Oleh: Nono Warnono
Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 dengan tema “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas” telah berlalu namun resonansinya masih terus meluas di berbagai platform media sosial maupun di dunia nyata. Di medsos, berbagai tagar, poster, gambar giat, hingga opini masih viral bertebaran. Menggambarkan Betapa Hari Santri menjadi momentum bagi santri dan pesantren sebagai entitas penting dalam menumbuhkembangkan keilmuan dan eksistensinya dalam perjuangan bangsa menuju kemerdekaan yang tertera dalam Resolusi Jihad. Di dunia nyata agenda acara terkait dengan perayaan Hari Santri masih berlangsung dalam nuansa kegembiraan sekaligus membuncahnya rasa nasionalisme. Selain seremonial upacara, berbagai panggung shalawat hingga kirab HSN masih mewarnai aktivitas ponpes, organisasi kemasyarakatan, hingga lembaga sekolah/ madrasah.
Sejatinya gaung HSN saban 22 Oktober, bukan hanya sekedar wujud penghormatan kepada kalangan santri dan pesantren, namun juga momentum untuk mengingat kembali peran historis kaum santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Karena semangat tersebut menjadi penggerak perlawanan rakyat termasuk dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya yang sangat heroik.
Dalam perspektif historis, betapa sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk menjawab berbagai tantangan zaman yang dinamis mewarnai peradaban manusia. Jika dahulu jihad direalisasikan dalam wujud perjuangan fisik dalam melawan penjajahan pun kolonialisme, di era digital nilai-nilai semangat tersebut niscaya diterjemahkan dalam manifestasi bentuk lain selaras dengan jamannya. Nut jaman kelakone.. Ketika ancaman terhadap masa depan suatu bangsa tidak lagi datang dalam bentuk kolonialisme namun berwujud kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan teknologi dan degradasi etis, maka perjuangan berubah bentuk sesuai dengan medan.
Refleksi Jihad Era Disrupsi
Dinamika era disrupsi dengan lompatan teknologi dalam peradabankiwari, meniscayakan para santri memperluas medan jihad melalui berbagai dimensi kehidupan. Semisal pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, penguatan ekonomi serta perjuangan membangun masyarakat yang berkeadilan dan peradaban bernilai humanis. Fenomena kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, dan ekonomi digital mengubah cara manusia bekerja, belajar dan berkomunikasi. Segala aktivitas yang dahulu bergantung pada sumberdaya manusia (human resources) berganti mesin dan algoritma.
Betapa dibutuhkan adaptasi menghadapi perubahan ekstrem dengan menciptakan inovasi dan memperluas kontribusi. Realita tersebut bagi santri seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman namun sebuah tantangan untuk menjadikan santri warga bangsa yang potensial untuk berkopetensi di ranah nyata maupun ratmaya. Santri tidak hanya pemakai teknologi semata, namun juga pengembang, peneliti dan pemimpin yang mampu mengintegrasikan kompetensi profesional dengan nilai keislaman sehingga tidak kontra produktif di tengah perubahan zaman.
Ketika jihat mengusir penjajah telah berlalu, kini berganti jihad intelektual, jihad ekonomi, jihad teknologi, hingga jihad moral yang menjadi arus utama. Oleh karenanya, Resolusi Jihad tidak kehilangan relevansi, karena yang berubah adalah bentuk pengabdian dan tantangan yang dihadapi di masa kini. Namun esensi dan substansi secara historis maupun kiwari tetap terintegrasi di dalamnya, tanpa menghilangkan makna yang sesungguhnya.
Dimensi lain yang perlu dikedepankan di era disrupsi adalah pembangunan karakter (caracter building). Karakter menjadi kekuatan tradisi pesantren. Budaya santri membiasakan hormat guru, taat pranata, hidup bersama orang lain dan disiplin, adalah kekuatan karakter pesantren yang menjadi modal di tengah kehidupan global. Ketika AI menjadi persoalan mendasar, bagaimana manusia harus mempertahankan kualitas berpikir dan tanggungjawab moral ketika berbgai pekerjaan dilakukan otomatis. Teknologi memang punya peran, namun kehadirannya tetap ditangan manusia. Dalam kondisi demikian, santri harus mengembangkan literasi teknologi dan literasi moral. Sehingga dapat secara efektif mengendalikan teknologi dalam kebermanfaatan kehidupan manusia.
Realisasi jihad modern di Hari Santri ini adalah upaya bertransformasi membangun ekosistem yang memungkinkan sastri mampu mengembangkan potensinya serta memperteguh komitmen keislaman.
Toleransi dan Satgas Safe Santri
Momentum Hari Santri memiliki makna semakin strategis, tersebab euforianya tidak hanya dilakukan oleh umat Islam ansich, namun juga elemen masyarakat lintas agama. Di beberapa daerah seperti Banyuwangi dan Pacitan, upacara dan kitab hari santri diikuti pecalang dan umat Katolik, yang juga membuka posko berbagi makanan dan cek kesehatan. Fenomena tersebut menggambarkan suasana harmoni yang sarat dengan toleransi keberagaman dalam membangun kerukunan antar umat beragama.
Peringatan Hari Santri juga mengandung makna resiliensi, ketika tahun ini Menteri Agama meluncurkan Satgas Safe Santri yang bertujuan menekan kekerasan di lingkungan pesantren. Sebuah ikhtiar menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Mereduksi bullying begitu penting untuk membangun kembali citra pesantren yang positif dengan melakukan tindakan preventif. Konkritnya, santri wajib menguatkan negeri melalui penguasaan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, inovasi, serta kedalaman akhlak mulia. Satgas Safe Santri diproyeksikan bekerja secara terintegrasi hingga ke tingkat pesantren di daerah. Untuk mendukung agenda strategis tersebut kemenag melibatkan aparat penegak hukum dan influencer dalam mengedukasi.
Wabakdu, dengan ikhtiar-ikhtiar penuh ghirah di momen Hari Santri tersebut, kedepan eksistensi santri dan pesantren akan semakin strategis dalam menyebarkan Islam nan rahmatan lil’alamin, senyampang membangun negara bangsa yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.
*) Penulis adalah pegiat pendidikan, sastra dan sosial budaya di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)













