JagatSembilan.com | Bojonegoro – Ekonomi kreatif hari ini menjadi isu nasional yang terus digaungkan oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan ekonomi kreatif menjadi salah satu penyumbang devisa bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Untuk itu, isu ekonomi kratif perlu terus didorong dan direspon, termasuk oleh Komite Ekraf Bojonegoro. Bersama dengan pemerintah daerah melalui dinas Kebudayaan dan Pariwisata, komunitas Bojonegoro History serta Bojonegoro creative Network (BCN) Komite Ekraf (KEK) Bojonegoro tengah merancang kegiatan bertajuk “Bojonegoro Kolaborasi Festival” yang bertujuan untuk mengaktivasi simpul pegiat ekonomi kreatif dalam sebuah wadah, yaitu festival komunitas. Hal itu terlihat dalam rapat yang dilakukan di Gedung Bojonegoro Creative Hub (BCH), Jalan Pemuda, Bojonegoro, Kamis (13/11/2025) siang.
Festival ini direncanakan menjadi ajang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal sekaligus mengenalkan sejarah di tengah dominasi industri ekstraktif di Bojonegoro. Rencana kegiatan tersebut dibahas dalam pertemuan yang dihadiri Mochammad Alfianto selaku Ketua KEK Bojonegoro, David Kriss sebagai Wakil Ketua, serta sejumlah anggota KEK Bojonegoro lainnya. Dari Bojonegoro History, hadir Mohammad Andrea selaku Ketua bersama anggotanya.
Dalam paparannya, Mohammad Andrea menyampaikan bahwa festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 6 Desember 2025 mendatang dan akan diisi berbagai kegiatan yang menggabungkan unsur sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif.
“Ada pameran foto 50 sejarah Bojonegoro dan arsip sejarah ada 30,” kata Andre, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut, Andrea menjelaskan bahwa rangkaian acara festival akan dimulai dengan pameran temporer yang menampilkan linimasa sejarah Bojonegoro dan 50 foto sejarah lokal.
“Selain itu juga akan ada talkshow heritage bertema “Menelaah Pergerakan Sosrodilogo dalam Lintasan Sejarah Perang Jawa,” tambah Andre sapaan akrabnya.
Tak hanya itu, kegiatan Walking Tour Kota Tua juga menjadi salah satu agenda menarik. Rute tur tersebut meliputi Kantor Pegadaian, Pasar Balekambang, Bandar Pelabuhan, Polsek Padangan, hingga Padangan Heritage.
“Kemudian, komunitas Carat Bojonegoro akan menggelar Workshop “Hold It Together: Pocaholder With Carat,” serta Bincang Budaya bertema “Integrasi Budaya, Ekologi, dan Ekonomi Kreatif untuk Ketahanan Daerah,” tambahnya.
Andre juga menjelaskan, seluruh rangkaian acara akan ditutup dengan sesi penutupan festival sebagai bentuk apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat. Ia berharap kegiatan ini dapat mempertemukan pelaku sejarah, komunitas budaya, dan insan kreatif untuk bersama-sama membangun identitas Bojonegoro melalui karya dan kolaborasi.
Sementara itu, Mochamad Alfianto menegaskan bahwa kolaborasi antara KEK Bojonegoro dan komunitas kreatif merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan potensi ekonomi kreatif di daerah. Ia menilai, ketergantungan Bojonegoro pada sektor industri ekstraktif harus segera diimbangi dengan pengembangan sektor kreatif yang berkelanjutan.
“Maka kolaborasi dengan berbagai komunitas seperti Bojonegoro History dan BCN ini diharapkan mampu menumbuhkan potensi ekonomi kreatif di Bojonegoro,” terang Alfian.
Melalui Bojonegoro Kolaborasi Festival, diharapkan dapat membuka ruang kreatif baru bagi pelaku seni, sejarah, dan wirausaha lokal agar dapat saling terhubung serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Bojonegoro.














