BI Jatim dan Dinsos Bojonegoro Edukasi Rupiah untuk Pertuni

Peserta Pertuni Bojonegoro foto bersama usai edukasi CBP Rupiah bersama BI Jatim dan Dinsos Bojonegoro
Peserta DPC Pertuni Bojonegoro foto bersama usai mengikuti Sosialisasi Edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah yang digelar Bank Indonesia Jawa Timur bersama Dinas Sosial Bojonegoro di Aula SLB Negeri Sumbang, Selasa (26/5/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur bersinergi dengan Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro menggelar kegiatan Sosialisasi Edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah di Aula SLB Negeri Sumbang, Bojonegoro, Selasa (26/5/2026). Acara yang berlangsung gayeng dan interaktif ini menyasar puluhan anggota DPC Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) Bojonegoro sebagai peserta utama.

Hadir mewakili Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial,  Nafiatin Ni’mah, S.E., menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya edukasi inklusif ini.

Dalam sambutannya saat membuka acara, Nafiatin Ni’mah menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengawal kesetaraan hak informasi dan kemandirian bagi seluruh warga, tanpa terkecuali.

“Memahami Rupiah adalah hak sekaligus kewajiban seluruh warga negara. Kami sangat mendukung program ini agar rekan-rekan kita memiliki akses informasi yang setara untuk mengenali dan menjaga uang Rupiah, sehingga terhindar dari risiko kejahatan keuangan seperti peredaran uang palsu,” ujar Bu Ni’mah sapaan akrabnya.

Bu Ni’mah juga sempat mencairkan suasana aula dengan selingan humor segar yang disambut tawa renyah para peserta.

Dalam pemaparannya, perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Jindan Alwifaqi mengupas tuntas esensi gerakan CBP Rupiah. Pada aspek Cinta Rupiah, peserta diedukasi untuk mengenali uang melalui kode khusus (blind code) berupa garis timbul (tactile bando) di setiap tepi uang kertas. BI juga menekankan gerakan “5 Jangan”.

“Yaitu Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan distapler, dan Jangan dibasahi,” kata Jindan Alwifaqi.

Menurutnya hal itu karena uang yang lecek akan merusak tekstur kode rabaan tersebut. Selain itu, aspek Bangga dan Paham Rupiah mengedukasi peserta untuk selalu menggunakan Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara serta bijak dalam membelanjakannya.

Suasana semakin seru saat memasuki sesi game edukatif. Panitia menantang perwakilan anggota Pertuni untuk adu cepat menyusun lembaran uang Rupiah acak, mulai dari pecahan nominal terbesar hingga terkecil hanya dengan mengandalkan indra peraba. Peserta yang berhasil menyusun paling cepat dan akurat langsung mendapatkan hadiah menarik dari panitia.

Di sisi lain, kegiatan ini juga memberikan edukasi penting mengenai perkembangan bahasa yang inklusif. Kepala SLB Negeri Sumbang, Muslihati, S.Pd., dalam kesempatannya menjelaskan tentang evolusi penggunaan istilah bagi penyandang disabilitas.

“Dulu masyarakat familier dengan sebutan ‘cacat’, kemudian berkembang menjadi ‘tunanetra’, dan selanjutnya dalam bahasa Inggris diserap menjadi ‘disabilitas’. Namun, untuk penggunaan kalimat yang paling tepat, santun, dan dianjurkan saat ini adalah menggunakan kata ‘Hambatan’, seperti Hambatan Penglihatan, Hambatan Pendengaran, dan hambatan lainnya,” jelas Muslihati,

Acara yang turut dihadiri oleh jajaran perwakilan kecamatan, kelurahan, serta Dewan Pembina dan Ketua DPC Pertuni Bojonegoro, Bapak Ali, ini ditutup dengan harapan agar sinergi program pemberdayaan dan literasi keuangan yang ramah bagi warga dengan hambatan penglihatan dapat terus berkelanjutan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *