Saya adalah seorang siswa yang pada tahun 2026 telah memiliki KTP dan menyelesaikan pendidikan serta pelatihan Master Hypnotis di IHC. Sebelum mencapai tahap tersebut, saya terlebih dahulu mengikuti tahapan dasar dan advance.
Setelah menyelesaikan jenjang Master Hypnotis, rasa ingin tahu saya terhadap kemampuan pikiran dan kesadaran manusia justru semakin besar. Saya kemudian mengikuti pelatihan Ultra Height di IHC di Jakarta untuk mempelajarinya lebih dalam.
Pengalaman dengan Ultra Height
Dalam pengalaman saya mengikuti dan mempraktikkan Ultra Height, saya merasa memperoleh berbagai informasi, sudut pandang, serta gambaran yang membantu saya memahami diri sendiri, pengalaman masa lalu, dan langkah yang ingin saya ambil ke depan.
Saya memahami bahwa setiap orang dapat mempunyai pendapat berbeda mengenai pengalaman seperti ini. Saya menghargai perbedaan tersebut dan tidak bermaksud menyudutkan ataupun memaksakan pandangan saya kepada siapapun.
Apa yang saya tuliskan di sini semata-mata merupakan pengalaman pribadi sebagaimana yang saya rasakan dan pahami.
Mulai Mengenal OOBE
Perjalanan saya kemudian berlanjut dengan mempelajari Out of Body Experience (OOBE). Di kenal mudah di sebut dengan raga sukma melalui pelatihan yang juga saya ikuti di IHC. Salah satu trainer yang banyak membimbing saya adalah Acalendra. Saya mengucapkan terima kasih atas ilmu, arahan, dan bimbingan yang diberikan kepada saya hingga sekarang.
Melalui latihan OOBE tersebut, saya mengalami sensasi seolah-olah kesadaran saya berada di luar tubuh.
Dalam pengalaman itu, saya merasa seperti dapat melihat tubuh saya sendiri yang masih bernapas dengan napas yang sangat halus. Saya tidak dapat memastikan apakah yang saya rasakan tersebut dapat disebut sebagai sukma, kesadaran, atau istilah lainnya. Saya hanya dapat menceritakan apa yang saya alami.
Pengalaman tersebut terasa sangat nyata bagi saya.
Saya juga mengalami berbagai fenomena yang saya tafsirkan sebagai pengalaman astral atau pengalaman lintas dimensi. Dalam pengalaman subjektif tersebut, saya merasa bertemu dan berkomunikasi dengan berbagai sosok atau fenomena yang terasa nyata.
Sekali lagi saya perlu menegaskan: ini adalah pengalaman pribadi saya.
Saya tidak mengatakan bahwa pengalaman yang saya alami harus dimaknai dengan cara yang sama oleh setiap orang. Saya juga tidak bermaksud menjadikannya sebagai bukti bahwa fenomena astral atau dimensi lain telah terbukti secara ilmiah.
Antara Pengalaman Dan Ilmu Pengetahuan
Dahulu saya termasuk orang yang mungkin akan mengatakan bahwa pengalaman seperti keluar dari tubuh adalah sesuatu yang mustahil.
Namun setelah mengalaminya sendiri melalui proses latihan, pandangan pribadi saya berubah. Bagi saya, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari lebih jauh.
Saya mengikuti pelatihan secara terstruktur dan memperoleh pengalaman secara langsung. Tetapi saya juga menyadari bahwa pelatihan yang terstruktur tidak otomatis menjadikan seluruh interpretasi terhadap pengalaman OOBE sebagai fakta ilmiah yang telah terbukti.
Ilmu pengetahuan memiliki metode dan standar pembuktiannya sendiri. Karena itu, saya memilih menempatkan pengalaman ini sebagai pengalaman pribadi yang dapat menjadi bahan refleksi, diskusi, dan mungkin juga penelitian lebih lanjut.
Bagi saya, pengalaman OOBE membuka sebuah pertanyaan besar tentang kesadaran manusia: sejauh mana sebenarnya kita telah memahami hubungan antara otak, pikiran, persepsi, mimpi, sugesti, dan kesadaran?
Saya sendiri masih ingin belajar.
Penutup
Saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada siapa pun yang berkenan membacanya.
Bagi yang mempunyai pengalaman atau pandangan serupa, mari kita jadikan sebagai ruang untuk berdiskusi dan belajar. Bagi yang mempunyai pandangan berbeda atau tidak mempercayainya, saya pun menghormatinya.
Saya tidak meminta siapa pun untuk mempercayai apa yang saya alami.
Mohon maaf apabila apa yang saya tuliskan dan apa yang saya rasakan berbeda dengan pandangan Bapak, Ibu, guru, teman-teman, maupun pembaca sekalian.
Perbedaan tidak harus membuat kita saling menyalahkan. Pengalaman manusia dapat berbeda, ilmu pengetahuan terus berkembang, dan pemahaman kita juga mempunyai keterbatasan.
Pada akhirnya, kebenaran sejati adalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa.
Penulis adalah Farel Laksamana Ro’uf













