Disbudpar Bojonegoro Perkuat Kapasitas Pokdarwis Lewat Manajemen dan Bahasa Inggris

Penguatan Kapasitas Pokdarwis Bojonegoro
Peserta Penguatan Kapasitas Pokdarwis bersama jajaran Disbudpar Bojonegoro di PIG, Rabu (23/9/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro memperkuat kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melalui pembekalan manajemen kelembagaan dan kemampuan bahasa Inggris. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, 23–24 September 2026, di Pusat Informasi Geopark (PIG), Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro.

Kegiatan tersebut menghadirkan Priyo dari Kampung Tumo sebagai pemateri. Pembekalan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan Pokdarwis dalam mengelola destinasi, memberikan pelayanan kepada wisatawan, serta membangun komunikasi yang semakin baik dengan pengunjung.

Kepala Disbudpar Bojonegoro Elzadeba Agustina mengatakan, Pokdarwis memiliki posisi penting karena berada di garda terdepan dalam menggerakkan sekaligus mengelola aktivitas pariwisata di destinasi.

“Pokdarwis merupakan salah satu kekuatan masyarakat yang berada langsung di garda terdepan dalam menggerakkan dan mengelola aktivitas pariwisata di destinasi,” ujar Elzadeba.

Menurutnya, Pokdarwis menjadi kelompok yang berinteraksi langsung dengan wisatawan. Mereka berperan menyambut pengunjung, memberikan informasi, mendampingi wisatawan, menjaga kenyamanan, sekaligus turut menjaga citra sebuah destinasi.

Karena itu, Elzadeba menegaskan penguatan Pokdarwis tidak cukup hanya dari sisi semangat dan partisipasi masyarakat. Penguatan juga diperlukan dalam aspek manajemen kelembagaan, keterampilan pelayanan, komunikasi, kreativitas, serta kemampuan mengelola destinasi secara profesional.

“Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini menjadi salah satu langkah konkret untuk menjawab kebutuhan tersebut,” katanya.

Lima Aspek Penguatan Pokdarwis

Elzadeba menjelaskan terdapat sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Pertama, penguatan manajemen kelembagaan Pokdarwis.

Menurutnya, Pokdarwis perlu memiliki organisasi yang tertata, pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas, perencanaan kegiatan yang baik, serta kemampuan melakukan evaluasi.

“Dengan kelembagaan yang kuat, Pokdarwis akan lebih siap dalam mengelola destinasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak,” jelasnya.

Kedua, peningkatan kualitas pelayanan kepada wisatawan. Elzadeba menyebut wisatawan tidak hanya mencari tempat yang menarik, tetapi juga pengalaman selama berada di destinasi.

Keramahan, kebersihan, keamanan, kenyamanan, ketepatan informasi, dan sikap pelayanan akan memengaruhi kepuasan wisatawan. Karena itu, prinsip hospitality perlu menjadi bagian dari budaya pelayanan di setiap destinasi wisata.

Aspek ketiga adalah peningkatan kemampuan komunikasi, termasuk bahasa Inggris. Menurut Elzadeba, kemampuan tersebut penting untuk menyiapkan pengelola destinasi yang semakin terbuka dan siap menghadapi berbagai karakter wisatawan.

“Kemampuan bahasa Inggris memang tidak harus langsung pada tingkat yang sangat tinggi. Namun, kemampuan dasar untuk memberikan sapaan, informasi, petunjuk, menjelaskan daya tarik wisata, serta membantu wisatawan akan menjadi nilai tambah bagi pengelola destinasi,” ujarnya.

Keempat, peningkatan kesadaran terhadap keamanan dan kenyamanan wisatawan. Pokdarwis diharapkan memahami potensi risiko di destinasi masing-masing, menyiapkan langkah pencegahan, serta memiliki kesiapan memberikan informasi dan penanganan awal apabila terjadi kondisi darurat.

Sementara aspek kelima berkaitan dengan peran Pokdarwis sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Elzadeba menekankan agar pengembangan pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar destinasi.

“Kita ingin agar kehadiran wisatawan menggerakkan UMKM, kuliner, produk ekonomi kreatif, jasa pemandu, transportasi, homestay, dan berbagai usaha masyarakat lainnya,” katanya.

Elzadeba Agustina sebelumnya juga berharap kegiatan selama dua hari tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan ketika kembali ke destinasi masing-masing.

Ia mendorong Pokdarwis memulai dari langkah-langkah sederhana, seperti membenahi kelembagaan, memperbaiki cara menyambut wisatawan, meningkatkan kebersihan dan kenyamanan, memperkuat informasi di destinasi, melatih kemampuan bahasa Inggris, serta memanfaatkan media sosial untuk promosi.

“Kita ingin Pokdarwis di Bojonegoro menjadi Pokdarwis yang mandiri, profesional, kreatif, ramah, dan mampu berkolaborasi,” tegasnya.

Ia juga berharap setiap destinasi di Bojonegoro memiliki ciri khas dan pengalaman yang berbeda, namun tetap memiliki standar pelayanan yang sama, yakni ramah, aman, dan nyaman bagi wisatawan.

Menurut Elzadeba, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah destinasi maupun banyaknya promosi yang dilakukan. Dampak ekonomi terhadap masyarakat juga menjadi bagian penting.

“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pariwisata bukan hanya seberapa banyak destinasi yang kita miliki atau seberapa banyak promosi yang kita lakukan. Tetapi juga seberapa banyak wisatawan yang datang, seberapa lama mereka tinggal, seberapa besar belanja mereka di destinasi, dan seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.

Ia berharap penguatan kapasitas Pokdarwis tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mengembangkan pariwisata yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat serta mendukung terwujudnya Bojonegoro Makmur dan Membanggakan.

Tidak Berhenti di Pelatihan

Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Bojonegoro, Amin Asrofin, mengatakan penguatan kapasitas Pokdarwis merupakan bagian penting dalam membangun pengelolaan destinasi wisata yang semakin baik.

“Pokdarwis ini menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata di Bojonegoro. Karena mereka bersentuhan langsung dengan wisatawan, maka kapasitas dan kemampuan mereka perlu terus kita tingkatkan, baik dari sisi manajemen maupun pelayanan,” ujar Amin.

Ia menambahkan, pembekalan bahasa Inggris diberikan agar Pokdarwis memiliki kemampuan dasar dalam berkomunikasi dengan wisatawan, khususnya ketika memberikan informasi maupun mendampingi pengunjung di destinasi.

“Kita tidak menargetkan mereka harus langsung mahir berbahasa Inggris. Yang paling penting mereka memiliki keberanian dan kemampuan dasar untuk menyapa, memberikan informasi, menunjukkan arah, serta menjelaskan potensi yang ada di destinasi masing-masing,” katanya.

Menurut Amin, penguatan manajemen juga diperlukan agar Pokdarwis tidak hanya aktif ketika ada kegiatan atau kunjungan wisatawan, tetapi memiliki kelembagaan yang tertata dan mampu merencanakan pengembangan destinasi secara berkelanjutan.

“Manajemen ini penting supaya Pokdarwis bisa bekerja lebih terarah. Ada pembagian tugas yang jelas, ada perencanaan, ada evaluasi, dan ada target yang ingin dicapai. Dengan begitu, pengelolaan destinasi bisa berjalan lebih profesional,” jelasnya.

Amin berharap pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dua hari tersebut dapat diterapkan secara nyata oleh masing-masing Pokdarwis di destinasi mereka.

“Harapannya setelah pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan di kelas. Teman-teman Pokdarwis bisa membawa ilmu yang didapat untuk diterapkan di destinasi masing-masing, sehingga pelayanan kepada wisatawan semakin baik dan pada akhirnya memberikan dampak terhadap masyarakat,” pungkasnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *