oleh: Agus Sighro Budiono*)
Kata “Dekengan Rakyat” sedang ramai dituliskan di seluruh penjuru Bojonegoro, dari ruang publik sampai ruang privat. Di jalanan dua kata itu bertebaran di baliho dan spanduk para Bacabup yang akan mengadu nasib dalam Pemilukada Bojonegoro 27 November mendatang, bersama foto diri yang mengoda dan tulisan nama dengan huruf besar-besar untuk menjadi ingatan dalam konteks politik. Rakyat diajak berseru dengan simbol senyum paling optimis.
Kalimat Dekengane Pusat” viral di media sosial setelah digunakan oleh pendakwah milenial Agus Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam. Sedangkan kalimat Dekengan Rakyat merupakan antitesa dari fenomena borong partai yang semula akan dilakukan oleh mantan Bupati Anna Muawanah, yang kemudian mendapat perlawanan dari Nurul Azizah dan Nafik Sahal yang berproses mencari dukungan rakyat untuk mendaftar sebagai kontestan pilkada melalui jalur independen.
Namun untuk Bojonegoro Tuhan telah berkehendak lain, yang semula mendapat dukungan rakyat hingga lolos verifikasi faktual kini juga mendapatkan dukungan dari pusat. Semoga untuk pilkada (di) Bojonegoro ini Tuhan benar benar membuktikan bahwa suara Rakyat adalah suara Tuhan.
Rakyat dalam pesta demokrasi, tentu tidak hanya patut diukur sebagai lembaran data berisi deretan nama, tempat tinggal, dan usia wajib pilih belaka. Dalam dirinya terkandung energi dan vitalitas untuk bertarung menghadapi aneka permasalahan hidup masing-masing.
Seperti pada pemilu pemilu sebelumnya, pada Pilkada (di) Bojonegoro dan Jawa Timur pada 27 November 2024 mendatang, para bakal calon bupati/wakil bupati serta Gubernur dan wakil gubernur menawarkan janji dan harapan pada rakyat dengan kompensasi suara dan loyalitas politik. Rakyat sedang jadi sasaran untuk unjuk kekuatan, janji, dan utopia sebuah daerah yang kini menjadi salah satu daerah terkaya di Indonesia ini.
Para politisi pun tak segan untuk harus bersikap genit dengan mengeluarkan seluruh kemampuan untuk meraih simpati rakyat agar terpilih.
Bahkan di Bojonegoro saat ini ada dikotomi dukungan karena hanya ada dua paslon. Paslon pertama karena didukung oleh mayoritas parpol tepatnya 14 parpol, santer disebut sebagai “Dekengan Pusat” sedang pasangan lain karena hanya diusung 2 parpol, dengan percaya diri, mendeklair sebagai “Dekengan Rakyat”
Perlu kita pahami keterpilihan seseorang kepala daerah bukanlah prestasi dan hal yang luar biasa dalam perpolitikan di Indonesia. Kita bisa membaca dan mencermati dalam berbagai media, baik media massa maupun media sosial ada bacakada atau tokoh parpol pengusung, yang datang pada masyarakat di sebuah wilayah yang sedang dirundung kesusahan untuk memberikan bantuan. Lalu sang calon bupati itu mengajak berpose bersama, sambil diam-diam atau terang-terangan melancarkan aksi bagi-bagi stiker, uang dan pernak-pernik lainnya yang mengindikasikan “ada udang di balik batu”.
Barangkali sudah jadi kodrat bahwa setiap tindakan cabup untuk rakyat selalu tak lepas dari pamrih politis.
Perilaku politis ini adalah kegenitan yang nyata dan semakin lumrah. Rakyat pun dengan lugas mau menerima perlakuan itu. Bukankah banyak pula rakyat pada hari ini yang tidak sungkan-sungkan lagi bertanya: apakah cabup X atau Y itu datang pada mereka dengan segepok uang atau hanya bermodalkan kesan dan pesan belaka? Pertanyaan-pertanyaan itu hendak jadi pembenaran dari kompensasi politik di Indonesia: ada keinginan dan ada pengorbanan.
Rakyat juga sedang bersikap genit dengan perilaku tidak mau kalah dalam tehnik penguasaan koprolnya. Dalam pesta pemilukada tahun ini, tak bisa dipungkiri masih saja kerap terjadi fenomena seribu tepuk tangan dan decak kagum pada hal-hal di luar nalar, layaknya ajang sirkus. Ketidaknalaran itu seperti mendapatkan legitimasi dari aktor-aktor politik dan rakyat yang dibuai janji dan iklan politik.
“Tapi soal paling serius dalam politik hari ini adalah harapan,” demikian gumam Goenawan Mohamad dalam salah satu edisi catatan pinggirnya di majalah Tempo yang terkenal itu.
Politisi dan rakyat memang sedang serius untuk menggerakkan perubahan daerah ini dengan realisasi harapan, setidaknya lima tahun ke depan. Pertanyaannya adalah: seberapa persenkah harapan itu mungkin terjadi? Akan lebih baik atau justru menambah celaka?
Albert Camus, filosof dan pengarang Prancis kelahiran Aljazair, pernah mengajukan arti sebuah harapan dalam karya eksistensialnyanya Mythe Sisiphus. Camus mengisahkan tentang seorang manusia setengah dewa bernama Sisiphus. Tokoh ini menjalani hukuman yang cukup konyol dari para dewa, yakni mendorong sebuah batu besar ke puncak bukit untuk kemudian segera menggelindingkannya kembali ke bawah. Tindakan itu terus dilakukan berulang kali. Pertanyaannya: Muakkah Sisiphus dengan kutukan abadi itu atau justru ia kehilangan harapan? Pertanyaan ini pun pantas diberikan pada rakyat Bojonegoro dalam konteks pilkada. Bisakah ritus pergantian penguasa ini melahirkan harapan untuk perubahan yang positif dan konstruktif? Atau sebaliknya.
“Tapi Sisiphus”, kata Camus, “justru menemukan sesuatu yang berharga, yakni harapan yang harus dipertahankan dari derita hukuman itu.” Kita pun masih berharap, bahwa para calon bupati yang akan kita pilih itu benar-benar membuktikan janji dan harapan, seberapapun klisenya janji dan harapan itu. Kita harus percaya, bahwa beraneka situasi sulit yang masih merudung daerah ini, bukan hukuman atau kutukan dari Tuhan.
Hari ini, Senin 23 September 2024, KPU akan melakukan pengundian nomor urut untuk para kontestan. Dan selanjutnya para cabup/cawabup akan berkeliling menawarkan dagangannya selama rangkaian masa kampanye yang dilaksanakan pada tanggal 25 September hingga 23 November 2024.
Selanjutnya rakyat (yang berpikir) akan dihadapkan pada proses penilaian untuk menentukan siapa yang paling pantas memimpinnya. Sebab jika nanti salah menjatuhkan pilihannya, justru rakyat sendiri yang akan mengutuki diri sendiri, seperti pada pilkada pilkada sebelumnya.
Intinya kita musti berani mengingatkan diri sendiri agar tidak ada lagi kata “kecelik”
Barangkali kita pun pantas untuk mengingat perkataan Jimmy Carter, mantan aktor Holywood dan Presiden AS: ” “Politik itu tugas sedih.
*) penulis adalah mantan wartawan yang kini melakukan kerja kerja kebudayaan.












