Oleh: Sunariyo
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggencarkan upaya pengentasan kemiskinan melalui program-program berbasis pemberdayaan ekonomi keluarga. Salah satu inovasi yang tengah dirancang adalah Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri), yang bertujuan meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga dengan membudidayakan ayam petelur secara mandiri.
Program ini dinilai relevan dengan kondisi lokal, karena memanfaatkan potensi peternakan rakyat sebagai basis penghidupan yang dapat dikembangkan dari skala rumah tangga.
Namun demikian, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kecermatan dalam perencanaan dan eksekusi, terutama terkait faktor produksi seperti lahan, modal, sumber daya alam, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.
Budidaya ayam petelur bukanlah kegiatan yang bisa dijalankan secara instan, melainkan memerlukan pemahaman yang memadai mengenai manajemen pemeliharaan ternak, pengelolaan keuangan usaha, hingga strategi pemasaran hasil produksi.
Oleh karena itu, pelatihan teknis dan pendampingan berkelanjutan menjadi syarat mutlak agar program ini tidak berhenti hanya sebagai bantuan sementara.
Analisis finansial sederhana menunjukkan bahwa dengan 70 ekor ayam per rumah tangga, rata-rata produksi telur hanya mampu menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp 36.800 per hari. Nilai ini belum mencukupi untuk menopang kebutuhan hidup dasar, apalagi jika ditujukan sebagai sumber utama pendapatan keluarga.
Dalam kondisi ini, keberlanjutan usaha menjadi rentan, terutama jika terjadi penurunan produktivitas atau kematian ayam yang dapat mengganggu siklus produksi dan menyebabkan rumah tangga kembali terjerat kemiskinan.
Belajar dari berbagai program serupa, desain Program Gayatri perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan. Skala usaha yang layak secara ekonomi, yakni minimal 300 ekor ayam per rumah tangga, harus menjadi acuan dalam uji coba program.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan adanya strategi pengelolaan risiko sejak awal, termasuk dalam aspek penyediaan pakan, manajemen kesehatan ayam, dan perencanaan regenerasi produksi pasca ayam afkir. Tanpa skema ini, program berisiko gagal dan menjadi beban baru bagi penerima manfaat.
Akhirnya, penting untuk membuka ruang fleksibilitas dalam program pengentasan kemiskinan. Budidaya ayam memang menjadi salah satu alternatif, tetapi bukan satu-satunya solusi. Setiap desa memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda, sehingga program harus memberi pilihan berbasis lokalitas.
Pendekatan open menu terbatas akan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam memilih dan mengelola usaha yang sesuai dengan kondisi riil mereka, sekaligus memperkuat akar kemandirian ekonomi di tingkat desa.
Penulis adalah Sunariyo Ketua Divisi Pemberdayaan Masyarakat dan Ekonomi Kerakyatan IDFoS Indonesia














