Oleh : Ahmad Jakfar Almansur (Ketua MWCNU Padangan)
Prinsip satu komando adalah landasan utama yang memastikan seluruh anggota bekerja dalam harmoni, layaknya saklar yang ketika ditekan, menyalakan setiap lampu secara serempak. Begitu pula dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), setiap individu, mulai dari pemimpin hingga anggota, harus bertindak dengan keselarasan yang sempurna. Maka prinsip satu komando di NU adalah harga mati.
Tidak ada ruang bagi keraguan, kebingungan, atau ketertinggalan. Semua harus bergerak dalam ritme yang sama, dengan tujuan yang telah disepakati bersama dalam organisasi NU.
Tak ada langkah yang keluar dari garis komando, seperti aliran listrik yang menyatukan setiap lampu dalam satu jaringan, setiap anggota organisasi NU harus terhubung dalam semangat dan komitmen yang sama. Ketika keputusan diambil oleh pemimpin, itu harus diikuti dengan penuh tanggung jawab oleh seluruh tim. Setiap lembaga, banom bahkan sampai individu harus memahami perannya dengan jelas, dan semua tindakan harus terkoordinasi dengan rapi. Tanpa ada yang berjalan sendiri-sendiri.
Inilah kekuatan dari satu komando dalam organisasi NU. Ketika semua tindakan selaras, maka cahaya yang dihasilkan tidak hanya menerangi satu bagian kecil, melainkan menyinari seluruh ruangan. Tujuan organisasi NU dapat dicapai dengan lebih efisien, tanpa gangguan dari konflik internal atau karena miskomunikasi.
Kesatuan tindakan, dengan arahan yang jelas dan komitmen penuh dari setiap anggota, adalah kunci keberhasilan dalam mencapai visi dan misi bersama. Tanpa kesatuan ini, organisasi akan kehilangan arah, seperti lampu-lampu yang padam satu per satu karena aliran listriknya terganggu.
Oleh karena itu, satu komando adalah pilar penting dalam sebuah organisasi yang ingin tumbuh kuat, solid, dan berhasil. Setiap anggota harus memahami pentingnya peran mereka dalam menciptakan sinergi, sehingga setiap langkah yang diambil bersama-sama menghasilkan dampak besar dan positif bagi keseluruhan organisasi.
Sebagai bagian dari NU yang kecil, kita wajib patuh terhadap keputusan yang dihasilkan oleh tingkatan yang lebih tinggi. Prinsipnya adalah samikna wa atokna. Di NU sendiri jika menyalahgunakan kekuasaan pasti ada khurafatnya. Karena kita meyakini bahwa NU itu masih dijaga oleh pendirinya (min Auliya illah).
Tentang Penulis:
Ahmad Jakfar Almansur adalah Ketua MWCNU Padangan. Saat ini sedang menyelesaikan program doktoral di Unisma Malang. Penulis juga Wakil Ketua PC GP Ansor Bojonegoro














