JagatSembilan.com | Bojonegoro – Dalam rangka tingkatkan produktivitas padi di Bojonegoro, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian DKPP gelar Bimbingan Teknis Budidaya Padi Hibrida, Kamis (11/12/2025) di hotel Bonero Desa Leran Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro.
Kegiatan itu sebagai evaluasi tahun 2025 dalam hal produksi padi, sekaligus untuk menyongsong tahun 2026. Kegiatan itu dihadiri langsung oleh, Nurul Azizah Wakil Bupati Bojonegoro, Zaenal Fanani Kepala DKPP Bojonegoro, drg. Sofan Solikin Sekretaris DPC HKTI Bojonegoro.
Dalam kegiatan itu juga dihadiri oleh Kepala Desa se Kecamatan Kalitidu serta perwakilan Gapoktan di wilayah Kalitidu. Rohmad Budiono pemateri dari Badan Riset Indonesia BRIN dihadirkan untuk mengisi Bimtek tersebut.
Nurul Azizah Wakil Bupati Bojonegoro dalam sambutannya mengatakan, Tahun 2025 sesuai target Bupati Bojonegoro harus kalahkan Ngawi.
“Semula Kabupaten Bojonegoro nomor tiga dalam produksi dengan urutan, posisi pertama Lamongan, Kedua Ngawi, Ketiga Bojonegoro. Akhir tahun 2025 Kabupaten Bojonegoro berhasil melampaui Ngawi. Posisi saat sekarang, pertama Lamongan, Kedua Bojonegoro dan Ketiga Ngawi,” terang Bu Nurul yang disambut tepuk tangan yang hadir dalam forum tersebut.
Wakil Bupati asli Desa Sumbertlaseh Kecamatan Dander itu meminta DKPP Bojonegoro untuk tidak berpuas diri. Ia meminta harus kejar lagi untuk bisa setara dengan Kabupaten Lamongan.
“Jangan di zona nyaman, kejar lagi setara dengan Kabupaten Lamongan,” tegas Bu Nurul.
Sementara itu, Kepala DKPP Bojonegoro Zaenal Fanani dalam laporannya menjelaskan bahwa Bimtek ini sekaligus menjadi persiapan menuju musim tanam 2026.
“Sebenarnya rangkaian Bimtek sudah selesai, namun karena masih ada sisa anggaran, kami maksimalkan untuk kegiatan yang berdampak pada produksi tahun 2026,” jelasnya.
Zaenal juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp19 miliar untuk pengadaan sumur bor bagi kebutuhan petani. Dari rencana awal 92 titik, hasil kajian terbaru menunjukkan kebutuhan bisa mencapai sekitar 400 kelompok tani.
Ia menambahkan, faktor cuaca juga sangat mendukung peningkatan produksi. “Berkat rahmat dan kasih Allah, Bojonegoro mendapatkan curah hujan yang cukup sehingga produksi padi meningkat dan kita berhasil mengalahkan Ngawi pada tahun pertama kepemimpinan Pak Setyo Wahono dan Bu Nurul Azizah,” ujarnya.
Ia juga mengenang momen ketika Bupati berkomitmen mengungguli produksi padi Ngawi. “Saat beliau menyampaikan itu kepada Gubernur di GOR pada Hari Koperasi, jantung langsung berdegub,” kenangnya.
Terkait alasan memilih padi hibrida, Zaenal menjelaskan bahwa varietas ini lebih kokoh, lebih besar, dan daunnya lebih hijau dibanding varietas non-hibrida. Namun, padi hibrida juga memiliki kelemahan.
“Karena kualitasnya bagus, padi hibrida lebih disukai hama. Selain itu perawatannya harus ekstra, terutama dalam kecukupan pupuk dan air,” terangnya.
Di sisi lain, Sekretaris DPC HKTI Bojonegoro drg. Sofan Solikin memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Bimtek. Menurutnya, kegiatan ini memberikan nilai tambah yang besar bagi petani karena pengetahuan teknis disampaikan langsung kepada kelompok tani.
“Ini bagus sekali, apalagi diberikan pengetahuan langsung kepada para petani,” ujarnya.
Sofan menegaskan bahwa HKTI selalu menjadi mitra pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan. Ia menyebut, dengan pemahaman yang baik, petani dapat menentukan varietas padi yang paling cocok dengan kondisi alam di wilayah masing-masing agar tetap produktif.
“Tentu petani akan menyikapi varietas apa yang cocok untuk daerahnya, yang bisa bertahan dengan keadaan alam masing-masing dan tetap produktif. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kita,” jelasnya.
Secara tidak langsung, Sofan juga menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara pemerintah, kelompok tani, dan HKTI untuk memperkuat kualitas pertanian Bojonegoro di masa mendatang.













