Oleh: Miftahul Amin
Sebagai seorang anggota Banser, saya memandang dunia tidak hanya dari sudut geopolitik atau kepentingan blok kekuatan besar, tetapi dari sisi nilai dan karakter kepemimpinan. Dalam konteks itu, saya melihat Iran sebagai salah satu contoh negara yang berusaha mempertahankan keyakinan dan kedaulatannya di tengah tekanan besar dunia internasional.
Bertahun-tahun negara itu berada dalam embargo dan sanksi Barat, namun tetap berdiri dan tidak mau didikte oleh pihak luar. Bagi saya, ada pelajaran tentang keteguhan di sana.
Sosok yang identik dengan sikap tersebut adalah Ali Khamenei. Banyak orang melihatnya dari sisi politik dan kontroversinya. Namun saya mencoba melihat sisi lain: kesederhanaan pribadi dan keteguhan memegang prinsip. Salah satu kisah yang mengena bagi saya adalah ketika seorang anak kecil meminta didoakan agar menjadi syahid.
Alih-alih langsung mengamini semangat itu, ia justru mengarahkan sang anak untuk belajar terlebih dahulu, tumbuh dewasa, menjadi orang yang bermanfaat bagi negara, dan memahami makna pengorbanan dengan matang.
Bagi saya, jawaban itu menunjukkan kejernihan berpikir. Pengorbanan bukan sesuatu yang dirayakan secara emosional, melainkan konsekuensi dari tanggung jawab yang dijalani dengan ilmu dan kedewasaan.
Ada pesan kuat bahwa membangun diri dan memberi manfaat bagi bangsa adalah fondasi utama sebelum berbicara tentang pengorbanan tertinggi.
Nilai inilah yang saya rasa memiliki korelasi dengan semangat Banser. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kita mengenal ungkapan Hubbul Wathon Minal Iman — cinta tanah air adalah bagian dari iman. Banser tidak dibentuk untuk mengejar konflik, tetapi untuk menjaga, melindungi, dan mengabdi. Ketika bangsa membutuhkan, kita hadir. Namun kehadiran itu harus dilandasi ilmu, kedewasaan, dan tanggung jawab, bukan semangat yang gegabah.
Keteguhan mempertahankan prinsip, keberanian tidak tunduk pada tekanan, dan kesediaan memikul risiko demi tanah air adalah nilai yang universal. Namun dalam konteks Indonesia, nilai itu diterjemahkan melalui jalan konstitusi, menjaga NKRI, menghormati kebinekaan, dan melindungi sesama warga bangsa.
Karena itu, yang saya kagumi bukanlah sistem politik atau konflik yang melingkupi Iran, melainkan karakter keteguhan dan kejernihan dalam memaknai pengabdian. Dan semangat itulah yang, menurut saya, sejalan dengan ruh Banser: berdiri tegak di tanah sendiri, setia pada amanah, dan siap berkontribusi demi bangsa dengan kepala dingin dan hati yang jernih.














