang selalu bekerja sejak pagi itu. Dia begitu rajin dan tak pernah mengeluh. Di sela-sela kesibukannya, dia tetap melaksanakan shalat lima waktu.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai diri orang itu, Ali mengundangnya ke istana. Ia mengajukan beberapa pertanyaan, hingga akhirnya Ali mengetahui si pekerja itu mempunyai seorang istri, dua adik perempuan, dan ibu yang semuanya berada di bawah tanggungannya. Untuk membiayai mereka, ia harus bekerja keras.
Mengetahui hal itu, Ali semakin kagum terhadapnya. Ia tak bisa membendung hasratnya untuk mengenal orang itu lebih jauh lagi. “Adakah sesuatu yang bisa membuatmu mengeluh?” Orang itu menjawab, “Tidak, Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Ali terpesona dengan jawaban ringkas nan padat yang disampaikan orang itu, Ali pun memutuskan untuk meninggalkan istananya dan mundur dari jabatannya sebagai gubernur. Ia mengembara dari satu kota ke kota lain, untuk melihat lebih dekat kehidupan rakyat kecil. Ia menemukan ketenangan batin dan kebahagiaan sejati kala menjadi rakyat jelata.
Selama pengembaraannya, Ali merasakan langsung denyut nadi kehidupan rakyat kecil. Ia bekerja menjadi seorang tukang kayu dan mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah diraihnya saat berada di istana. Hingga ia pun memilih hidup sederhana hingga akhir hayatnya di daerah Khurasan. Sosok pemimpin seperti Ali, mungkin sudah sulit ditemukan saat ini. Kita tentu tidak menginginkan pemimpin kita pergi dan meninggalkan jabatannya. Kita ingin mereka tetap di posisinya untuk memimpin rakyatnya menuju kehidupan yang lebih baik.
Untuk menempa diri, calon pemimpin harus berusaha tau apa yang di inginkan rakyat, harus memahami keluh kesan dan problematikanya, dan hal itu hanya didapat dengan cara turun langsung atau dalam bahasa Agama dinamakan Silaturahim. Silaturahmi merupakan konsep yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Istilah ini dalam KBBI diartikan sebagai ‘tali persahabatan atau persaudaraan’, sedangkan bersilaturahmi artinya ‘menjalin kembali tali persahabatan’. Dalam teks-teks hadits kita mendapati banyak anjuran dan pesan Nabi saw akan urgensi silaturahmi. Misalnya beliau bersabda bahwa silaturahmi dapat membuka pintu rejeki. Sabda Nabi Muhammad Artinya, “Siapapun ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR Al-Bukhari).
Sebagai negara yang menganut sistem presidensial, kepala pemerintahan dipilih secara langsung oleh rakyat. Setelah era Reformasi, Indonesia menerapkan sistem pemilihan pemimpin secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Masa jabatannya adalah 5 tahun, dan setelah menjabat selama satu periode, dapat mencalonkan diri kembali dalam pemilihan berikutnya untuk satu kali masa jabatan. Tidak hanya sekadar hajatan lima tahunan, Pemilukada 2024 untuk menentukan keberlangsungan Bojonegoro sebagai Kabupaten terkaya nomor dua di Jawa Timur, dan itu membutuhkan peran pemimpin yang cakap dan sensitif. Pasalnya, saat ini Bojonegoro dihadapkan pada pelbagai tantangan yang terbilang cukup komplek. Pelbagai isu ketimpangan dan isu tak sedap lainnya mewarnai perjalanan Bojonegoro.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro 2024 tembus sekitar Rp 8,7 triliun. Namun, angka kemiskinan di Bojonegoro masih di nomor 27 dari 38 kabupaten/kota se Jawa Timur (Jatim). Butuh kebijakan serius untuk fokus pengentasan kemiskinan. Merujuk pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023, jumlah data kemiskinan di Bojonegoro telah ditetapkan sebanyak 54.574 kartu keluarga (KK) atau ekuivalen dengan 153.253 jiwa atau sebesar 12,18 persen.
Seorang calon pemimpin harus sering turun menyapa seluruh lapisan rakyat, bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, tetapi juga membangun keterikatan dengan rakyat sehingga semua aspirasi terserap dengan baik, bukan calon yang hanya ongkang-ongkang kaki di rumah saja. Masyarakat semacin cerdas dan pintar, jika calon pemimpin lengah, tidak mau turun langsung dan hanya mengandalkan tim suksesnya, kecil kemungkinan akan terpilih dan bisa memikat hati rakyat. Calon pemimpin harus mampu memberi kesan bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang ada serta merepresentasikan diri sebagai bagian dari masyarakat.
Sebab, kepemimpinan itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Rasul SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin.”
*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, adalah Intelektual Muda dan Instruktur NU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.













