JagatSembilan.com | Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro diberikan keberkahan hasil Bumi yang sangat melimpah. Produksi minyak Bojonegoro hingga saat ini tela mencapai 690 juta barel atau sekitar 109,7 miliar liter minyak bumi (Radar Bojonegoro, April 2025), menjadikannya salah satu daerah yang berkontribusi pada ketahanan energi nasional.
Belum lagi cadangan dan produksi gas bumi yang terus mendukung kebutuhan industri nasional.
Di sektor pangan, Bojonegoro menempati peringkat ketiga di Jawa Timur dengan total produksi padi mencapai 410.273 ton pada tahun 2024, dan secara konsisten surplus untuk pasar domestik (BPS, 2025). Ditambah lagi beragam hasil bumi lain seperti buah, kayu, dan rempah membuktikan kekayaan alam Bojonegoro yang harus kita syukuri.
Konsep “sedekah bumi” sebagai kearifan lokal mengingatkan kita bahwa alam tak hanya berhak untuk dieksploitasi, tetapi juga perlu diperhatikan dan dipelihara. Sedekah bumi bukan sekadar ritual sesaat, melainkan panggilan hati untuk memberi kembali dengan menanam pohon, menjaga kualitas tanah, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
Padahal, kita sejatinya adalah yang selalu disedekahi oleh bumi, seperti hasil bumi yang melimpah, sumber daya alam yang selalu kita ambil manfaatnya, serta oksigen yang selalu kita hirup setiap hari.
Sedekah bumi semestinya menjadi momentum bagi kita untuk menunaikan tanggung jawab moral terhadap bumi, walau terkadang bertabrakan dengan kebutuhan hidup sehari-hari, walau perhatian publik minim, dan meski kontribusi kita tampak kecil.
Sayangnya, gempuran eksploitasi semakin membuat kita lupa bagaimana berkontribusi. Penebangan pohon tanpa henti terus terjadi, sementara kegagalan mengembalikan fungsi hutan dengan sebab kurangnya dukungan petani hutan, perubahan tanaman produksi hutan, industrialisasi dan kurangnya intervensi pemerintah daerah terhadap hutan baik di hulu dan di hilir selalu menjadi cerita deforestasi kawasan hutan Bojonegoro.
Sebagai wujud kecil namun nyata, bertempat di Kawasan Agrosilvopastura desa Ngasem-Bojonegoro, pada 22 April 2025 IDFoS Indonesia bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan Ngasem Barokah Desa Ngasem Bojonegoro, Perhutani KPH Bojonegoro berkolaborasi menanam 100 pohon alpukat serta 100 pohon asem, mendemonstrasikan plot pertanian waluh organik.
Selain itu juga ikut terlibat ada PT Pertamina EP Cepu, Cabang Dinas Kehutanan Bojonegoro, Lazis NU Bojonegoro, LazisMU Bojonegoro, Nurul Hayat, Pemerintah Desa Ngasem, Poltana Mapena Tuban, dan LPPM Universitas Bojonegoro.
Semua yang hadir juga berkomitmen merawat lebih dari 3.000 tanaman hasil penanaman dua tahun silam.
Untuk itu, dalam semangat refleksi Hari Bumi 2025, mari kita mulai dengan menanam minimal delapan pohon untuk setiap anggota keluarga, dan mengurangi sampah plastik.
Untuk pemerintah, dengan kekuatan fiskal Kabupaten Bojonegoro yang luar biasa, pastinya dapat menjamin hak masyarakatnya untuk mendapat lingkungan yang baik dengan meningkatkan program untuk perbaikan alam seperti penghijauan kembali, konservasi hutan, dan pengelolaan sampah terfasilitasi dengan baik. Sekecil apa pun langkah kita, kita harus memulai mewariskan tekad konservasi kepada generasi mendatang.














