Opini  

Bojonegoro ke-349: Ketika Budaya Menjadi Wajah Daerah, Mampukah Ia Menjadi Kekuatan Masa Depan?

Opini | Kebudayaan, identitas sosial, dan refleksi filosofis menyambut Hari Jadi Bojonegoro ke-349

Gambar ilustrasi, Kesenian tradisional menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya Bojonegoro dalam momentum Hari Jadi ke-349.

Oleh: Mohammad Tsaqibul Fikri – Dosen Seni di UNUGIRI

BOJONEGORO — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro ke-349 pada Oktober 2026 menghadirkan sebuah pemandangan yang menarik: kebudayaan tampil sebagai salah satu wajah utama perayaan daerah. Festival Sandur, Pantes Budal, pertunjukan Reog, musik Oklik, Hadrah, Tari Api Kayangan, Festival Ledre, hingga prosesi pengambilan dan kirab Api Abadi memperlihatkan betapa beragamnya ekspresi budaya yang dihadirkan dalam ruang publik.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah menyusun rangkaian kegiatan peringatan hari jadi pada 8–31 Oktober 2026. Agenda tersebut mencakup pertunjukan seni, tradisi, kegiatan keagamaan, wisata, dan berbagai perayaan yang melibatkan masyarakat.

Fenomena ini patut diapresiasi. Di tengah perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan tuntutan pembangunan ekonomi, kebudayaan memperoleh ruang untuk kembali hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar seberapa meriah perayaan berlangsung: apakah kebudayaan telah benar-benar menjadi kekuatan sosial masyarakat Bojonegoro, atau masih sebatas tontonan yang ramai ketika perayaan tiba?

Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi arti penting festival, melainkan untuk mengajak kita melihat kebudayaan secara lebih utuh, melalui pendekatan sosial-budaya dan filsafat.

Budaya Bukan Sekadar Pertunjukan, Melainkan Identitas Masyarakat

Bojonegoro memiliki kekayaan tradisi yang tumbuh dari pengalaman sejarah, lingkungan, hubungan sosial, dan kehidupan masyarakatnya. Sandur, Oklik, Tayub, Wayang Thengul, berbagai tari tradisional, serta tradisi yang berkaitan dengan Kayangan Api merupakan bagian dari lanskap kebudayaan daerah. Berbagai penelitian tentang seni lokal Bojonegoro menunjukkan bahwa tradisi tersebut menyimpan nilai sosial, spiritual, sejarah, dan kearifan lokal.

Karena itu, kebudayaan tidak semestinya hanya dipahami sebagai produk yang ditampilkan di atas panggung. Di balik pertunjukan terdapat pelaku seni, keluarga yang mewariskan keterampilan, masyarakat yang menjaga tradisi, nilai yang dipercayai, serta proses panjang yang memungkinkan sebuah kesenian bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam kehidupan sosial Bojonegoro, perayaan budaya juga dapat menjadi ruang perjumpaan antarkelompok masyarakat. Warga berkumpul, pelaku seni bertemu penonton, generasi muda mengenal tradisi, dan identitas lokal memperoleh kesempatan untuk diungkapkan kembali.

Pada titik ini, festival budaya tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga potensi memperkuat solidaritas sosial, kebanggaan daerah, dan hubungan antargenerasi.

Penelitian mengenai sistem sosial-budaya masyarakat Bojonegoro pada 2025 juga menyoroti kuatnya tradisi, kesenian rakyat, dan gotong royong, sekaligus perubahan yang dipengaruhi modernisasi, teknologi informasi, dan perkembangan sektor energi. Artinya, kebudayaan Bojonegoro tidak berdiri di ruang yang statis. Ia terus berhadapan dengan perubahan sosial.

Di sinilah pentingnya melihat perayaan hari jadi bukan sekadar sebagai agenda tahunan, melainkan sebagai momentum untuk memperkuat hubungan antara tradisi dan kehidupan masyarakat masa kini.

Membaca Budaya Bojonegoro melalui Filsafat: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi

Untuk memahami lebih jauh posisi kebudayaan dalam pembangunan daerah, terdapat tiga pertanyaan filosofis yang relevan: apa hakikat kebudayaan Bojonegoro, bagaimana pengetahuan tentang kebudayaan itu diperoleh dan diwariskan, serta untuk apa kebudayaan dikembangkan.

1. Ontologi: Apa Hakikat Budaya Bojonegoro?

Budaya Bojonegoro dapat dipahami sebagai cara masyarakat membangun makna tentang kehidupan, lingkungan, sejarah, hubungan sosial, dan keyakinan mereka. Kesenian merupakan salah satu bentuk nyata dari proses tersebut, bukan keseluruhan kebudayaan itu sendiri.

Ambil contoh Sandur. Penelitian tentang Sandur sebagai kearifan lokal Bojonegoro menunjukkan adanya nilai ketuhanan, penghormatan kepada orang yang lebih tua, kerukunan, gotong royong, serta kecintaan terhadap alam yang tercermin dalam cerita, dialek, dan tembangnya.

Dengan demikian, ketika Sandur dipentaskan dalam Festival Sandur, yang ditampilkan bukan semata-mata pertunjukan seni. Ada kemungkinan nilai dan pengetahuan lokal ikut diperkenalkan kepada masyarakat, sepanjang pertunjukan itu disertai pemahaman terhadap konteks dan maknanya.

Tantangannya adalah menjaga agar perubahan tidak membuat budaya kehilangan hubungan dengan masyarakat yang melahirkannya.

2. Epistemologi: Bagaimana Kita Mengetahui dan Mewariskan Budaya?

Epistemologi membahas sumber, cara memperoleh, menguji, dan mengembangkan pengetahuan. Dalam konteks budaya, persoalannya bukan hanya apakah masyarakat mengenal nama Sandur, Oklik, atau Kayangan Api, melainkan apakah mereka memahami sejarah, nilai, proses, dan pengalaman sosial yang membentuknya.

Karena itu, keberhasilan agenda budaya perlu diukur bukan hanya dari seberapa banyak orang menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang memperoleh pengetahuan, terlibat dalam proses kreatif, dan bersedia meneruskan tradisi tersebut.

3. Aksiologi: Untuk Apa Budaya Dikembangkan?

Kebudayaan dapat memiliki nilai pendidikan, sosial, spiritual, ekonomi, dan estetika. Festival dapat membuka ruang kerja bagi seniman, penata panggung, pembuat kostum, pemusik, pelaku usaha kecil, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan.

Kegiatan budaya juga dapat memperluas daya tarik wisata dan memperkenalkan kekhasan Bojonegoro kepada masyarakat di luar daerah. Namun, manfaat tersebut perlu dilihat sebagai potensi yang harus dikelola, bukan hasil yang otomatis muncul setiap kali sebuah festival berlangsung. Jika festival mampu menghadirkan hiburan sekaligus meningkatkan kesejahteraan seniman, memperluas pendidikan budaya, dan memperkuat solidaritas masyarakat, maka nilai yang dihasilkan akan jauh melampaui kemeriahan panggung.

Hari Jadi ke-349 sebagai Momentum Evaluasi Kebudayaan

Usia 349 tahun menjadi momentum untuk melihat perjalanan sejarah Bojonegoro sekaligus memikirkan masa depannya. Dengan tema peringatan yang menekankan daya saing, transformasi, keadilan, dan kemakmuran, kebudayaan semestinya ditempatkan sebagai salah satu unsur yang turut menentukan arah pembangunan daerah.

Ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan untuk memperkuat arah tersebut.

Pertama, menjadikan setiap festival sebagai ruang pembelajaran budaya melalui dialog dengan seniman, cerita sejarah, lokakarya, dan pelibatan sekolah maupun komunitas.

Kedua, membangun program pembinaan yang berkelanjutan. Kelompok seni perlu memperoleh ruang latihan, pendampingan, regenerasi, kesempatan pertunjukan, serta dukungan pendokumentasian yang tidak hanya berlangsung menjelang perayaan hari jadi.

Ketiga, mengembangkan ekonomi budaya secara adil. Pelaku seni dan masyarakat pendukung harus memperoleh manfaat yang nyata, sedangkan promosi pariwisata perlu dihubungkan dengan produk kreatif, kuliner lokal, dan pengalaman budaya yang dikelola secara bertanggung jawab.

Keempat, mengevaluasi keberhasilan program melalui indikator yang lebih luas daripada jumlah acara dan pengunjung. Keberlanjutan kelompok seni, keterlibatan anak muda, kualitas dokumentasi, partisipasi masyarakat, dan kesejahteraan pelaku budaya juga perlu diperhatikan.

Langkah-langkah ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, seniman, akademisi, sekolah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat. Kebudayaan akan sulit bertahan apabila tanggung jawabnya hanya diletakkan pada satu lembaga atau hanya dihidupkan pada bulan perayaan.

Penutup: Daerah yang Berbudaya Bukan Hanya yang Meriah, tetapi yang Mampu Merawat Ingatannya

Rangkaian kegiatan Hari Jadi Bojonegoro ke-349 memperlihatkan peluang penting bagi kebudayaan untuk hadir di pusat kehidupan publik. Panggung dan festival dapat membangkitkan kebanggaan daerah, mempertemukan masyarakat, serta membuka ruang bagi kesenian lokal untuk dikenal lebih luas.

Namun, ukuran keberhasilan kebudayaan tidak berhenti pada kemeriahan sebuah perayaan. Ia perlu dilihat dari keberlanjutan tradisi, tumbuhnya pengetahuan antargenerasi, penghargaan terhadap pelaku seni, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Pada akhirnya, daerah yang benar-benar berbudaya bukan hanya daerah yang mampu menyelenggarakan festival besar, melainkan daerah yang membuat keseniannya tetap hidup setelah panggung dibongkar, para penonton pulang, dan perayaan hari jadi usai.

Itulah tantangan sekaligus peluang Bojonegoro pada usia ke-349: menjadikan kebudayaan bukan hanya ikon perayaan, tetapi kekuatan sosial, sumber pengetahuan, dan fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *