Film “Suba Manggala: Sang Penuntun Jalan” Angkat Isu Gender dan Tradisi Jawa Segera Syuting di Bojonegoro

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Tahapan pra produksi film Suba Manggala: Sang Penuntun Jalan resmi dimulai hari ini, Rabu (12/11/2025), di Gedung Bojonegoro Creative Hub (BCH) Jalan Pemuda, Bojonegoro. Kegiatan pra produksi ini terdiri dari latihan acting dan pendalaman materi. Film ini digarap oleh sutradara sekaligus penulis muda dari Bojonegoro, Hafiz Subhan berkolaborasi dengan Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro, Bojonegoro Creative Network dan Konunitas Film Bojonegoro. Film ini diharapkan menjadi salah satu karya lokal yang mengangkat nilai budaya Jawa sekaligus isu kemanusiaan dengan pendekatan sinematik yang lembut dan reflektif.

Film Suba Manggala mengisahkan perjuangan Ipung, seorang pemuda 28 tahun yang berprofesi sebagai cucuk lampah—pemandu prosesi pengantin dalam tradisi Jawa—yang berdandan wanita. Konflik muncul ketika ia harus memimpin arak-arakan pernikahan mantan kekasihnya sendiri, Anisa, di tengah penolakan keras dari ayah sang mantan terhadap profesinya. Di balik kisah sederhana itu, tersimpan pergulatan batin antara cinta, stigma, dan profesionalitas seorang seniman yang berusaha tetap tegar di hadapan tradisi dan pandangan sosial yang menekan.

Hafiz Subhan: “Film ini tentang keberanian menjadi diri sendiri”

Penulis naskah sekaligus sutradara film Subamanggala, Hafiz Subhan, mengatakan bahwa ide film ini lahir dari kegelisahannya terhadap cara masyarakat memandang ekspresi gender dan profesi yang dianggap tidak lazim bagi laki-laki.

“Saya menemukan paradoks, di mana peran budaya seperti cucuk lampah yang sesungguhnya luhur dan sakral, justru dipandang rendah ketika diperankan laki-laki yang berdandan feminin,” ujar Hafiz Subhan.

“Lewat Suba Manggala, saya ingin menampilkan sisi manusiawi seorang pekerja seni yang tetap berdiri tegak, walau batinnya luka. Ini bukan sekadar kisah cinta yang kandas, tapi kisah tentang harga diri, penerimaan, dan keberanian menjadi diri sendiri.”

Ia menambahkan bahwa film ini akan dibangun dengan pendekatan realis, memanfaatkan keheningan dan tatapan untuk menggambarkan kedalaman batin tokoh utama.

“Saya percaya bahwa diam, senyum, dan air mata yang tertahan bisa bicara lebih jujur daripada dialog panjang,” tambahnya.

David Kriss: “Kisah yang sederhana tapi menggugah”

Sementara itu, David Kriss, selaku produser film, menyampaikan bahwa Suba Manggala merupakan karya yang berani karena berangkat dari realitas sosial yang jarang diangkat di layar lebar, terutama dalam konteks budaya Jawa.

“Film ini bukan tentang sensasi, tapi tentang empati. Kami ingin menghadirkan kisah sederhana yang bisa menyentuh hati penonton,” ungkap David Kriss.
“Suba Manggala adalah cermin dari banyak orang yang tetap tersenyum di tengah penolakan. Ia menggambarkan bagaimana manusia bisa tetap menjalani hidup dengan bermartabat, meski dunia tak selalu menerimanya.”

David juga mengapresiasi dukungan Dinas Pariwisata dan Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro yang telah memberi ruang bagi sineas lokal untuk berkarya.

“Pra produksi ini menjadi langkah awal untuk menunjukkan bahwa Bojonegoro punya potensi besar dalam dunia film, bukan hanya dari sisi budaya, tapi juga dari sisi gagasan,” pungkasnya.

Dengan dimulainya pra produksi hari ini, tim produksi menargetkan proses syuting akan dimulai pada pertengahan bulan jni. Film Suba Manggala: Sang Penuntun Jalan diharapkan dapat menjadi karya reflektif yang membawa pesan kuat tentang penerimaan, keberanian, dan kemanusiaan dalam bingkai tradisi Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *