Peran Santri dalam Pemilihan Kepala Daerah Seperti Apa Idealnya?

Oleh : Ibnu Khakim, MHI

Menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 27 Nopember 2024, kehadiran santri dinantikan, sebagai pemilih yang bisa mendulang suara kemenangan, santri dinilai mempunyai kapasitas dan peran untuk itu, perjuangan, kiprah dan nasionalisme santri tidak perlu diragukan lagi karena sudah terbukti sejak dulu.

Kehadiran para santri sangat dirindukan untuk mengabdi kepada ibu pertiwi mencurahkan pikiran dan energinya dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umum, menjaga keutuhan dan persatuan umat di tengah situasi saat ini yang penuh dengan berbagai fitnah, apalagi menjelang Pemilukada ini.

Santri diharapkan bisa menjadi penggerak dan pionir perdamaian yang menerangi serta penyejuk di tengah masyarakat, menjadi duta moderasi dalam membawa pemahaman agama maupun menjadi contoh dalam berpolitik.

Sejarah telah membuktikan bahwa santri tidak hanya muncul sebagai kaum intelektual, namun juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Santri memiliki kemampuan dan skill masing-masing yang dapat mengembangkan sayapnya di tengah-tengah masyarakat. Tentunya, masyarakat menaruh harapan kepada santri untuk memberikan nuansa religius dan santun dalam berbagai kegiatan perpolitikan, khususnya pada pemilukada kali ini. Dengan paradigma tersebut santri diharapkan bisa menyuarakan kebenaran.

Bagi para santri, mengikuti Pemilukada 2024 hukumnya fardu kifayah atau wajib, baik itu memilih atau mendukung calon pemimpin rakyat yang baik, santri ikut dalam politik itu penting karena memang perlu menyampaikan aspirasi politiknya bagi yang sudah berhak, rusaknya sebuah negara bisa jadi karena orang baik yang tidak berkiprah untuk kebaikan negaranya.

Para santri yang ingin memilih pemimpin hendaknya membawa nilai moral yang baik dan azas pragmatis yang tetap di bawah idealisme. Kepentingan besar harus diutamakan demi bangsa, negara, masyarakat dan umat.

Dengan beragamnya dinamika seputar tahun politik ini, perpecahan pun kerap terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, untuk menjaga kestabilan kondisi bermasyarakat, seluruh pihak harus aktif berperan termasuk para santri, jangan sampai menganggap yang tidak se aspirasi itu musuh. Begitu juga dengan politik identitas supaya tidak menjadi isu politik yang memecah belah masyarakat.

Kaum santri juga harus memberikan pencerahan agar masyarakat tidak terjebak dengan pilihan-pilihan pada kontestan pemilukada yang memiliki potensi sebagai kekuatan antidemokrasi atau berseberangan dengan spirit resolusi jihad.

Santri juga diharapkan mampu menghindari Fanatisme buta, agar tidak terjadi konflik horizontal, Karena semakin tinggi fanatisme seseorang terhadap kandidatnya, ditakutkan akan melahirkan konflik horizontal.

Peran para kiai dan ulama adalah teladan pokok bagi para santri , Jika para kiai sudah bertitah siapa calon wakil rakyat yang tepat untuk dipilih, maka dari situ akan banyak diikuti oleh para santrinya. Untuk para santri sendiri harus bisa menjadi bagian dari perubahan bangsa Indonesia karena perjuangan bangsa Indonesia ini juga terbentuk dari jasa pendiri ulama, santri dan tokoh-tokoh agama di Indonesia.

Tujuan pokok para santri adalah ikut aktif menjaga Agama Islam (himayah diniyah) dengan belajar dan mengaji dengan serius (tafaqquh fiddin) dan menjaga negara ini supaya tetap aman, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak terganggu (himayah daulah), dan masyarakat tidak saling bermusuhan, semua bersaudara, ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) jangan sampai terkoyak.

Selain tujuan pokok di atas santri zaman milenial sekarang ini juga dituntut untuk mampu berperan aktif dan nyata dalam semua lini kehidupan utamanya agama, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan teknologi informasi, santri dituntut mampu berperan aktif baik dalam politik kekuasaan lebih utama lagi politik kebangsaan, santri juga diharapkan mampu mengedukasi teman segenerasinya untuk tumbuh menjadi Insan Kamil, yakni manusia ideal, yang mampu berpolitik dengan menyeimbangkan dan mempertimbangkan tujuan kebaikan antara dunia dan akhirat agar sukses dan bahagia dikedua alam tersebut.

 

*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, adalah Intelektual Muda dan Instruktur NU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *