Oleh : Ibnu Khakim, MHI
Memasuki bulan Oktober ini, nuansa santri menjadi topik dan templete di pelbagai laman informasi online, karena memang nanti tanggal 22 Oktober adalah peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang tahun ini mengusung tema besar ”Merengkuh Juang, Menyambut Masa Depan”.
Secara umum dalam dasawarsa terakhir ini kita melihat kondisi zaman dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat secara besar-besaran telah merubah hampir seluruh aktivitas kehidupan manusia. Dengan cepatnya globalisasi itu, norma dan budaya asli Indonesia kini sudah banyak ditinggalkan. Kemaksiatan ada di mana-mana, pergaulan tak mengenal batas, dan terjadi di kalangan remaja yang masih labil. Hal seperti itu sudah dianggap wajar bagi sebagian kalangan masyarakat.
Orang tua ingin sekali melihat anaknya sukses baik dunia maupun akhirat, berbakti kepadanya, dan apa saja yang bersifat baik, sehingga mereka berinisiatif mendidik anaknya melalui Pesantren, sebuah lembaga kuno yang menjadi pondasi awal pendidikan di Indonesia, lembaga yang memadukan pola fikir yang tajam dan dzikir yang serius, lembaga yang metodenya kini di adopsi lembaga-lembaga pendidikan dunia modern Internasional.
Tujuan utama adanya pesantren adalah untuk memperdalam ilmu agama (tafaqquh fiddin), sebagaimana Firman Alloh SWT : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122).
Mainstream inilah yang mengawali para Ulama dan Kyai merintis Pesantren, murni menjaga Agama agar tetap lestari dan benar dalam pemahaman dan pengamalan masyarakat luas, inilah yang kemudian di istilahkan Santri Salaf/ Tradisional. Namun seiring perkembangan zaman, kebutuhan para santri dalam berkiprah di masyarakat mengalami problem, banyak diantara mereka tidak bisa mengambil peluang kerja dan ekonomi finansial karena terkendala ijazah formal yang selama ini memang bukan menjadi Maqsudul ’a’dzom para santri.
Berangkat dari masalah ”seputar duniawi” diatas, mayoritas Pondok Pesantren saat ini memiliki unit pendidikan formal, semua ini demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan pentingnya pendidikan, meskipun ini sebenarnya akan menggeser tujuan utama pesantren itu sendiri, banyak unit pendidikan formal didirikan secara mandiri oleh pondok pesantren mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Unit-unit pendidikan formal tersebut menggunakan kurikulum Pemerintah (Kementrian Agama atau Kementrian Pendidikan) sebagaimana umumnya, yang dalam keseharian kemudian murid pesantren ini disebut Santri Khalaf/ Modern.
Dampak dari kenyataan tersebut, sehingga kini fakta memperlihatkan, hampir tidak ada santri yang benar-benar ahli dalam bidang agama, dan hampir tidak ada yang tidak menyambi sekolah formal baik jalur formal resmi/ regular, paket ataupun mu’adalah (kesetaraan) yang memang difasilitasi Negara. Mereka sebenarnya masih ingin ngaji dengan serius dan focus, namun dalam diri mereka juga ada semacam ketakutan jika tidak bisa mendapat profesi kerja yang layak sebagaimana teman seusianya.
Syaikh Muhammad bin Al-fadhl Al-bukhari Al-Balkhi dalam kitab Al-I’tisham karya Imam Syathibi, menjelaskan beberapa faktor permasalahan Islam sehingga terkesan mengalami perubahan kearah kemunduran ;
Pertama, la ya’maluna ma ya’lamun, Islam mundur karena umat Islam tidak mau mengamalkan apa yang diketahui. Kedua, tidak mau belajar hal yang tidak diketahui. Ketiga, La yata’llamuna ma la ya’lamun, yakni tidak tahu apa yang akan dilakukan, dan yang keempat, yamna’un an-nas ‘ani at tta’alumi, menghambat manusia atau orang lain dari belajar lebih lanjut.
Ini masalah klasik yang sudah sama-sama kita ketahui berikut solusinya, namun langkah kongkrit dari pemangku Pesantren, Pemerintah dan Masyarakat secara umum masih jauh panggag dari pada api, belum sampai pada solusi, masih berputar-putar pada diskusi dan seminar, belum optimal mengeksekusi.
Kondisi inilah yang tengah dihadapi belantara Pesantren. Di satu sisi masyarakat menginginkan perubahan dalam diri pesantren. Namun ketika sebagian pesantren berubah, banyak yang tidak setuju bahkan kecewa dengan outputnya, mondok bukannya jadi bener malah jauh dari harapan.
Merenungi masalah komplek Pesantren, teringat akan Sabda Nabi Muhammad : “Manusia terbaik adalah manusia di masaku lalu yang setelah mereka lalu setelah mereka”. (HR. Bukhari – Muslim). Artinya semakin lama, mendekati hari akhir, kualitas manusia menurun, meskipun permukaan tampak maju dan memukau, hanya kepada Alloh kita berserah diri.
*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, Intelektual Muda dan Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.













