JagatSembilan.com | Bojonegoro — Wakil Ketua LAKPESDAM PWNU Jawa Timur Hari Nugroho memaparkan potret dinamika warga Nahdlatul Ulama dalam Seminar dan Pengukuhan LAKPESDAM PCNU Bojonegoro yang digelar di Auditorium Hasyim Asy’ari Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro, Sabtu (16/05/2026).
Dalam paparannya bertajuk “Dinamika Warga NU: Membaca Perubahan, Menyiapkan Masa Depan”, Hari Nugroho menyoroti perubahan besar yang tengah terjadi di tubuh masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan warga NU.
Generasi Muda Jadi Wajah Baru Indonesia
Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini didominasi generasi muda. Berdasarkan data SUPAS 2025, sekitar 68,92 persen penduduk Indonesia berasal dari generasi Post-Gen Z, Gen Z, dan Milenial.
“NU harus membaca perubahan ini. Karena wajah Indonesia sekarang adalah wajah generasi muda dan masyarakat digital,” terang Hari Nugroho.
Menurutnya, tantangan NU saat ini bukan hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga bagaimana mampu hadir di ruang digital dan menjawab kebutuhan generasi muda.
Perubahan Pola Belajar Agama di Era Digital
Dalam survei yang dipaparkan, mayoritas umat Islam masih menjadikan agama sebagai bagian penting dalam kehidupan. Namun pola pencarian informasi keagamaan mulai berubah, di mana platform digital seperti YouTube menjadi salah satu rujukan utama masyarakat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa dakwah digital kini memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang dan pemahaman keagamaan masyarakat, khususnya kalangan muda.
Figur Tokoh Agama Populer di Kalangan Publik
Hari Nugroho juga menyinggung fenomena tokoh agama yang populer di kalangan masyarakat dan warga NU.
Dalam survei tersebut, figur seperti Abdul Somad, Adi Hidayat, dan Bahauddin Nur Salim menjadi tokoh agama yang paling dikenal publik.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi NU untuk memperkuat figur ulama dan dakwah digital di kalangan anak muda.
Tradisi Nahdliyin Masih Kuat Dilestarikan
Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa tradisi keagamaan khas Nahdliyin seperti tahlilan, maulid nabi, qunut subuh, dan ziarah makam ulama masih kuat dilakukan masyarakat.
Meski demikian, kedekatan generasi muda terhadap organisasi NU disebut mulai menurun. Bahkan sebagian besar Gen Z dinilai belum mengenal badan otonom atau banom-banom NU secara mendalam.
“Secara amaliyah mereka masih NU, tetapi secara organisatoris perlu diperkuat kembali,” ujarnya.
Warga NU Butuh Layanan yang Lebih Konkret
Dalam bidang sosial, warga NU disebut kini membutuhkan layanan yang lebih konkret seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga konsultasi keluarga dan fiqih muamalah.
Survei tersebut juga menemukan bahwa mayoritas warga NU masih memilih rumah sakit pemerintah untuk berobat karena keterbatasan layanan rumah sakit milik NU.
Sementara dalam bidang pendidikan, banyak warga NU lebih memilih sekolah negeri dibanding sekolah milik NU karena faktor jarak, fasilitas, dan kualitas sarana pendidikan.
Transformasi NU Jadi Kunci Hadapi Perubahan Zaman
Di akhir pemaparannya, Hari Nugroho menegaskan pentingnya transformasi NU agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Beberapa rekomendasi yang disampaikan antara lain penguatan kaderisasi Gen Z, pengembangan media digital NU, penguatan layanan kesehatan dan pendidikan NU, hingga pengembangan ekonomi berbasis warga dan digitalisasi organisasi.
“NU tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan zaman,” pungkasnya.













