JagatSembilan.com | Dari sebuah desa di Kabupaten Bojonegoro, lahir seorang perempuan yang kini dikenal luas di kancah nasional dan internasional sebagai pejuang hak asasi manusia. Dialah Anis Hidayah, aktivis kelahiran 7 November 1976, yang pada Mei 2025 resmi dipercaya memimpin Komnas HAM sebagai ketua.
Jejak panjang perjuangan Anis tak bisa dilepaskan dari latar tempat ia dilahirkan. Bojonegoro, wilayah dengan basis besar pekerja migran, telah menorehkan banyak kisah getir warganya yang menjadi korban penipuan, kekerasan, hingga pelanggaran HAM di luar negeri. Dari realitas itu, tekad Anis ditempa: memperjuangkan hak buruh migran yang selama ini terpinggirkan.
Awal Perjalanan
Sejak muda, Anis sudah aktif dalam gerakan sosial. Pada 1998, ia turut mendirikan Solidaritas Perempuan Jawa Timur, wadah yang berfokus pada isu perempuan dan migrasi. Dua tahun kemudian, kiprahnya semakin terarah saat ia ikut merintis Migrant CARE, organisasi advokasi buruh migran yang kini dikenal luas.
Latar belakang akademiknya turut menguatkan perjuangannya. Anis menempuh pendidikan di Universitas Jember (S1 Hukum) dan Universitas Gadjah Mada (S2 Hukum Internasional). Ia juga mengikuti berbagai pelatihan internasional di Jenewa, Berlin, Seoul, hingga Amerika Serikat yang memperkaya perspektifnya dalam advokasi global.
Aktivisme dan Karya
Lebih dari dua dekade, Anis konsisten mengawal isu perlindungan pekerja migran. Ia menyoroti pandangan pemerintah yang sering menganggap TKI sekadar “pahlawan devisa” tanpa memperhatikan hak mereka atas perlindungan. “Pekerja migran bukan hanya penghasil devisa, tetapi manusia yang harus dijamin keselamatan dan martabatnya,” tegasnya dalam berbagai forum.
Selain di jalur advokasi, Anis juga menyalurkan pemikirannya lewat buku. Beberapa karyanya antara lain Di Balik Remitansi: Pelanggaran HAM terhadap Buruh Migran Indonesia (2019), Selusur Kebijakan (Minus) Perlindungan Buruh Migran Indonesia (2013), hingga Gus Dur dan Buruh Migran (2016). Karya-karya itu memperlihatkan kedalaman analisis sekaligus komitmen kuat pada isu HAM.
Prestasi dan Pengakuan
Perjuangan Anis mendapatkan pengakuan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Ia pernah dianugerahi Yap Thiam Hien Award 2014, penghargaan prestisius di bidang HAM. Sebelumnya, pada 2011, Human Rights Watch memberinya Human Rights Defender Award di New York.
BBC juga menobatkannya dalam daftar 100 Women 2013, sementara Majalah Forbes Indonesia memasukkannya sebagai salah satu dari 10 Perempuan Inspiratif 2015. UN Women, badan PBB untuk pemberdayaan perempuan, bahkan menyebutnya sebagai Perempuan Perubahan 2019-2020.
Peran di Panggung Nasional
Selain di jalur aktivisme, Anis juga kerap dipercaya menjalankan tugas negara. Ia pernah duduk sebagai panitia seleksi Ombudsman RI, anggota Tim Saber Pungli Kemenkopolhukam, hingga panelis Debat Capres-Cawapres 2019.
Tak hanya itu, ia juga aktif di dunia akademis sebagai dosen tamu di berbagai universitas bergengsi, mulai dari Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, hingga UCLA Berkeley Amerika Serikat dan Ochanomizu University Jepang.
Amanah Baru di Komnas HAM
Pengalaman panjang itulah yang akhirnya mengantarkan Anis Hidayah ke posisi strategis sebagai Ketua Komnas HAM pada 2025. Dengan amanah ini, publik berharap kiprah Anis mampu membawa lembaga tersebut lebih responsif terhadap isu-isu kemanusiaan, terutama perlindungan pekerja migran yang sejak lama menjadi fokus perjuangannya.
Bagi Bojonegoro, lahirnya sosok seperti Anis Hidayah menjadi kebanggaan tersendiri. Dari tanah kelahirannya yang sederhana, ia berhasil menunjukkan bahwa perjuangan untuk kemanusiaan bisa menembus batas negara, bahkan menggema ke panggung dunia.(Amin)
Source: Wikipedia














