JagatSembilan.com | Bojonegoro – Potensi ekonomi lokal di kawasan wisata Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, terus menunjukkan perkembangan positif. Mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) Kelompok 18, menggelar pendampingan langsung kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai bagian dari program kerja mereka. Sabtu (02/08/2025)
Pendampingan dilakukan dengan mengunjungi langsung pelaku UMKM yang mengolah produk khas desa, seperti kerupuk girut, abon dari bonggol pisang, serta tape yang dibungkus daun ploso. Mahasiswa turut menggali proses produksi, memahami tantangan yang dihadapi, dan memberikan dukungan dalam bentuk digitalisasi promosi serta penguatan branding produk.
Salah satu pelaku UMKM, Evi, yang telah memproduksi kerupuk girut selama lebih dari satu dekade, mengungkapkan bahwa bahan baku produknya berasal dari girut dan rempah pilihan yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kami masih pakai cara tradisional untuk menggoreng dan mengeringkan. Tapi sekarang sudah mulai belajar pengemasan menarik biar bisa masuk toko oleh-oleh,” tutur Evi saat ditemui tim KKN.
Sementara itu, Ngaisah, pembuat abon berbahan dasar bonggol pisang—bagian bawah batang pisang yang menyerupai umbi—menyebutkan bahwa promosi dan pemasaran masih menjadi kendala utama dalam mengembangkan usahanya.
“Kalau rasa, banyak yang suka. Tapi kendalanya masih di pemasaran dan desain kemasan. Kami butuh bantuan di situ,” ungkapnya.
Selain itu, produk tape yang dibungkus dengan daun ploso menjadi inovasi baru yang dikembangkan oleh warga muda dan kelompok ibu-ibu kreatif. Mahasiswa KKN turut terlibat dalam proses pembuatan dan pengemasan tape tersebut, sekaligus melakukan uji coba pemanfaatan daun ploso agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Ketua KKN-TK Kelompok 18, M. Qafid Jalaludin, menyampaikan bahwa pemanfaatan daun ploso muncul dari potensi lokal yang melimpah namun belum tergarap maksimal.
“Kami melihat daun ploso melimpah, sayang kalau tidak dimanfaatkan lebih lanjut. Maka muncullah ide membuat tape daun ploso, yang bisa tahan lama dan punya nilai jual lebih tinggi,” jelasnya.

Dalam pendampingan tersebut, mahasiswa juga membantu memotret produk, membuat akun media sosial UMKM, serta mengenalkan teknik pemasaran digital sebagai bentuk adaptasi terhadap tren pasar modern.
Dosen pembimbing lapangan, Faridatul Istighfaroh, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan ekonomi desa berbasis potensi lokal.
“Mahasiswa tidak hanya tinggal di desa, tapi juga harus menjadi bagian dari solusi. UMKM seperti kerupuk dan tape ini punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai oleh-oleh khas Kayangan Api,” tegasnya.
Sinergi antara mahasiswa KKN-TK dan pelaku UMKM lokal diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk Desa Sendangharjo, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.














