Oleh: K. Ahmadi Ilyas
Perang Karbala merupakan salah satu peristiwa paling tragis dan berpengaruh dalam sejarah Islam. Peristiwa ini terjadi pada 10 Muharram 61 H / 10 Oktober 680 M di padang Karbala (sekarang Irak), yang berakhir dengan gugurnya Sayyidina Husain bin Ali ra, cucu Rasulullah SAW, bersama keluarga dan para pengikutnya.
1. Sebab Terjadinya Perang Karbala
A. Pergantian Kekuasaan dari Muawiyah kepada Yazid
Setelah wafatnya Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 60 H, putranya Yazid bin Muawiyah diangkat menjadi khalifah. Pengangkatan Yazid ini menurut sebagian sahabat tidak sesuai dengan kesepakatan yang terjadi saat Sayyidan Hasan menyerahkan kekhilafan kepada Muawiyah (amul jamaah, 41 H) dimana setelah Muawiyah mangkat maka urusan kekhalifahan di serahkan kepada musyawarah kaum muslimin.
Pada akhirnya Banyak tokoh Muslim yang menolak memberikan baiat (sumpah setia) kepada Yazid karena menilai pengangkatannya lebih bersifat pewarisan kerajaan daripada sistem syura (musyawarah).
Di antara tokoh yang menolak baiat adalah:
1. Husain bin Ali RA
2. Abdullah bin Zubair RA
3. Abdullah bin Umar RA (tidak memberontak, tetapi bersikap hati-hati)
B. Undangan Penduduk Kufah.
Setelah pengangkatan Yazid, banyak penduduk daerah Islam yang belum atau enggan membaiat Yazid. Diantaranya adalah Madinah, dan makah. Termasuk yang masih belum membaiat adalah penduduk kufah, pusat pemerintahan Sayyidina Ali saat menjadi Khalifah ke 4.
Penduduk Kufah, yang notabene adalah pendukung sayyidina Ali, mengirim banyak surat kepada Husain agar datang ke Kufah dan memimpin mereka melawan pemerintahan Yazid. Mereka berjanji akan mendukung dan membaiat Husain.
Untuk memastikan keadaan, Husain mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil, ke Kufah. Awalnya banyak penduduk Kufah menyatakan dukungan, tetapi setelah Yazid mengangkat gubernur baru, Ubaidillah bin Ziyad, seseorang yang otoriter. Melihat gerakan penduduk kufah seperti itu, menurut ubaidillah hal ini sangat membahayakan kekuasan. Sehingga ia mengambil tindakan tegas, menangkap, mememjara dan menyiksa sebagian besar pendukung Husain. Dan juga menangkap Muslim bin Aqil dan akhirnya dibunuh.
Namun berita ini belum sepenuhnya sampai kepada Husain yang telah berangkat dari Makkah menuju Irak.
2. Kronologi Perang Karbala
A. Husain Menuju Irak
Husain berangkat dari Makkah bersama keluarga dan sejumlah kecil pengikutnya, sekitar 70-an orang.
Di tengah perjalanan, alhusain di temui sahahat Abdulloh bin Umar. Abdulloh bin Umar menyarankan agar Albhusain jangan berangkat ke Kufah. Tapi Karena niat Alhusain sudah bulat untuk tetap pergi ke Kufah. Pada akhirnya Abdulloh bin Umar meminta satu permintaan sebelum Alhusain meneruskan perjalanan. Ia ingin mencium pusar Alhusain, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Kakeknya, Rasulullah SAW kepadanya.
Akhirnya kedua sahabat itu pun berpisah. Perpisahan yang tidak akan lagi ada pertemuan setelahnya. Di tengah perjalanan lagi, Alhusain menerima kabar bahwa Muslim bin Aqil telah gugur dan situasi Kufah berubah.
B. Tiba di Karbala
Pasukan gubernur Kufah menghadang rombongan Husain dan memaksa mereka berhenti di Karbala pada tanggal 2 Muharram 61 H.
Jumlah pasukan Husain sangat sedikit dibanding pasukan Kufah yang mencapai ribuan orang.
C. Pemutusan Akses Air
Pasukan Kufah mengepung rombongan Husain dan membatasi akses mereka ke Sungai Eufrat. Selama beberapa hari mereka mengalami kesulitan mendapatkan air, termasuk anak-anak dan perempuan yang menyertai rombongan.
D. Hari Asyura (10 Muharram)
Pada tanggal 10 Muharram terjadi pertempuran. Para sahabat dan keluarga Husain gugur satu demi satu.
Di antara yang syahid:
Abbas bin Ali
Ali Akbar bin Husain
Qasim bin Hasan
Sejumlah anggota Ahlul Bait dan sahabat setia lainnya
Akhirnya Husain bin Ali RA sendiri gugur di medan Karbala.
Setelah itu, keluarga yang masih hidup, termasuk Sayyidah Zainab dan Ali Zainal Abidin, ditawan dan dibawa ke Kufah lalu ke Damaskus.
3. Dampak Perang Karbala
A. Dampak Politik
Peristiwa Karbala mengguncang legitimasi pemerintahan Yazid di mata banyak kaum Muslimin.
Setelah Karbala muncul berbagai gerakan perlawanan terhadap Bani Umayyah, seperti:
- Gerakan Tawwabun (orang-orang yang menyesal karena tidak menolong Husain)
- Pemberontakan Mukhtar ats-Tsaqafi dan
- Perlawanan Abdullah bin Zubair
B. Dampak Keagamaan
Karbala menjadi simbol perjuangan melawan kezaliman dan mempertahankan prinsip kebenaran.
Bagi kaum Syiah, peristiwa ini menjadi pusat identitas keagamaan dan diperingati setiap tahun pada hari Asyura.
Sedangkan dalam tradisi Ahlusunah, Husain dipandang sebagai cucu Rasulullah ﷺ yang mulia dan syahid secara zalim, namun tanpa menjadikan peringatan tersebut sebagai ritual ratapan.
C. Dampak Sosial dan Peradaban
Kisah Karbala melahirkan banyak karya sejarah, sastra, syair, dan refleksi moral tentang:
- Keberanian
- Kesetiaan
- Pengorbanan
- Keteguhan memegang prinsip
4. Sikap Ahlusunah terhadap Perang Karbala
Mayoritas ulama Ahlusunah bersepakat bahwa:
- Husain bin Ali adalah imam yang mulia dan syahid.
- Membunuh Husain merupakan dosa besar dan kejahatan yang sangat berat.
- Tidak boleh mencaci para sahabat Nabi SAW.
- Peristiwa Karbala dijadikan pelajaran sejarah kelam, bukan sarana menumbuhkan kebencian antar golongan.
Imam adz-Dzahabi berkata:
“Husain syahid, mulia, dan terbunuh secara zalim. Semoga Allah meridhainya dan membalas orang-orang yang membunuhnya sesuai dengan keadilan-Nya.”
Alhasil, Perang Karbala berawal dari krisis politik setelah pengangkatan Yazid sebagai khalifah dan harapan penduduk Kufah agar Husain memimpin mereka. Peristiwa tersebut berakhir dengan gugurnya Husain bin Ali RA beserta para pengikutnya pada 10 Muharram 61 H.
Karbala meninggalkan dampak besar dalam sejarah Islam, baik secara politik, sosial, maupun keagamaan, serta menjadi simbol perjuangan menegakkan prinsip dan kehormatan di tengah tekanan kekuasaan. Sejarah kelam ini semoga jangan sampai terjadi lagi dimasa kini atau masa yang akan datang.
*) Penulis adalah K. Ahmadi Ilyas Pengasuh Ponpes Darul Ma’arif Bojonegoro














