BPS: Bojonegoro Tetap Masuk 10 Besar Penyumbang Ekonomi Jatim di Tengah Tekanan Migas

Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro Syawaluddin Siregar memaparkan data pertumbuhan ekonomi Bojonegoro Triwulan I-2026 di hadapan Wakil Bupati dan jajaran pemerintah daerah.
Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menjelaskan data pertumbuhan ekonomi Bojonegoro Triwulan I-2026 dalam paparan yang digelar di ruang Wakil Bupati Bojonegoro, Senin (8/6/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro tetap menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Jawa Timur meskipun pertumbuhan ekonominya pada Triwulan I-2026 tercatat sebesar 0,02 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro mencatat daerah ini masih menjadi penyumbang perekonomian terbesar kesembilan di Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap total perekonomian provinsi.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, saat memaparkan perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bojonegoro Triwulan I-2026 di ruang Wakil Bupati Bojonegoro, Senin (08/06/2026).

Dalam paparannya, BPS mencatat nilai PDRB Bojonegoro pada Triwulan I-2026 mencapai Rp28,44 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) dan Rp17,09 triliun atas dasar harga konstan (ADHK). Secara tahunan ekonomi Bojonegoro tumbuh 0,02 persen, sedangkan secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q) tumbuh 2,52 persen dibanding Triwulan IV-2025.

Kontribusi Bojonegoro Tetap Besar di Jawa Timur

Meski menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi terendah di kawasan Gerbangkertosusila Plus (G+), Bojonegoro tetap menunjukkan peran penting dalam perekonomian regional. Kontribusi Bojonegoro terhadap perekonomian kawasan Gerbangkertosusila Plus mencapai 6,01 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Jombang yang masing-masing berkontribusi 3,17 persen, serta Kota Mojokerto sebesar 0,51 persen.

Dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap perekonomian Jawa Timur, Bojonegoro masih menempati posisi kesembilan sebagai penyumbang ekonomi terbesar di provinsi ini.

Tekanan Migas Menahan Laju Pertumbuhan

Syawaluddin menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ekonomi Bojonegoro terutama dipengaruhi oleh kinerja sektor pertambangan dan penggalian yang masih mendominasi struktur perekonomian daerah.

Sektor ini menyumbang 42,03 persen terhadap PDRB Bojonegoro, namun secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 8,78 persen akibat menurunnya lifting minyak dan gas bumi (migas).

Kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah karena sektor pertambangan masih menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekonomi Bojonegoro.

Sektor Nonmigas Tetap Tumbuh Positif

Di tengah tekanan pada sektor migas, sejumlah sektor nonmigas justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi kontributor terbesar kedua dengan pangsa 17,10 persen tumbuh 11,38 persen secara tahunan dan melonjak 65,94 persen secara triwulanan. Pertumbuhan tersebut didorong oleh faktor musiman berupa dimulainya masa panen padi pada Triwulan I.

Selain pertanian, lapangan usaha jasa lainnya tumbuh 14,77 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 11,37 persen, jasa perusahaan 9,94 persen, informasi dan komunikasi 7,73 persen, serta transportasi dan pergudangan tumbuh 6,92 persen.

Data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat di luar sektor migas tetap bergerak positif dan menjadi penopang perekonomian Bojonegoro.

Wakil Bupati: Aktivitas Ekonomi Masyarakat Tetap Bergerak

Wakil Bupati Bojonegoro menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi secara triwulanan sebesar 2,52 persen menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan di tengah tekanan yang terjadi pada sektor migas.

Menurutnya, berbagai program pembangunan daerah, penguatan sektor pertanian, pemberdayaan UMKM, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat terus dilakukan untuk memperkuat fondasi ekonomi nonmigas di Bojonegoro.

“Kalau melihat beberapa tahun terakhir, Bojonegoro pernah mengalami kontraksi ekonomi yang cukup dalam pada beberapa triwulan. Namun pada Triwulan I-2026 ekonomi Bojonegoro mampu tumbuh 2,52 persen secara q-to-q. Ini menunjukkan ekonomi masyarakat tetap bergerak dan berbagai program pembangunan daerah mulai memberikan dampak positif,” ujarnya.

Data BPS menunjukkan pada Triwulan IV-2024 ekonomi Bojonegoro sempat mengalami kontraksi hingga minus 4,65 persen secara q-to-q. Sementara pada Triwulan I-2026 ekonomi Bojonegoro mampu tumbuh 2,52 persen dibanding triwulan sebelumnya.

Konsumsi Rumah Tangga Masih Menjadi Penopang Utama

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian Bojonegoro dengan kontribusi sebesar 46,22 persen terhadap PDRB.

Sementara konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi secara tahunan sebesar 20,45 persen yang didorong oleh peningkatan belanja pemerintah dan pelaksanaan berbagai program pembangunan.

Fondasi Ekonomi Bojonegoro Tetap Kuat

Paparan BPS menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi Bojonegoro lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan pada sektor migas yang menjadi kontributor terbesar perekonomian daerah.

Sementara itu, berbagai sektor nonmigas tetap tumbuh positif dan terus menopang aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap perekonomian Jawa Timur dan masuk dalam 10 besar penyumbang ekonomi provinsi, Bojonegoro masih memegang peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *