JagatSembilan.com | Bojonegoro – Ratusan jamaah menghadiri kegiatan Rutin Takhtimul Qur’an dan Tahlil yang dirangkai peringatan haul ke-34 Al-Maghfurlah Mbah Kyai Masyhur yang digelar di musholla Mambaul Ulum (musholla yang didirikan Sohibul Haul) Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (3/04/2026). Al-Maghfurlah Mbah Kyai Masyhur merupakan tokoh awal berdirinya NU di Kecamatan Ngasem.
Acara keagamaan ini diikuti jama’ah Takhtimul Qur’an, jama’ah tahlil RW. 01 Desa Ngasem dan jama’ah majlis ta’lim malam Rabo yang diasuh oleh H. Abdul Kharis..
Kegiatan berlangsung khidmat sebagai bentuk doa bersama untuk almarhum sekaligus menjaga tradisi keagamaan yang telah berjalan turun-temurun.
Dalam sambutannya, KH. Abdul Kharis Masyhur mewakili tuan rumah menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya acara tersebut.
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua saudara-saudara yang sudah berkenan memberikan bantuan, baik berupa apa pun, demi terselenggaranya acara malam ini. Para hadirin, acara ini merupakan acara gabungan,” ujar KH. Abdul Kharis yang juga Rois Syuriah MWCNU Ngasem itu
Ia menjelaskan bahwa kegiatan khatmil Qur’an di mushola tersebut merupakan agenda rutin setiap bulan. Namun, pelaksanaan kali ini dimajukan untuk bertepatan dengan peringatan wafat sang ayah.
“Jadi, musala di sini mendapatkan giliran khatmil Quran setiap bulan Syawal. Biasanya dilaksanakan pada malam ke-17. Namun karena bertepatan dengan hari wafatnya bapak saya, akhirnya dimajukan dua hari. Jadi bukan malam ke-17, tetapi malam ke-15. Ini sekaligus untuk memperingati wafatnya bapak saya, yaitu Mbah Masyhur, yang kita niatkan untuk kirim doa,” jelasnya.
Ia menambahkan, tradisi malam 15 Syawal ini telah berlangsung sejak pertama kali diadakan pada tahun wafatnya Mbah Masyhur dan terus dilestarikan hingga sekarang.
Dalam kesempatan itu, KH. Abdul Kharis juga mengulas sejarah kehidupan Mbah Masyhur yang dikenal sebagai tokoh penting di Kecamatan Ngasem. Ia menyebut bahwa ayahnya bukan asli Ngasem, melainkan berasal dari wilayah Batokan, Kasiman, dengan latar belakang keluarga dari Keluarga Klubuk, Desa Pelem Kecamatan Purwosari dan Blora.
Mbah Masyhur datang ke Ngasem sekitar tahun 1950 dan diangkat sebagai Naib atau Kepala KUA. Meski tidak menempuh pendidikan formal, ia dikenal mampu membaca, menulis, serta mendalami ilmu agama melalui berbagai pesantren, di antaranya Tebu Ireng, Tremas, Kasingan Rembang dan Jalakan Padangan.
Selain menjalankan tugas sebagai naib, Mbah Masyhur juga aktif mengembangkan pengajian serta menjadi pelopor pengajaran ilmu nahwu dan sharaf di wilayah Ngasem. Ia turut mencetak kader-kader ulama yang mampu membaca kitab kuning.
Tak hanya itu, Mbah Masyhur juga disebut sebagai salah satu perintis awal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Ngasem pada tahun 1953. Perannya dinilai sangat besar dalam perkembangan organisasi keagamaan tersebut hingga kini.
“Karena itu saya lebih bangga bapak saya sebagai perintis NU di Ngasem,” ungkapnya.
“Semoga pahala khatmil Quran dan tahlil kita khususkan untuk beliau, Mbah Masyhur, dan semoga di alam barzakh derajatnya ditinggikan, semakin bahagia, dan anak cucunya bisa meneruskan perjuangan beliau,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan doa bersama, dengan harapan pahala dari khatmil Qur’an dan tahlil yang dilaksanakan dapat sampai kepada almarhum serta meningkatkan derajatnya di sisi Allah SWT.














