JagatSembilan.com | Bojonegoro – IDFoS Indonesia menggelar kegiatan Diskusi dan Diseminasi Buku berjudul “Bersama Mengelola, Bersama Sejahtera” di Creative Room Gedung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Senin (18/5/2026).
Diseminasi mengundang berbagai sektor pemangku kepentingan kunci. Di antaranya adalah perwakilan perguruan tinggi (Unigoro, Stikes Rajekwesi, Unugiri), jajaran dinas pemerintahan terkait (Bappeda, DLH, DPMPD, Dinas Kesehatan, PU Cipta Karya), NGO, Kelompok olah sampah, Badan Eksekutif Mahasiswa, hingga perwakilan sektor swasta dan Media.
Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi kritis lingkungan di Kabupaten Bojonegoro, di mana total timbulan sampah daerah kini telah mencapai angka 400 hingga 450 ton setiap harinya. Lonjakan volume yang signifikan tersebut dinilai tidak lagi mampu ditangani menggunakan pola konvensional linear (kumpul, angkut, buang).
Buku yang membahas model kolaborasi multipihak dalam pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan karya dari dua periset IDFoS Indonesia, yakni Ahmad Muhajirin, S.Pd.I., M.Ag dan Rizal Zubad Firdausi, S.T., M.T.
Dalam pemaparannya, jalannya diseminasi dipandu langsung oleh Dr. H.A. Hakam Sholahuddin, MH., selaku editor buku yang juga bertindak sebagai moderator.
Dalam sambutan pembukaan, Direktur IDFoS Indonesia, Dr. Joko Hadi Purnomo, SE., ME., M.Si menyampaikan refleksi perjalanan 11 tahun rekam jejak pengelolaan sampah di tingkat desa yang idenya telah diinisiasi sejak tahun 2015.
Joko menekankan bahwa keberhasilan program hingga di titik ini bertumpu pada perubahan perilaku masyarakat melalui tahapan pemetaan dan pemicuan di tingkat akar rumput.
“Fokus utamanya adalah perubahan perilaku. Kami juga melihat pentingnya kolaborasi multipihak antara pemerintah desa, swasta, dan pemanfaatan aset komunitas seperti fasilitas KUD untuk menjaga keberlanjutan. Meski begitu, tantangan di lapangan masih besar karena sebagian besar sistem penanganan sampah kita saat ini masih berjalan secara konvensional melalui pola angkut-buang,” ujar Joko.
Ia berharap buku ini dapat menjadi media pembelajaran adaptif bagi banyak pihak untuk merumuskan strategi penanganan yang berkembang sesuai tuntutan zaman.
Hal senada diungkapkan oleh editor buku sekaligus moderator diskusi, Dr. H.A. Hakam Sholahuddin, MH . Ia menegaskan bahwa persoalan sampah saat ini menjadi isu serius yang dihadapi hampir seluruh kota, baik skala besar maupun kecil. Berdasarkan data, produksi sampah di Bojonegoro tahun lalu mencapai 568 ton per hari, atau rata-rata menghasilkan 0,46 kg sampah per orang setiap harinya.
“Sahabat IDFoS hadir bukan sekadar memfasilitasi, tetapi mendampingi sebagai bentuk ikhtiar pengelolaan berbasis komunitas. Buku ini hadir sebagai sebuah ‘tawaran’ nyata, di mana salah satu kelompok dampingan yaitu Mpok Damira bahkan mampu menjadi program yang diunggulkan dalam penilaian Adipura daerah. Pengalaman 11 tahun ini membuktikan segala hal akan terasa ringan jika kita bersinergi,” jelas Hakam.
Memasuki sesi inti, penulis buku Ahmad Muhajirin, S.Pd.I., M.Ag. memaparkan bahwa karya ini ditulis untuk memotret realitas dinamika tata kelola limbah secara jujur, baik dari sisi pasang surut maupun baik-buruknya proses pendampingan di lapangan. Menurutnya, buku ini dirancang sebagai instrumen catatan pengalaman yang menegaskan bahwa urusan sampah wajib diselesaikan lewat kolaborasi multisektor.
Sementara itu, Rizal Zubad Firdausi, S.T., M.T. membedah metodologi pergerakan tim di lapangan. Proses penanganan diawali dengan melakukan pemetaan wilayah agar masyarakat memiliki tingkat kesadaran (awareness) yang tinggi terhadap tingkat kerusakan lingkungannya, kemudian dilanjutkan dengan fase pemicuan langsung.
Rizal mengisahkan bahwa Babak Kedua perjalanan Kelompok Mpok Damira menjadi momen paling memorable karena harus bertahan di tengah keterbatasan dana dan ketidakpastian operasional sebelum masa pandemi Covid-19.
“Kelompok ini sempat mengalami dinamika berat saat produksi pupuk kompos mereka belum mampu menopang kebutuhan operasional mandiri. Pasca-pandemi, inovasi dialihkan melalui sistem iuran warga sebagai penopang operasional serta mendirikan bank sampah di area perumahan. Mpok Damira hadir sebagai local hero yang mampu bertahan selama 11 tahun melewati berbagai rintangan,” urai Rizal.
Merespons paparan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah, S.E., M.M, memberikan apresiasi tinggi terhadap penerbitan buku ini karena berhasil memperlihatkan realitas objektif pengelolaan lingkungan daerah.
Di tengah tren timbulan sampah Bojonegoro yang terus meningkat, Luluk membagikan komparasi pengalaman dari wilayah luar yang sukses menggandeng institusi sekolah untuk memilah sampah sejak dari murid dan guru, sehingga mampu memangkas volume residu di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara drastis.
“Pembangunan TPA idealnya diimbangi dengan penyelesaian sampah yang tuntas di sumbernya, sehingga kita bisa bergeser dari sistem open dumping. Kami di DLH berkomitmen penuh untuk membantu memfasilitasi dan mengedukasi jika ada kelompok yang mengalami kesulitan. Hal paling mendasar saat ini adalah action dan edukasi, terutama menekankan agar sisa makanan harus habis selesai di tingkat rumah tangga. Kami tidak bisa berjalan sendiri tanpa bantuan panjenengan semua,” kata Luluk.
Sementara itu Arifin Jauhari perwakilan dari Media mengungkapkan, sudah ada aturan yang mengatur tentang sampah. Ia meminta pemerintah harus berani melakukan penegakan hukum itu sehingga persoalan sampah bisa terkurangi.
Arul perwakilan dari Alas Institute yang hadir dalam kesempatan itu meminta Dinas Lingkungan Hidup untuk membuat forum bersama berbagai lembaga dan instansi yang membahas atau menyelesaikan persoalan-persoalan sampah.
Mendengar permintaan dari Alas Instute tersebut, Luluk secara tegas menjawab “Siap ditindaklanjuti”. Yang disambut sumringah perwakilan Alas Instute.
Kegiatan diseminasi ini diakhiri dengan sesi closing statement dari para narasumber dan penyerahan plakat apresiasi secara simbolis kepada perwakilan korporasi mitra seperti Pertamina EP Sukowati Field, Dinas Lingkungan Hidup dan BAPPEDA .
Ahmad Muhajirin menutup dengan pesan optimistis bahwa jika kita mampu mengubah cara pandang terhadap sampah dari sesuatu yang kumuh menjadi hal positif, maka masalah ini akan teratasi. Rizal Zubad menegaskan kembali kewajiban kolaborasi multipihak karena isu ini tidak bisa diselesaikan sendirian dan membutuhkan dorongan anggaran yang menyentuh masyarakat bawah. Dilanjut Kepada DLH yang menegaskan bahwa melalui momentum peluncuran buku ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Bojonegoro.
Melalui diseminasi buku ini, IDFoS Indonesia bermaksud menawarkan alternatif model kemitraan Public-Private-Community Partnership (PPCP) sebagai solusi integratif yang memadukan peran aktif pemerintah, sektor swasta, dan komunitas warga secara mandiri di tingkat hulu .













