Sejarah Lebaran Ketupat: Tradisi Penuh Makna Usai Idul Fitri

JagatSembilan.com | Lebaran ketupat merupakan salah satu tradisi khas yang dirayakan oleh umat Muslim di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Perayaan ini digelar sekitar tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri atau tepatnya pada 8 Syawal. Dalam masyarakat Jawa, tradisi ini dikenal pula dengan istilah Syawalan dan menjadi momen penting untuk menjalin silaturahmi sekaligus mempererat kebersamaan.

Dilansir dari NU Online, tradisi lebaran ketupat tidak sekadar perayaan kuliner, melainkan sarat makna simbolis dan nilai spiritual. Budaya ini diyakini berakar dari dakwah salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Ia menggunakan ketupat sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam yang ramah dan membumi, sekaligus memanfaatkan tradisi lokal yang sudah dikenal masyarakat, yakni slametan.

Makna Filosofis dalam Ketupat

Kata ketupat atau kupat berasal dari bahasa Jawa ngaku lepat, yang berarti “mengakui kesalahan”. Filosofi ini mengajarkan pentingnya saling memaafkan dan introspeksi diri setelah menjalani bulan suci Ramadan. Dalam konteks ini, memakan ketupat menjadi simbol pembersihan diri dari dosa serta keinginan untuk memperbaiki hubungan antar sesama.

Bentuk ketupat yang dibungkus dengan janur kuning juga menyimpan pesan mendalam. Janur dipercaya sebagai simbol penolak bala, sementara bentuk segi empat dari ketupat merepresentasikan konsep kiblat papat lima pancer, yaitu ajaran spiritual Jawa tentang arah hidup yang selalu bermuara kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Beras sebagai isi ketupat melambangkan harapan akan kemakmuran pasca-Ramadan. Saat ketupat dibelah, warna putih di dalamnya mencerminkan kesucian dan keikhlasan hati setelah saling memaafkan.

Kebiasaan yang unik dalam ketupat

Pada masa lalu, ketupat tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga digantung di atas kusen pintu rumah bersama buah pisang. Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk penolak bala dan biasanya dibiarkan hingga ketupat mengering, bahkan selama berbulan-bulan. Meski tradisi ini kini mulai ditinggalkan, maknanya tetap hidup dalam budaya masyarakat.

 

Ketupat, Opor Ayam, dan Filosofi Santen

 

Ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Tidak hanya lezat, menu ini pun memiliki filosofi tersendiri. Opor ayam menggunakan santan, yang dalam bahasa Jawa disebut santen. Kata ini kerap dihubungkan dengan pangapunten atau permohonan maaf.

 

Hubungan antara ketupat dan santan bahkan diabadikan dalam sebuah pantun Jawa yang sering diucapkan saat Lebaran: Mangan kupat nganggo santen. Menawi lepat, nyuwun pangapunten. (Makan ketupat pakai santan. Bila ada salah, mohon dimaafkan.)

 

Dengan segala nilai spiritual dan budayanya, lebaran ketupat bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga wujud syukur, pembersihan jiwa, serta momen mempererat hubungan sosial dalam bingkai keislaman dan kearifan lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *