Oleh : Ibnu Khakim, MHI
Sebagian masyarakat kita beranggapan jika belajar agama terus, ngaji terus, besok kalau sudah menikah mau kerja apa? keluarga dinafkahi dari mana? pertanyaan diatas dan semacamnya masih menjadi momok bagi sebagain dari kita, dan ditambah realita yang ada dan terjadi terkadang membuat orang tua dan juga anaknya sendiri menjadi ragu untuk melanjutkan belajar di pondok pesantren dan belajar Agama dalam waktu yang panjang.
Belajar Agama dengan menjadi santri adalah sebuah pilihan yang sudah ditakdirkan Alloh SWT kepada sebagian umat manusia, Agama Islam adalah agama yang memuliakan orang-orang berilmu, dan menuntut ilmu adalah salah satu kewajiban bagi setiap orang Islam.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah : “ Mencari ilmu diwajibkan bagi semua orang Islam ”. Ya, menuntut ilmu menjadi kewajiban bagi setiap umat Islam, laki-laki ataupun perempuan dan ilmu yang dimaksud tidak hanya mengenai ilmu agama saja, melainkan semua ilmu juga perlu untuk dipelajari, tidak ada dikotomi ilmu dalam Islam, semua ilmu bersumber dari Allah SWT.
Kemiskinan dan kekurangan mungkin dan sering beban bagi pendidikan, tapi kemiskinan bukan berarti alasan untuk tidak berpendidikan. Hal ini untuk memotivasi para santri agar tidak putus asa hanya karena ekonomi keluarganya yang pas-pasan.
Kurang tepat orang-orang yang menjadikan kekurangan ekonomi sebagai alasan untuk tidak meneruskan pendidikannya. Terbukti, sudah banyak santri-santri dari keluarga sederhana melanjutkan pendidikannya di berbagai daerah di Indonesia hingga ke penjuru dunia.
Tidak hanya penuntut ilmu yang dijamin rezekinya oleh Allah SWT, bahkan semua makhluk Allah Swt yang ada di dunia sudah dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Hud ayat 6 yang artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezeki. Dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, mengenai firman Allah Swt : “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At Talaq: 2-3).
Allah SWT dalam ayat ini menjamin akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya, Allah Swt akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rizki. Rizki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia. Rizki yang dimaksud di sini adalah rizki dunia dan rizki akhirat.
Sebagian orang mengatakan, “Orang yang bertakwa itu tidak pernah merasa fakir (miskin atau merasa kekurangan) sama sekali.” Lalu ada yang bertanya, “Mengapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Karena Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Allah SWT memberikan jaminan kepada seluruh makhluk-nya yang ada di dunia, mulai dari makhluk yang paling kecil hingga paling besar, mulai dari hamba yang taat hingga hamba yang selalu bermaksiat sekalipun.
Bayangkan, dari sekian banyak hamba- hamba Allah SWT yang bermaksiat kepada-Nya sekalipun masih Allah berikan rezeki yang tak pernah mereka duga. Lalu bagaimana dengan penuntut ilmu yang selalu menyibukkan dirinya dengan kebaikan dan ketaatan?
Setiap orang sudah memiliki bagiannya sendiri, tidak akan ada istilahnya rezeki yang tertukar. Setiap orang pasti akan menerima semua bagiannya yang sudah ditentukan oleh Allah SWT, bahkan seseorang tidak akan wafat kecuali dia sudah mendapatkan semua bagian rezekinya.
Kita harus meyakini dengan kuat bahwasanya rezeki semua makhluk yang ada di dunia ini sudah Allah SWT atur dengan sedemikian rupa. sehingga tidak perlu ada keraguan dalam hati kita seolah-olah kita ikut campur dalam mengatur rezeki dan menghakimi Tuhan atas kehendak-Nya.
Seorang yang sedang mencari ilmu tidak perlu mengkhawatirkan dengan berlebihan akan jaminan rezeki dari Allah Swt. Seorang penuntut ilmu haruslah lebih fokus dengan ilmu yang sedang ia cari, daripada memikirkan rezeki yang sebenarnya sudah Allah Swt tetapkan untuknya.
Sebab, kita sebagai manusia biasa tidak akan pernah tahu bagaimana dan kapan Allah SWT memberikan rezekiNya, Allah SWT tak mungkin ingkar dengan janji-Nya, yang paling penting dan perlu kita lakukan adalah berusaha dengan cara yang baik dan berdoa, kemudian bersyukur terhadap nikmat-nikmat yang sudah Allah SWT berikan kepada kita semua.
Jika kita membaca realita dan fakta, kemiskinan sebenarnya bisa melanda siapa saja, tidak hanya santri yang secara riil tidak mempelajari ilmu ekonomi aktual, banyak pelajar bahkan sarjana lulusan sains dan ekonomi yang kehidupan secara materi kekurangan bahkan miskin, pendidikan ilmu dunia sangat penting, namun tidak serta merta inline dengan pendapatan materi yang berkecukupan.
Sehingga jika dikalkulasi masih sangat beruntung orang yang menjadi santri, mungkin santri tidak menduduki jabatan-jabatan dan pekerjaan yang menjanjikan kekayaan, namun jaminan Alloh SWT yang pasti mencukupi kebutuhannya di dunia dan kebahagiaan di akhirat bukankah sudah lebih cukup ? walaupun mungkin tidak semua keinginan santri tercapai, namun segala kebutuhannya akan dicukupi dari dan dengan arah yang tidak terduga. Meskipun santri tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap, akan tetapi pasti akan tetap berpenghasilan. Amin.
*) Penulis _Ibnu Khakim, MHI, _Intelektual Muda dan Instruktur NU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.













