Oleh: Choirul Anam
Pagi itu, Surabaya belum sepenuhnya bangun dari kantuknya. Namun di depan Jatim Expo, ribuan manusia berseragam telah merapatkan barisan. Ada yang berseragam loreng cokelat khas Banser, ada pula yang berbaret hijau dan berseragam TNI. Mereka datang bukan untuk bertempur, tapi untuk membuktikan bahwa di tengah segala hiruk-pikuk perbedaan, ada satu kata yang masih menyatukan: Nusantara.

Syawal Fest, Halal Bihalal Akbar dan pelantikan Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur menjadi panggung pertemuan itu. Sebanyak 20.000 pasukan Ansor-Banser berkumpul di satu titik, menunjukkan kesiapan, kekompakan, dan loyalitas terhadap bangsa dan agama. Tidak tanggung-tanggung, acara ini dihadiri oleh Pangdam V/Brawijaya serta Ketua Umum PP GP Ansor, Addin Jauharuddin. Sebuah sinyal kuat bahwa antara santri dan tentara, ada benang merah sejarah yang terus dijaga, dirawat, dan dikuatkan.
Dari Sejarah yang Tak Pernah Putus
Manunggalnya TNI dan Ansor bukan sekadar acara simbolik penuh tepuk tangan dan yel-yel. Ia adalah lanjutan dari sejarah panjang—sejarah yang ditulis dengan darah, air mata, dan doa para pendiri republik ini.
Kita masih ingat peristiwa 10 November 1945, saat arek-arek Surabaya, para santri, dan pejuang kemerdekaan bersatu melawan kolonial. Dalam barisan itu, ada pasukan Hizbullah dan Sabilillah cikal bakal dari Banser hari ini. Mereka bahu-membahu dengan tentara dan rakyat mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Tak bisa dipungkiri, NU dan TNI punya akar yang sama dalam perjuangan kemerdekaan.

Lalu di tahun 1965, saat Indonesia diguncang kekacauan politik, Banser juga menjadi garda sipil yang berseberangan dengan ideologi komunis. Dalam situasi yang genting, hubungan Ansor dan tentara kembali erat karena mereka berdiri di sisi yang sama: menjaga Pancasila dan keutuhan NKRI.
Jadi, ketika hari ini kita menyaksikan TNI dan Ansor berdiri berdampingan di Jatim Expo, itu bukan rekayasa politik atau pencitraan sesaat. Itu adalah warisan sejarah yang terus diturunkan dari generasi ke generasi—sebuah narasi panjang tentang kebersamaan dan kesetiaan pada tanah air.
TNI dan Banser: Dua Sayap Keamanan Sosial
Secara sosiologis, kehadiran TNI dan Ansor (melalui Banser) bukan hanya dalam ranah pertahanan formal dan keamanan negara, tetapi juga dalam menjaga ketertiban sosial. Banser, misalnya, aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti pengamanan acara keagamaan, bantuan bencana alam, hingga evakuasi warga saat banjir dan kebakaran. Mereka menjadi jembatan antara masyarakat sipil dan institusi keamanan negara.
Di sisi lain, TNI bukan lagi hanya milik barak atau pos militer. Dalam banyak program seperti TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa), para tentara ikut membangun jembatan, memperbaiki sekolah, bahkan mendampingi petani di pelosok. Mereka menjadi wajah negara yang hadir langsung di tengah rakyat.
Kehadiran TNI dalam acara pelantikan Ansor Jawa Timur adalah pengakuan terbuka bahwa kekuatan masyarakat sipil—terutama dari kalangan santri dan pemuda NU—adalah mitra penting negara dalam menjaga stabilitas. TNI bukan entitas di luar rakyat, dan Banser bukan gerakan pinggiran. Keduanya bagian dari satu tubuh yang sama: Indonesia.
Nusantara: NU, Santri, dan Tentara

Slogan “Nusantara: NU, Santri, dan Tentara” bukan sembarang jargon. Ia adalah simpul makna dari berbagai dimensi sosial dan historis yang saling mengikat.
NU adalah payung besar dari kultur Islam moderat yang menyejukkan. Santri adalah aktor sosial yang bergerak dari masjid, pesantren, hingga ruang publik. Sementara tentara adalah representasi negara dalam dimensi pertahanan. Ketiganya tidak bisa dipisahkan jika kita bicara soal masa depan Indonesia. Mereka adalah tiga unsur yang menjamin bahwa negara ini tetap utuh di tengah arus globalisasi, konflik identitas, hingga ancaman ideologi transnasional.
Di tengah arus politik yang sering membenturkan agama dengan negara, kehadiran 20.000 pasukan Ansor-Banser dalam satu barisan bersama TNI adalah pesan moral yang kuat: bahwa Islam dan nasionalisme bisa seiring sejalan, tidak perlu dipertentangkan.
Sinergi yang Perlu Dirawat
Namun tentu saja, manunggalnya TNI dan Ansor bukanlah akhir, tapi justru awal dari kerja-kerja besar yang harus terus dirawat. Sinergi ini harus dilanjutkan dalam bentuk pelatihan bersama, kolaborasi program kebangsaan, hingga pendampingan di daerah rawan konflik.
Tantangan kita hari ini bukan lagi penjajah bersenjata, tapi disinformasi, radikalisme, intoleransi, dan ketimpangan sosial. Dan untuk melawan itu, negara butuh pasukan yang tak hanya kuat secara fisik, tapi juga punya daya spiritual, kesabaran sosial, dan komitmen kebangsaan yang kuat. Banser punya itu, dan TNI mengenalinya.
Penutup: Panggung Surabaya, Gema Nusantara
Apa yang terjadi di Surabaya bukan sekadar pameran kekuatan. Ia adalah simbol kepercayaan. Bahwa di balik loreng tentara dan banser, ada satu ruh yang sama: cinta tanah air.
Sebagaimana sabda Kiai Hasyim Asy’ari: “Hubbul wathan minal iman”—cinta tanah air adalah bagian dari iman. Maka cinta itu kini hadir dalam wujud 20.000 pasukan yang berbaris rapi di jantung kota Surabaya, dalam satu irama langkah, satu komando, satu semangat: menjaga Indonesia.
Karena pada akhirnya, Nusantara tidak akan utuh tanpa NU, santri, dan tentara yang bergandeng tangan. Bukan sekadar simbol, tapi sebagai kekuatan sejati bangsa ini.
Penulis adalah Choirul Anam, Aktifis Muda NU yang juga Ketua PAC GP Ansor Balen. Selain itu dia merupakan Aktifis Ekonomi NU dengan menjadi Direktur BMT NU Balen













