JagatSembilan.com | Tuban – Perwakilan organisasi petani dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti pelatihan bertajuk Panduan Mengisi KoboCollect sebagai Alat untuk Monitoring, Evaluasi, dan Pembelajaran Organisasi yang diselenggarakan oleh Seknas Aliansi Petani Indonesia (API) secara daring melalui Zoom, Selasa (28/7/2026).
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas organisasi petani dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung proses pengumpulan data lapangan secara lebih cepat, akurat, dan terintegrasi. Melalui aplikasi KoboCollect yang terhubung dengan platform KoboToolbox, peserta dibekali kemampuan melakukan pendataan sebagai dasar monitoring, evaluasi, sekaligus pembelajaran organisasi.
Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari sejumlah organisasi petani, di antaranya Koperasi Produsen Serikat Petani Tuban, APPOLI (Asosiasi Petani Padi dan Palawija Boyolali), Amartapadi (Asosiasi Masyarakat Petani Padi) Blitar, Koperasi MSA Tasikmalaya serta Amartapadi Indramayu.
Dalam pelatihan, peserta mendapatkan pendampingan mengenai tata cara pengisian formulir digital menggunakan KoboCollect, mulai dari proses instalasi aplikasi, sinkronisasi data, hingga pengiriman hasil pendataan ke server KoboToolbox. Sistem ini diharapkan mampu menggantikan pencatatan manual sehingga data organisasi menjadi lebih rapi, mudah dianalisis, dan dapat diakses secara real time.
Ketua Koperasi Produsen Serikat Petani Tuban, Wakhid Hasyim, menyambut baik pelatihan tersebut. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital menjadi kebutuhan penting bagi organisasi petani agar mampu menyajikan data yang valid sebagai dasar penyusunan program dan pengambilan kebijakan.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi organisasi petani. Selama ini banyak data yang masih dicatat secara manual sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk direkap. Dengan KoboCollect, proses pendataan menjadi lebih praktis, akurat, dan dapat dipantau secara langsung. Kami berharap kemampuan ini bisa diterapkan oleh seluruh anggota sehingga organisasi memiliki basis data yang kuat untuk mendukung program pemberdayaan petani,” ujar Wakhid. Kamis (30/07/2026).
Ia menambahkan, data yang akurat merupakan salah satu kunci dalam memperjuangkan kepentingan petani, baik dalam penyusunan program organisasi maupun saat menjalin komunikasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya.
Melalui pelatihan ini, Aliansi Petani Indonesia berharap setiap organisasi anggota mampu membangun sistem monitoring dan evaluasi yang lebih efektif berbasis data digital. Dengan demikian, setiap program yang dijalankan dapat diukur tingkat keberhasilannya sekaligus menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendampingan kepada petani di berbagai daerah.(Red)














