Oleh: Choirul Anam
Pagi itu, langit belum sepenuhnya terang ketika suara toa mushala di kampung saya mulai memecah sunyi. Bukan pengajian biasa, bukan pula pengumuman kehilangan ayam tetangga. Hari itu, ada semacam getar yang berbeda: Hari Lahir Ansor ke-92. Tema yang diusung pun terasa sederhana, tapi justru karena itu ia terasa dekat – “Bersatu, Berperan untuk Negeri.”
Saya duduk di beranda, ditemani secangkir kopi yang mulai dingin karena terlalu asyik merenung. Dalam kepala, satu pertanyaan menggelitik: di usia 92 tahun, apa sebenarnya makna “berperan” itu bagi kader Ansor hari ini? Apakah cukup dengan apel kebangsaan, seragam loreng kebanggaan, dan foto bersama yang kemudian diunggah ke media sosial? Atau justru ada sesuatu yang lebih sunyi, lebih membumi, dan sering luput dari sorotan?
Sejarah mencatat, organisasi Gerakan Pemuda Ansor lahir pada 24 April 1934 sebagai bagian dari denyut nadi Nahdlatul Ulama. Ia bukan sekadar organisasi kepemudaan, tetapi wadah kaderisasi yang sejak awal didesain untuk menjaga agama sekaligus merawat bangsa. Dalam perjalanan panjangnya, Ansor tidak hanya hadir di ruang-ruang dakwah, tetapi juga di garis depan perjuangan kebangsaan—dari masa penjajahan, era kemerdekaan, hingga dinamika Indonesia modern hari ini.
Namun, refleksi harlah ke-92 ini seperti mengajak kita menepi sejenak. Tidak lagi sekadar membanggakan sejarah, tetapi bertanya jujur: apa yang sudah kita lakukan hari ini?
“Bersatu, Berperan untuk Negeri” bukan slogan yang megah di atas panggung, melainkan konsep yang justru menemukan maknanya dalam hal-hal kecil. Di desa-desa, misalnya, kader Ansor sering kali menjadi motor penggerak kegiatan sosial—mulai dari kerja bakti membersihkan saluran air, membantu warga yang kesulitan, hingga menjaga keamanan lingkungan saat malam hari. Tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tetapi di sanalah letak kontribusi nyata itu.
Saya teringat seorang sahabat, sebut saja Ahmad, kader Ansor di kampung sebelah. Ia bukan tokoh besar, bukan pula pejabat. Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang bangunan. Tapi setiap malam, ia rutin ikut ronda. Ketika ada warga sakit, ia yang pertama datang membantu mengantar ke puskesmas. Saat banjir kecil melanda, ia pula yang sibuk mengatur aliran air dan memastikan anak-anak tetap aman. Tidak pernah ia menyebut dirinya “berperan untuk negeri”. Tapi justru dari tindakan-tindakan kecil itulah negeri ini diam-diam berdiri kokoh.
Dalam perspektif ilmu sosial, kontribusi seperti ini sering disebut sebagai *social capital*—modal sosial yang menjadi perekat masyarakat. Robert D. Putnam dalam karyanya *Bowling Alone* menjelaskan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh ekonomi atau politik, tetapi juga oleh jaringan sosial, kepercayaan, dan solidaritas warganya. Dalam konteks ini, kader Ansor yang aktif di tengah masyarakat sejatinya sedang membangun fondasi tak terlihat yang sangat penting bagi kemajuan bangsa.
Di sisi lain, tantangan zaman juga berubah. Jika dulu perjuangan lebih banyak dilakukan secara fisik, hari ini medan juangnya meluas ke dunia digital. Hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi menjadi ancaman baru. Di sinilah peran pemuda Ansor menjadi semakin relevan. Tidak sedikit kader yang kini aktif melawan disinformasi, menyebarkan narasi moderasi beragama, dan menjaga ruang digital tetap sehat.
Misalnya, di media sosial, kita sering menemukan konten-konten edukatif dari kader Ansor yang mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi. Mereka tidak selalu viral, tetapi konsisten. Mereka tidak selalu mendapat apresiasi, tetapi tetap berjalan. Dan mungkin, justru karena itu mereka menjadi penting.
Konsep “bersatu” dalam tema harlah kali ini juga menarik untuk direnungkan. Bersatu bukan berarti seragam dalam segala hal, tetapi mampu berdiri bersama di atas perbedaan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, hal ini menjadi sangat krusial. Kader Ansor, dengan latar belakang pesantren yang kuat, memiliki modal kultural untuk menjadi jembatan antar kelompok—menyapa yang berbeda tanpa curiga, merangkul tanpa syarat berlebihan.
Kita bisa melihat contoh konkret saat perayaan hari besar keagamaan. Di banyak daerah, Banser—sebagai bagian dari Ansor—turut membantu pengamanan gereja saat Natal. Sebuah tindakan sederhana, tetapi sarat makna. Ia bukan sekadar soal keamanan, tetapi pesan bahwa Indonesia dibangun di atas rasa saling percaya.
Pada akhirnya, refleksi harlah ke-92 ini seperti mengingatkan kita bahwa kontribusi tidak harus selalu besar dan spektakuler. Negeri ini tidak hanya dibangun oleh mereka yang berdiri di podium, tetapi juga oleh mereka yang diam-diam bekerja di balik layar. Oleh kader-kader yang mungkin tidak dikenal, tetapi kehadirannya dirasakan.
Maka, “berperan untuk negeri” bisa dimulai dari hal paling sederhana: menjadi warga yang peduli, menjaga lingkungan, membantu sesama, dan terus belajar agar bisa memberi lebih banyak. Tidak perlu menunggu jabatan, tidak harus menunggu panggung.
Di usia 92 tahun, Ansor telah membuktikan bahwa keberlanjutan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur, tetapi oleh ruh pengabdian para anggotanya. Dan ruh itu, sejauh yang saya lihat pagi ini, masih menyala—di warung kopi, di pos ronda, di mushala kecil, dan di layar-layar ponsel yang sederhana.
Kopi saya sudah benar-benar dingin ketika toa kembali berbunyi. Kali ini, ajakan untuk berkumpul di lapangan desa. Saya tersenyum kecil. Mungkin, di sanalah refleksi ini akan menemukan bentuk nyatanya: bukan dalam kata-kata, tetapi dalam langkah-langkah kecil yang terus bergerak.
Karena pada akhirnya, negeri ini tidak butuh janji besar. Ia hanya butuh kita—yang bersatu, dan mau benar-benar berperan.
Selamat Harlah Ansor ke-92, 24 April 2026
*) Penulis adalah Ketua PAC Ansor Balen, Ketua Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) PC Ansor Bojonegoro














