JagatSembilan.com | BOJONEGORO – Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Balen, Kabupaten Bojonegoro, menggelar Halaqah Budaya dan Keagamaan yang dirangkai dengan Reuni Akbar Alumni MTs Islamiyah Unggulan Balen lulusan 1–48 pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman MTs Islamiyah Unggulan Balen ini menjadi bagian dari peringatan Haul ke-37 K. Hasannadji dan Haul ke-11 Nyai Hj. Maryam.
Mengusung tema “Penguatan Pesantren sebagai Rumah Peradaban, Menanamkan Kasih Sayang, Toleransi dan Pendidikan Tanpa Kekerasan”, halaqah menghadirkan sejumlah alumni yang kini berkiprah sebagai akademisi dan tokoh publik untuk memberikan gagasan dalam penguatan budaya pesantren yang ramah anak dan toleran.
Para narasumber yang hadir yakni H. Fauzan Fuady, S.I.Kom., M.Med.Kom. (Anggota DPRD Jawa Timur), Dr. Muhammad Hasyim, M.Pd.I (Dosen UNKAFA Gresik), dan Dr. Limas Dody, M.Pd. (Dosen UIN Syekh Wasil Kediri). Sementara moderator dalam halaqah tersebut adalah Dr. Riza Multazam Luthfi, M.H., Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.
H. Fauzan Fuady menyampaikan materi tentang arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung pesantren yang ramah dan bebas dari kekerasan. Sementara Dr. Muhammad Hasyim mengulas peran pengasuh pesantren dalam menciptakan budaya toleransi dan kasih sayang. Adapun Dr. Limas Dody memaparkan model pengelolaan pesantren modern yang ramah anak dan anti perundungan (bullying).
Pembina Yayasan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, KH. Hilmi Aljumadi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah lama diimpikan sebagai ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi alumni MTs Islamiyah Balen yang selama ini belum pernah terlaksana dalam skala besar.
“Sudah lama diinginkan ada pertemuan alumni seperti ini, tapi baru kali ini bisa terwujud. Ini khusus alumni MTs Islamiyah. Alhamdulillah berjalan lancar dan komentar dari para peserta sangat bagus karena mereka bisa kembali melihat perkembangan sekolah yang selama ini belum mereka ketahui,” ujarnya.
KH. Hilmi mengungkapkan, dari sekitar 500 undangan yang disebarkan, lebih dari 457 alumni hadir mengikuti rangkaian kegiatan. Menurutnya, antusiasme tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin dan MTs Islamiyah Unggulan Balen.
Tak hanya menjadi ajang reuni, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pengukuhan kepengurusan alumni MTs Islamiyah Unggulan Balen untuk masa khidmat lima tahun mendatang.
“Tadi sebelum halaqah juga dilaksanakan pengukuhan pengurus alumni. Alumni MTs ini sejak berdiri tahun 1979 sebenarnya sudah ada kepengurusan, tetapi belum berjalan optimal. Baru kali ini dikukuhkan kembali untuk menjalankan amanah lima tahun ke depan,” jelasnya.
Ia menambahkan, halaqah tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan pemikiran dari para alumni yang telah berhasil menempuh pendidikan tinggi dan berkiprah di berbagai bidang.
“Halaqah ini merajut kembali teman-teman alumni yang sudah sukses. Ada yang sudah doktor, bahkan profesor. Mereka memberikan banyak masukan yang sangat berharga untuk pengembangan lembaga ke depan,” katanya.
Ketika ditanya alasan mengangkat tema halaqah budaya dan keagamaan, KH. Hilmi menjelaskan bahwa pesantren tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya.
“Kebudayaan itu kaitannya dengan Islam dan lingkungan. Bagaimanapun, karena madrasah ini Ma’arif NU, maka harus mengenal dan merawat kebudayaan yang ada di lingkungannya. Itu yang ingin kita rawat bersama,” tuturnya.
Menurutnya, perawatan terhadap budaya yang selaras dengan nilai-nilai Islam dan Ahlussunnah wal Jamaah merupakan bagian penting dalam membangun peradaban pesantren yang inklusif, toleran, dan ramah bagi seluruh elemen masyarakat.
Melalui halaqah ini, Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Balen berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara pesantren, alumni, dan masyarakat dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus menjaga nilai-nilai budaya dan kemanusiaan yang diwariskan para masyayikh. (Red)














