JagatSembilan.com | Lamongan – Di tengah tuntutan pendidikan abad ke-21 yang semakin kompleks, peran guru tidak lagi terbatas sebagai pengajar di ruang kelas. Guru masa depan dituntut mampu menjadi inovator, peneliti, sekaligus memiliki jiwa kewirausahaan yang dapat melahirkan solusi bagi berbagai tantangan pendidikan. Gambaran tersebut terlihat nyata dalam gelaran PGMI Showcase & Exhibition 2026 yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan (UNISLA), Rabu (24/6/2026).
Bertempat di halaman Gedung D UNISLA, kegiatan ini menghadirkan puluhan karya mahasiswa dari semester 2, 4, 6, dan 8 yang merupakan hasil pembelajaran selama Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Pameran tersebut menjadi ruang aktualisasi bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa calon guru tidak hanya mampu menguasai teori pendidikan, tetapi juga menghasilkan karya inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Acara yang diawali dengan senam pagi bersama itu mendapat perhatian dari pimpinan universitas. Rektor UNISLA, Wakil Rektor III, serta Dekan Fakultas Agama Islam hadir secara langsung untuk menyaksikan berbagai produk dan inovasi yang dipamerkan mahasiswa. Kehadiran mereka menjadi bentuk apresiasi terhadap proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa menghasilkan luaran nyata dan berdampak.
Sebagai calon inovator, mahasiswa semester 2 menampilkan 12 produk sains dan teknologi sederhana yang dikembangkan melalui pembelajaran IPA. Berbagai karya tersebut antara lain alat pendeteksi ketinggian air sungai, roket hidrolik, alat penjernihan air, smart moss tower, hingga miniatur kursi terbang listrik. Inovasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan konsep ilmiah dengan kreativitas untuk menghasilkan media pembelajaran yang aplikatif.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga mengembangkan buku pembelajaran Al-Qur’an Hadis dan Tajwid yang dirancang secara interaktif dan sesuai dengan karakteristik peserta didik Madrasah Ibtidaiyah. Karya ini menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan dapat lahir dari perpaduan antara penguasaan materi keislaman dan pendekatan pedagogis yang kreatif.
Kemampuan mahasiswa sebagai pengembang media pembelajaran juga terlihat pada karya mahasiswa semester 4. Mereka menghadirkan 15 media pembelajaran matematika berbasis bahan daur ulang dan 16 media literasi Bahasa Indonesia yang dirancang untuk memperkuat kemampuan membaca siswa sekolah dasar. Pemanfaatan bahan-bahan sederhana sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan dalam pendidikan.
Sementara itu, semangat kewirausahaan tampak kuat dalam karya mahasiswa semester 6. Melalui mata kuliah Kewirausahaan, mereka berhasil mengolah berbagai potensi lokal menjadi produk pangan bernilai ekonomi. Sebanyak 14 jenis makanan dan minuman dipamerkan, mulai dari klepon ubi isi cokelat, mochi murbei, minuman bunga telang, hingga berbagai olahan berbahan tape, pisang, ikan bader, dan tahu.
Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa calon guru juga perlu memiliki kemampuan membaca peluang, mengembangkan kreativitas ekonomi, serta menanamkan nilai kewirausahaan kepada peserta didik di masa depan. Produk-produk yang ditampilkan tidak hanya menarik dari sisi kemasan dan rasa, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha berbasis masyarakat.
Peran mahasiswa sebagai peneliti tercermin dari karya semester 8 yang menampilkan hasil penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Berbagai produk berupa alat peraga, komik pembelajaran, dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) etnomatematika dikembangkan melalui proses penelitian yang sistematis.
Menariknya, karya-karya tersebut mengangkat kekayaan budaya Lamongan sebagai sumber belajar. Tradisi lokal seperti Jumbrek, Masjid Agung Lamongan, dan Masjid Sendang Duwur diintegrasikan ke dalam media pembelajaran yang kontekstual. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penelitian pendidikan tidak hanya menghasilkan produk akademik, tetapi juga dapat menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus memperkuat identitas lokal dalam pembelajaran.
Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Kiky Chandra SA., M.Pd., menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan hasil proses belajar mereka kepada publik.
“Mahasiswa perlu memiliki ruang untuk menunjukkan karya dan gagasannya. Melalui kegiatan ini mereka belajar berkomunikasi, berkolaborasi, sekaligus membangun kepercayaan diri sebagai calon pendidik profesional,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Program Studi PGMI UNISLA, Musa’adatul Fithriyah, M.Pd.I., menegaskan bahwa Showcase & Exhibition merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menghasilkan karya, melakukan penelitian, mengembangkan inovasi, serta memiliki jiwa kewirausahaan. Semua itu merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki guru masa depan,” katanya.
Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan perubahan paradigma pendidikan guru di perguruan tinggi. Jika selama ini profesi guru sering dipandang hanya berfokus pada aktivitas mengajar, maka PGMI Showcase & Exhibition 2026 menghadirkan perspektif yang berbeda. Calon guru masa kini harus mampu menjadi pencipta inovasi, pengembang ilmu pengetahuan, sekaligus agen pemberdayaan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat.
Melalui puluhan karya yang dipamerkan, mahasiswa PGMI UNISLA membuktikan bahwa guru masa depan Indonesia tidak hanya siap mengajar di kelas, tetapi juga siap menjadi inovator, peneliti, dan wirausahawan yang mampu menjawab tantangan zaman dan membawa perubahan bagi dunia pendidikan.














