JagatSembilan.com | Bojonegoro — Deputy Field Manager Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru (JTB), Andy Suhendro, memaparkan selayang pandang pengelolaan dan peran strategis JTB dalam mendukung ketahanan energi nasional pada kegiatan Wellness for Media Bojonegoro yang digelar di Love Garden MCM Hotel and Kafe, Jalan Pemuda, Bojonegoro, Selasa (10/2/2026).
Dalam sambutannya, Andi menegaskan bahwa kehadiran JTB di Kabupaten Bojonegoro merupakan amanah besar negara yang tidak bisa dijalankan tanpa dukungan berbagai pihak, termasuk insan pers.
“Kami memikul amanah negara yang cukup besar. Tanpa dukungan rekan-rekan jurnalis dan media, tentu tidak mungkin operasional ini bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia menyebut, JTB berada di bawah PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Region 4 Zona 12, yang merupakan bagian dari sektor hulu Pertamina. Sebagai wilayah kerja hulu migas, JTB berfokus pada produksi gas alam dari sumur-sumur yang berada di wilayah Kabupaten Bojonegoro.
Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru sendiri terletak di empat kecamatan, yakni Gayam, Ngasem, Tambakrejo, dan Purwosari. Andi menjelaskan bahwa JTB merupakan lapangan gas, dengan karakter produksi utama berupa gas alam, meski di setiap sumur juga terdapat minyak dan air produksi.
“Dari satu sumur pasti keluar gas, minyak, dan air. Air produksinya tidak digunakan dan biasanya kami injeksikan kembali ke dalam sumur,” jelasnya.
Andy juga memaparkan sejumlah tonggak penting (milestone) pengembangan JTB. Salah satunya adalah keterlibatan sumber daya manusia lokal, di mana 108 putra-putri asli Bojonegoro direkrut sejak tahap awal proyek dan kini menjadi pekerja tetap Pertamina.
“Mereka lulusan SMA dari Bojonegoro, kami sekolahkan dan latih hingga akhirnya menjadi pegawai tetap Pertamina. Ini kebanggaan sekaligus bentuk multiplier effect bagi daerah,” ungkapnya.
Secara historis, PEPC berdiri pada 2005 seiring pengembangan Blok Cepu. Pengembangan JTB mendapat izin pembangunan fasilitas pengolahan gas pada 2013, dilanjutkan pengalihan kepemilikan penuh kepada Pertamina pada 2017 setelah membeli seluruh participating interest ExxonMobil. Proses pengeboran dimulai pada 2019, dan JTB resmi berproduksi pada 2022.
Saat ini, JTB mengoperasikan enam sumur produksi, fasilitas pengolahan gas (Gas Processing Facility), serta jaringan sales gas metering yang terhubung ke pipa gas Gresik–Semarang (Gresik Semarang Integrated System/Gresik–Semarang Pipeline) yang dikelola Pertagas.
“Gas dari sumur diolah hingga layak jual, lalu disalurkan melalui jaringan pipa nasional, salah satunya ke PGN. Jalur ini seperti jalan tol gas, yang dikelola Pertagas,” terang Andy.
Dalam kegiatan itu dihadiri oleh Manager Communication Relation and CID Pertamina Ep Cepu Rahmat Drajat, Singgih Pradana perwakilan dari SKK Migas Jabalnusa, dr. Sarah Andi Sarasati Sp.PA.FIAC Dokter Spesialis Patologi Anatomi Fellow Sitologi RS. Muslimat NU Muna Anggita.
Melalui forum yang melibatkan insan pers ini, Andi berharap media dapat semakin memahami proses bisnis hulu migas, sekaligus terus menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang edukatif dan berimbang kepada masyarakat.














