JagatSembilan.com | Bojonegoro – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro menggelar Focus Group Discussion (FGD) pemantapan rencana KKN Pintar UNUGIRI Tahun 2026 yang fokus pada Wisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Ruang Meeting Gedung Rektorat Lt. 2 UNUGIRI, Selasa (19/5/2026).
KKN Pintar itu sendiri mengambil tema “Pemberdayaan Masyarakat untuk Akselerasi Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif: Menggali Potensi Mengembangkan Destinasi”. Dalam FGD tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Agama UNUGIRI Dr. Nurul Huda.
Nampak hadir juga Wakil Rektor Bidang Umum, Keuangan dan Teknologi Dr. Ifa Khoiria Ningrum, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Elzadeba Agustina, perwakilan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dinpora), perwakilan Dinas Perdagangan, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro Alvian, Ketua KKN Pintar UNUGIRI 2026 Moh. Yusuf, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Dr. Nurul Huda menyampaikan bahwa KKN PINTAR UNUGIRI kini tidak hanya dilaksanakan di wilayah Bojonegoro, namun juga mencakup kawasan se Karesidenan Bojonegoro.
“KKN kita ini sudah dua atau tiga tahun tidak hanya di Bojonegoro, tapi sudah se-Karisidenan Bojonegoro,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tema pemberdayaan masyarakat melalui desa wisata dan ekonomi kreatif dipilih sebagai upaya menggali potensi lokal yang dimiliki masing-masing desa. Menurutnya, tidak semua desa memiliki karakteristik wisata yang sama sehingga pendekatan pengembangannya harus disesuaikan.
“Tidak mungkin semua desa itu punya potensi wisata. Ada yang punya wisata, ada yang punya potensi lain. Jadi kita tidak bisa memaksakan,” kata Nurul Huda.
Ia menilai setiap desa perlu memiliki identitas yang jelas agar pengembangan potensi dapat berjalan lebih optimal.
“Paling bagus adalah ada desa yang sudah punya satu identitas. Jadi tidak mungkin satu desa kemudian punya banyak identitas,” tambahnya.
Nurul Huda juga menyoroti pentingnya sektor wisata sebagai alternatif penggerak ekonomi daerah di masa depan. Menurutnya, Bojonegoro perlu mulai menyiapkan sektor lain di luar minyak dan gas bumi.
“Minyak itu tidak selamanya ada. Jadi bagaimana kemudian ada aset-aset yang bisa dikembangkan di Bojonegoro ini kalau nanti minyak itu habis. Salah satunya adalah persoalan wisata ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengembangan desa wisata saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran teknologi digital. UNUGIRI, lanjutnya, memiliki sumber daya mahasiswa dari program studi berbasis teknologi informasi yang siap mendukung promosi digital desa wisata.
“Kita punya prodi komputer ada tiga. Artinya kita punya pasukan banyak untuk follow up promosi digital,” katanya.
Menurutnya, promosi digital menjadi faktor penting dalam pengembangan destinasi wisata agar lebih dikenal luas masyarakat.
“Sebagus apapun wisata itu, saya kira tidak akan ada yang ke sini kalau tidak dibekali tim digital kreatif,” tegasnya.
“Harapan kami bahwa kolaborasi ini bisa berjalan dengan baik sehingga Bojonegoro tidak hanya dikenal persoalan minyaknya, tapi juga terkait wisata yang bisa mengangkat income masyarakat desa,” pungkas Nurul Huda.
Sementara itu, Ketua KKN Pintar UNUGIRI 2026 Moh. Yusuf mengatakan, tema yang diangkat dalam KKN PINTAR 2026 dipilih berdasarkan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bojonegoro Tahun 2025-2029.
“Tema tersebut dipilih tidak serta merta. Tema ini kami menyesuaikan dari dokumen RPJMD Bojonegoro 2025-2029,” ujarnya.
Menurutnya, sinkronisasi program kampus dengan arah kebijakan pembangunan daerah menjadi penting agar pelaksanaan KKN benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Disbudpar Bojonegoro Elzadeba Agustina menyampaikan apresiasinya terhadap langkah UNUGIRI yang mengangkat tema desa wisata dan ekonomi kreatif dalam pelaksanaan KKN PINTAR 2026.
Menurutnya, apabila tema tersebut dijalankan secara baik dan tepat sasaran, maka akan sangat membantu tugas pemerintah daerah, khususnya Disbudpar Bojonegoro dalam pengembangan sektor pariwisata.
“Kalau tema ini dijalankan dengan baik dan benar, sebenarnya tugas Disbudpar bisa selesai,” ungkapnya.
Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi menjadi penting dalam mendukung pengembangan destinasi wisata berbasis desa, terutama melalui penguatan sumber daya manusia dan promosi digital.
Melalui FGD tersebut, pihak kampus berharap terbangun kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi wisata dan ekonomi kreatif berbasis desa di Bojonegoro.














