Gebrakan Kades Mulyorejo H. Subekhan: Petani Dapat Pupuk Gratis, Modal 0 Persen hingga Air Gratis

H. Subekhan Kades Mulyorejo saat diwawancarai tentang gebrakan pertanian
Kepala Desa Mulyorejo H. Subekhan saat diwawancarai terkait berbagai gebrakan untuk petani, Selasa (29/9/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro — Kepala Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, H. Subekhan, membuat sejumlah gebrakan di sektor pertanian. Berbagai kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan hasil produksi sekaligus meringankan beban biaya yang harus ditanggung petani.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengambil alih pengelolaan areal pertanian yang sebelumnya dikelola pihak swasta. Menurut Subekhan, langkah tersebut dilakukan agar aset desa dapat dikelola secara lebih optimal dan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PAD).

Dalam pengelolaan tersebut, Subekhan menyebut dirinya terlebih dahulu melakukan pembiayaan secara pribadi untuk pengadaan berbagai kebutuhan. Total dana yang telah dikeluarkan disebut mencapai sekitar Rp4 miliar.

“Karena ke depan ingin PAD lebih baik, akhirnya desa memberanikan diri untuk mengelola. Saya pribadi memodali dulu karena pengadaan peralatan dan macam-macam, sampai sekarang kurang lebih sudah habis Rp4 miliar,” ujar Subekhan saat diwawancarai, Selasa (29/9/2026).

Namun, bagi Subekhan, pengelolaan areal pertanian bukan semata-mata persoalan meningkatkan pendapatan desa. Ia ingin kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap petani, terutama dalam mengurangi biaya produksi dan meningkatkan hasil panen.

LPPNU PCNU Bojonegoro Ikut Mendorong Formula Pertanian

Salah satu bagian penting dalam upaya tersebut adalah keterlibatan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) PCNU Bojonegoro.

Subekhan menyebut komunikasi dan sharing dengan LPPNU PCNU Bojonegoro turut menguatkan keyakinannya untuk memperluas penerapan pupuk cair Jatanu dan penyemprotan menggunakan drone.

Awalnya, program tersebut direncanakan diterapkan pada lahan seluas 1, 2, 3 hektare. Setelah adanya pembahasan bersama LPPNU PCNU Bojonegoro, cakupan aplikasi kemudian diperluas menjadi sekitar 230 hektare.

“Awalnya mau 1, 2, 3 hektare. Setelah ketemu ketua LPPNU, saya punya keyakinan kuat, sehingga aplikasinya total 230 hektare,” jelas Subekhan.

Menurutnya, keterlibatan LPPNU PCNU Bojonegoro menjadi bagian dari ikhtiar untuk mencari formula pertanian yang dapat memberikan manfaat lebih besar bagi petani.

Program tersebut juga menjadi salah satu bentuk sinergi antara pemerintah desa dengan lembaga pertanian di lingkungan Nahdlatul Ulama dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian masyarakat.

Pupuk Cair dan Penyemprotan Drone Gratis

Salah satu program yang dijalankan adalah penggunaan pupuk cair Jatanu dan penyemprotan menggunakan drone secara gratis bagi petani.

Subekhan mengatakan, jika dihitung berdasarkan biaya aplikasi pupuk cair dan penyemprotan drone sekitar Rp1,6 juta per hektare, maka program tersebut memberikan penghematan cukup besar bagi petani.

Dengan cakupan sekitar 230 hektare, biaya yang seharusnya menjadi beban petani tersebut ditanggung melalui program yang disiapkan desa.

Ia bahkan berencana mempertahankan kebijakan tersebut pada setiap musim tanam.

“Pupuk cair Jatanu akan saya gratiskan pemakaiannya setiap musim tanam,” katanya.

Program tersebut, lanjut dia, mulai menunjukkan hasil. Ia menyebut terdapat hasil produksi yang mencapai sekitar 12,2 ton pada salah satu lahan yang menjadi bagian dari program tersebut.

Dorong Pengembalian Limbah Panen

Tidak hanya memberikan pupuk cair, Subekhan juga menyiapkan konsep untuk mengembalikan limbah pertanian ke lahan setelah panen. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Petani yang mengembalikan seluruh limbah hasil panen ke lahan akan mendapatkan pupuk urea dan Phonska secara gratis dari pemerintah desa.

“Apabila limbahnya masuk ke lahan semua, pupuknya saya gratiskan. Motivasi saya adalah mengembalikan kesuburan tanah seperti dulu kala,” ungkapnya.

Menurut Subekhan, kesuburan tanah yang terjaga pada akhirnya akan membuat biaya operasional pertanian lebih efisien. Konsep tersebut juga akan dipadukan dengan penggunaan pupuk organik Jatanu.

Ia mengakui pelaksanaan program pengembalian limbah pertanian tersebut masih menghadapi kendala, salah satunya aktivitas pencari rumput yang mengambil sisa tanaman di lahan. Karena itu, penerapan konsep tersebut akan terus dievaluasi dan diupayakan lebih maksimal pada tahun berikutnya.

Pinjaman Petani Tanpa Bunga

Gebrakan lainnya adalah penyediaan akses permodalan bagi petani dengan bunga 0 persen.

Subekhan menyebut skema tersebut dijalankan melalui koperasi Hipa. Ia memilih menjalankan skema tersebut secara independen karena regulasi mengenai kelembagaan lain yang berkaitan dengan pengelolaan pertanian masih dalam proses penyesuaian.

“Peminjaman ke petani sudah saya putuskan 0 persen. Semua 0 persen,” tegasnya.

Dalam skema tersebut, aset areal pertanian tetap merupakan aset desa, sedangkan pengelolaannya dilakukan melalui koperasi Hipa.

Tambah Areal Pertanian 7 Hektare

Untuk memperluas lahan produktif, Pemerintah Desa Mulyorejo juga melakukan normalisasi lahan Solo Pelehi yang memiliki hak pakai desa.

Lahan seluas sekitar 7 hektare tersebut sebelumnya digunakan sebagai embung. Karena dinilai kurang memberikan manfaat optimal, lahan tersebut kini dikembalikan fungsinya menjadi areal persawahan.

Subekhan mengatakan proses normalisasi telah berjalan sekitar dua bulan dengan menggunakan dua unit ekskavator. Setelah selesai, lahan tersebut akan menjadi tambahan areal pertanian yang dikelola desa.

“Yang semula dipakai embung karena kurang manfaat, kita kembalikan fungsi semula ke persawahan. Tambahan arealnya nanti sekitar 7 hektare,” ujarnya.

PBB hingga Air Bersih Digratiskan

Dampak dari pengelolaan areal pertanian desa tersebut, menurut Subekhan, juga diarahkan untuk memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.

Pemerintah Desa Mulyorejo telah memutuskan pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk lahan yang masuk dalam skema tersebut.

Selain itu, layanan Himpunan Pengguna Air Minum (Hipam) juga disiapkan secara gratis bagi masyarakat. Kebijakan tersebut mencakup pemasangan jaringan serta pemakaian air.

Subekhan menjelaskan, salah satu dukuh telah mendapatkan jaringan Hipam gratis dan telah beroperasi. Sementara untuk dukuh lainnya, pembangunan jaringan akan dilanjutkan setelah panen kedua.

“Pasang jaringan gratis, pemakaian air juga gratis,” katanya.

Untuk menjamin keberlangsungan layanan, perawatan jaringan nantinya akan menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah desa. Pemerintah desa akan membentuk kepengurusan yang bertugas menangani operasional dan pemeliharaan jaringan.

Sistem penyediaan air tersebut menggunakan sumur, pompa listrik dan toren dengan ketinggian sekitar 8 meter. Subekhan mengatakan layanan air dirancang dapat beroperasi selama 24 jam.

Listrik Tempat Ibadah dan Rumah Kiai Gratis Mulai 2027

Program sosial lainnya juga disiapkan Pemerintah Desa Mulyorejo. Mulai 2027, pemerintah desa berencana menggratiskan biaya listrik bulanan untuk masjid, musala, langgar, lembaga pendidikan diniyah, serta rumah kiai.

Kebijakan tersebut saat ini baru diputuskan dan direncanakan mulai efektif pada 2027.

Subekhan mengatakan berbagai program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun desa dengan memanfaatkan potensi dan aset yang dimiliki.

Ke depan, ia juga ingin mengembangkan jaringan pengairan di kawasan bantaran Bengawan Solo, terutama pada lahan yang selama ini kurang produktif. Selain tanaman padi, lahan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan komoditas pertanian lainnya.

Target Produksi hingga 15 Ton per Hektare

Subekhan tidak menutup kemungkinan produksi pertanian di Mulyorejo terus meningkat. Ia menyebut sebelumnya sebagian petani memperoleh hasil sekitar 5–6 ton per hektare, sementara melalui berbagai ikhtiar yang dilakukan desa, hasil produksi mulai menunjukkan peningkatan.

Ke depan, ia menargetkan produksi dapat mencapai 10 hingga 12 ton, bahkan 15 ton per hektare.

“Yang hari ini dapat 5–6 ton, sekarang sudah ada peningkatan. Target ikhtiar saya mudah-mudahan bisa 10–12 sampai 15 ton per hektare,” tuturnya.

Subekhan menegaskan, berbagai program tersebut dilakukan dengan semangat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Ia juga menyebut komunikasi dan sharing bersama LPPNU PCNU Bojonegoro menjadi bagian dari ikhtiar mencari formula pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

“Kita mencari berkah, sharing dengan LPPNU. Nyapa para alim, kiai, dan ulama. Mudah-mudahan ikhtiar yang kita lakukan dimudahkan Allah SWT,” pungkasnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *