Fauzan Fuadi: Pesantren Harus Tetap Ramah Anak Tanpa Kehilangan Jati Diri

Anggota DPRD Jawa Timur H. Fauzan Fuadi menyampaikan materi tentang arah kebijakan Provinsi Jawa Timur untuk mendukung pesantren ramah anak dan tanpa kekerasan dalam Halaqah Budaya dan Keagamaan di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Balen, Bojonegoro.
H. Fauzan Fuadi, S.I.Kom., M.Med.Kom. memaparkan pentingnya menghadirkan pendidikan pesantren yang ramah anak, inklusif, dan bebas dari kekerasan dalam Halaqah Budaya dan Keagamaan di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Balen, Sabtu (18/7/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Anggota DPRD Jawa Timur, H. Fauzan Fuadi, S.I.Kom., M.Med.Kom., menegaskan bahwa pondok pesantren harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak tanpa kehilangan jati diri dan tradisi pendidikannya.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam Halaqah Budaya dan Keagamaan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Balen, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (18/7/2026). Dalam kesempatan itu, Fauzan membawakan materi bertajuk “Arah Kebijakan Provinsi Jawa Timur untuk Mendukung Pesantren Ramah dan Tanpa Kekerasan”.

Fauzan mengawali paparannya dengan menyampaikan bahwa dirinya tumbuh besar di lingkungan pesantren sehingga memahami bagaimana dinamika pendidikan pesantren turut membentuk karakter dan mental para santri.

“Saya mondok di Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah Gresik. Sedikit banyak saya merasakan betapa gojlok-gojlokan atau bully dalam konotasi yang relatif positif itu membentuk karakter saya hari ini,” ujar Politisi PKB itu.

Menurutnya, pengalaman hidup di pesantren justru membentuk ketangguhan dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk saat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat di DPRD Jawa Timur.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan perubahan regulasi menuntut pesantren untuk menghadirkan pola pendidikan yang lebih adaptif dan kondusif bagi peserta didik.

“Hari ini memang harus diatur oleh kami yang duduk di pemerintahan supaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif dan lebih terarah,” tambah mantan Ketua Umum PMII Malang itu.

Fauzan menilai pesantren memiliki kontribusi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan karakter generasi muda saat ini. Karena itu, keberadaan pesantren harus terus diperkuat melalui kebijakan yang berpihak pada pengembangannya.

Ia menyinggung lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren sebagai bentuk pengakuan negara terhadap eksistensi pesantren. Meski demikian, menurutnya masih diperlukan berbagai penguatan regulasi yang secara khusus mengatur pendidikan ramah anak di lingkungan pesantren.

“Beberapa waktu yang lalu kita memiliki Undang-Undang Pesantren. Tetapi memang masih banyak hal yang perlu diperkuat, terutama dalam menciptakan konsep pendidikan yang ramah anak,” ungkapnya.

Politisi yang juga merupakan kader Nahdlatul Ulama itu menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2022 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren. Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dijawab bersama, salah satunya terkait pendidikan inklusif di lingkungan pesantren.

Fauzan mengaku merasakan langsung tantangan tersebut sebagai orang tua dari anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterlambatan perkembangan. Ia menyebut hingga kini belum banyak pondok pesantren yang memiliki kesiapan menerima santri dengan kondisi tertentu.

“Ketika anak saya berkali-kali menyampaikan ingin mondok, saya kemudian kebingungan harus mengantarkan ke pondok pesantren yang mana supaya kekurang-kurangnya dia aman dari bullying,” tuturnya.

Menurutnya, pendidikan pesantren di masa depan perlu semakin inklusif sehingga dapat menjadi rumah bersama bagi seluruh anak tanpa terkecuali.

Dalam paparannya, Fauzan juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik. Ia justru menilai kemampuan membangun relasi sosial dan karakter yang kuat menjadi modal penting bagi masa depan seorang anak.

“Tidak penting bagi saya anak menjadi seseorang dengan pencapaian akademik tertentu, tetapi yang penting temannya banyak. Karena dengan pertemanan itulah anak akan belajar menghadapi dinamika kehidupan dan membangun jaringan yang bermanfaat untuk masa depannya,” ujarnya.

Ia pun berpesan kepada para pendidik untuk tidak mudah memberikan label negatif kepada peserta didik yang dianggap memiliki kemampuan akademik biasa-biasa saja ataupun menunjukkan perilaku yang berbeda dengan siswa lainnya.

“Terhadap siswa yang mungkin hari ini kelihatan masa depannya suram, kita tidak pernah tahu takdirnya seperti apa nanti. Bisa jadi justru di kemudian hari dialah yang paling berhasil,” pesannya.

Melalui halaqah tersebut, Fauzan berharap pesantren tetap mampu menjaga nilai-nilai luhur pendidikan Islam yang membentuk karakter santri, sekaligus menghadirkan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

“Pesantren memiliki kontribusi yang luar biasa bagi bangsa ini. Karena itu, tugas kita bersama adalah menjaga dan mengembangkannya agar tetap relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan ruh pendidikannya,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *