JagatSembilan.com | Bojonegoro – Grand Final Lomba Cipta Jingle Geopark Bojonegoro digelar di kawasan wisata Kayangan Api Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro. Hal itu sebagai bagian dari upaya memperkuat branding dan promosi Geopark Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp). Minggu (24/05/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Bappeda Provinsi Jawa Timur, Disbudpar Provinsi Jawa Timur, Staf Ahli Bupati Bojonegoro Bidang Ekonomi, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Elzadeba Agustina, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan grand final di salah satu geosite kebanggaan Bojonegoro, yakni Kayangan Api.
“Grand final lomba cipta jingle Geopark ini ada sebagai salah satu upaya untuk penguatan branding dan promosi Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark atau UGGp,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut memiliki dasar hukum berupa surat pernyataan dukungan dari Gubernur Jawa Timur dan surat dukungan Bupati Bojonegoro terkait upaya menjadikan Bojonegoro sebagai aspiring UNESCO Global Geopark.
Menurutnya, Geopark Bojonegoro memiliki kekayaan warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya yang menjadi identitas daerah serta berpotensi besar dikembangkan sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.
“Untuk mendukung semua itu perlu dukungan penguatan promosi dan peningkatan daya tarik Geopark salah satunya adalah supaya kita lebih dikenal tentunya dengan branding yang lebih menarik, mudah dikenal oleh masyarakat luas,” kata Elzadeba.
Melalui lomba cipta jingle tersebut, Disbudpar Bojonegoro ingin membangun identitas audio branding Geopark Bojonegoro sekaligus mendorong partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda dan pelaku seni, dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah.
Adapun tujuan lomba tersebut di antaranya menciptakan jingle resmi sebagai identitas promosi Geopark Nasional Bojonegoro, meningkatkan daya tarik Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark, serta mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis seni musik yang berdaya saing.
Elzadeba menambahkan, lomba telah melalui beberapa tahapan sejak dibuka pada 28 Februari 2026. Dari total 28 peserta yang mengirimkan karya jingle, terpilih 10 finalis yang tampil pada grand final.
“Pada saat ini sudah memasuki grand final yang nantinya sudah ada sepuluh finalis dari dua puluh delapan yang mengirimkan jinglenya,” ungkapnya.
Dalam proses penilaian, panitia menghadirkan tiga dewan juri yang dinilai kompeten di bidang ekonomi kreatif dan musik.
Salah satu peserta yang berhasil lolos dalam 10 besar, Fadil, mengaku termotivasi mengikuti lomba tersebut untuk ikut meramaikan sekaligus mensukseskan upaya promosi Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark.
“Saya ikut karena ingin ikut mensukseskan dan meramaikan acara ini. Apalagi selama ini saya juga selalu bersama komunitas kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seperti lomba jingle menjadi ruang positif bagi pelaku seni dan komunitas kreatif di Bojonegoro untuk turut berkontribusi dalam promosi daerah melalui karya musik.
Pada akhir kompetisi, juri menetapkan empat pemenang terbaik. Juara 1 diraih Assyifa Mazroatul Fadzilah dengan nilai 1.303, Juara 2 diraih Dwi Novaberlinanto dengan nilai 1.292, sedangkan Juara 3 diraih Diky Fathu Rokhman dengan nilai 1.289. Sementara itu, kategori Juara Favorit diraih Felesia Hepy Novianti dengan nilai 1.282.
Jingle terbaik tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai identitas branding Geopark Bojonegoro dalam berbagai media promosi.
“Semoga saja nantinya dari sepuluh ini betul-betul empat ini yang paling baik di antara yang lainnya,” pungkas Elzadeba.














