Era Digital dan “Mobile Journalism”: Peluang Besar Jurnalis Muda Menjaga Kebenaran Informasi

Pelatihan mobile journalism bagi jurnalis muda di Tuban
Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP, Wazirul Luthfi, saat memberikan pemaparan dalam pelatihan jurnalistik bagi pelajar di Tuban.

JagatSembilan.com | Tuban – Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang kian pesat telah mengikis batasan wilayah (borderless) sekaligus mengubah lanskap media massa.

Kehadiran platform digital serta smartphone kini memungkinkan siapa saja untuk merekam dan mempublikasikan peristiwa secara cepat (mobile journalism).

Meski begitu, nilai kebenaran dan etika jurnalistik dinilai tetap menjadi benteng utama dalam menyaring arus informasi di masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP (Pertamina Hulu Energi Zona 11), Wazirul Luthfi, saat memberikan pemaparan dalam pelatihan jurnalistik tingkat pelajar yang diinisiasi oleh Ronggolawe Solidarity Press di Gedung MAN 2 Kabupaten Tuban. Rabu (23/9/2026).

Wazirul Luthfi mengungkapkan, teknologi modern memberikan keunggulan tersendiri bagi generasi muda.

Saat ini, untuk memproduksi karya jurnalistik yang berdampak, seseorang tidak lagi harus bergantung pada peralatan atau kamera besar.

“Jurnalistik tidak lagi harus menggunakan kamera besar, cukup dengan smartphone, cerita besar bisa dimulai. Di era konvergensi media saat ini, satu cerita bisa menjangkau banyak platform dan audiens,” ujar Wazirul di hadapan para peserta pelatihan.

Menjaga Etika dan Menyaring Informasi

Kendati akses publikasi kini berada di genggaman setiap orang, Wazirul Luthfi mengingatkan adanya tantangan sosial dan maraknya penyebaran informasi palsu (hoax).

Fenomena pengguna media sosial yang lebih memprioritaskan unggahan ketimbang memberikan pertolongan saat terjadi peristiwa di lapangan menjadi salah satu bentuk kesenjangan budaya akibat kemajuan teknologi.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan etika, pemahaman verifikasi, serta integritas bagi jurnalis muda.

“Informasi yang baik akan membangun masa depan yang lebih baik, tetapi informasi hoaks dapat membangun perpecahan. Di situlah peran jurnalis hadir sebagai penjaga kebenaran,” tegasnya.

Ia mencontohkan bagaimana narasi palsu atau spekulasi yang kerap beredar di masyarakat mengenai proses teknis industri migas dan distribusi energi—seperti tuduhan pengoplosan bahan bakar—bisa diklarifikasi apabila masyarakat maupun jurnalis memahami proses pengujian laboratorium yang ketat dan tersertifikasi.

Pentingnya Adab dan Regenerasi Jurnalis

Dalam kesempatan tersebut, Wazirul juga mengapresiasi langkah edukasi dan pembinaan jurnalis muda yang dilakukan di tingkat sekolah menengah. Ia menilai regenerasi jurnalis yang melek teknologi sangat dibutuhkan untuk mengimbangi dinamika era digital.

Namun demikian, ia menekankan bahwa penguasaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) maupun perangkat canggih lainnya harus selaras dengan nilai-nilai adab dan karakter yang baik.

“Kunci utamanya adalah memperbaiki adab terlebih dahulu, baru kemudian ilmu. Penguasaan teknologi dan alat canggih jika didasari oleh etika dan adab yang baik akan mendatangkan ilmu yang bermanfaat serta membawa dampak positif bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Produktifitas Minyak Bumi Nasional 1 Juta Barel

Kondisi populasi penduduk Indonesia saat ini sebanyak 290 juta jiwa kebutuhan minyak atau BBM secara Nasional mencapai 1,6 juta barel per hari.

Sedangkan, produksi minyak bumi yang dihasilkan dalam negeri hanya berkisar 600 hingga 610 ribu barel per hari.

“Defisit itu membuat Indonesia mau tidak mau Indonesia harus mengimpor 1 juta barel perhari untuk menutup kekurangan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Untuk menopang kebutuhan minyak dalam negeri, Pemerintah Indonesia menargetkan produksi minyak bumi 1 juta barel per hari pada tahun 2030 mendatang.

Prediksi kebutuhan energi yang bersumber dari fosil pada 2050 ternyata masih dibutuhkan. Seperti minyak, gas maupun batu bara. Meskipun pada saat itu pula 35 persen dari kebutuhan sudah dikonversikan ke energi baru terbarukan.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *