Jagong Sahabat Tani Ansor, Zaenal Fanani: Pertanian Jadi Harapan Masa Depan Bojonegoro

Zaenal Fanani menyampaikan materi Jagong Sahabat Tani
Zaenal Fanani menyampaikan materi dalam kegiatan Jagong Sahabat Tani PC GP Ansor Bojonegoro di Agrowisata TPG Pilanggede, 24 September 2026.

JagatSembilan.com | Bojonegoro — Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menyebut sektor pertanian menjadi salah satu harapan utama perekonomian Bojonegoro di masa depan. Hal itu seiring dengan tren produksi minyak dan gas (migas) yang menurutnya terus mengalami penurunan di Kabupaten Bojonegoro.

Pernyataan tersebut disampaikan Zaenal saat menjadi pemateri dalam kegiatan Jagong Sahabat Tani yang digelar Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Bojonegoro dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional di Agrowisata TPG Pilanggede, Kecamatan Balen, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Pemuda Berdaya, Tani Sejahtera, Bojonegoro Berdaulat Pangan” itu diikuti kader GP Ansor dan Banser dari berbagai wilayah di Kabupaten Bojonegoro.

Zaenal mengatakan, pertanian memiliki posisi strategis karena menjadi sektor dengan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah setelah migas.

“Pertanian ini merupakan masa depannya Bojonegoro, Bapak Ibu. Jadi, pertanian ini masa depannya Bojonegoro. Nggih. PDRB kita itu tertinggi kedua setelah minyak dan gas ini adalah pertanian,” kata Zaenal Fanani.

Menurut Zaenal, sektor pertanian menunjukkan perkembangan yang meningkat, sementara produksi migas cenderung menurun. Kondisi tersebut membuat Bojonegoro perlu menyiapkan sektor lain yang dapat menjadi penopang ekonomi daerah.

“Pertanian alhamdulillah selalu meningkat, sedangkan migas kita itu selalu menurun. Nah, selalu menurun ini, Bapak. Karena itulah mengapa kalau kita mengandalkan minyak, ini sangat berbahaya. Sangat berbahaya,” ujarnya.

Ia menilai pertanian harus diposisikan sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Bojonegoro, terutama untuk menghadapi masa ketika produksi minyak semakin berkurang.

“Karena itu, benar bahwa sektor pertanian ini betul-betul menjadi tulang punggung Kabupaten Bojonegoro dan menjadi harapan Bojonegoro. Kalau minyak besok habis, diharapkan penggantinya ini adalah sektor pertanian,” tutur Zaenal.

Bojonegoro Disiapkan Jadi Sentra Agroindustri

Zaenal menjelaskan, perhatian terhadap sektor pertanian juga tercermin dalam arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Bojonegoro. Ia menyebut pemerintah daerah mengarahkan Bojonegoro menjadi sentra agroindustri.

“Karena itulah maka Pak Bupati memberikan perhatian yang khusus kepada pertanian, mulai dari RPJPD kita. Rencana Pembangunan Jangka Panjang kita itu yaitu mewujudkan Bojonegoro sebagai sentra agroindustri,” jelas Zaenal.

Menurut dia, konsep agroindustri tidak hanya berbicara mengenai kegiatan budidaya pertanian, tetapi juga pengembangan sektor tersebut menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih luas.

“Sentra agroindustri ini bukan hanya pertanian secara tradisional, bukan hanya budidaya, tapi sudah ada turunannya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Zaenal juga memaparkan data produksi migas yang disebutnya menunjukkan kecenderungan menurun. Ia menyampaikan bahwa produksi minyak pada 2017 berada di kisaran 185 ribu barel, kemudian mencapai titik rendah pada 2024 sekitar 146 ribu barel, sebelum kembali naik menjadi sekitar 175 ribu barel.

Zaenal menyebut produksi tertinggi terjadi pada 2019 yang mencapai sekitar 216 ribu barel. Menurutnya, data tersebut memperlihatkan adanya tren penurunan dalam jangka panjang.

“Nah, ini trennya menurun. Jadi kalau kita pakai garis linier itu trennya menurun. Dan ini tidak kita sangkal bahwa suatu saat minyak kita akan habis, itu tidak bisa kita sangkal. Nah, karena itulah maka pertanian ini betul-betul menjadi harapan kita bersama,” kata Zaenal.

Sebut Usaha Tani Punya Potensi Besar

Tidak hanya dari sisi kontribusi terhadap perekonomian daerah, Zaenal juga menilai sektor pertanian memiliki peluang usaha yang besar. Ia memaparkan analisis benefit cost ratio (B/C ratio) dari sejumlah usaha sebagai perbandingan antara manfaat atau keuntungan dengan biaya yang dikeluarkan.

Ia kemudian memberikan contoh usaha tani padi berdasarkan analisis yang disebutnya berasal dari data Yoyok Cahyono dan Markum di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru.

“B/C ratio-nya itu apabila, nggih, apabila tidak dihitung, kalau sawah, kalau lahannya itu tidak nyewa, lalu dia mau bekerja, maka B/C ratio-nya 7,66,” terang Zaenal.

Ia menjelaskan, angka tersebut menggambarkan potensi pengembalian investasi yang cukup besar dalam satu periode produksi.

“Artinya apa? 1 juta yang diinvestasikan selama periode produksi itu sudah kembali 7.600.000, nah ini. Ya, ini. Sak juta metune pitu juta nem atus. Jadi 7 kali lipatnya,” jelasnya.

Menurut Zaenal, periode produksi padi tersebut sekitar tiga hingga empat bulan. Karena itu, ia mendorong kader muda untuk melihat pertanian sebagai bidang yang memiliki peluang ekonomi.

“Tidak ada usaha yang melebihi sektor pertanian, nggih, untungnya,” kata Zaenal.

Ia juga menyinggung perhatian sejumlah pengusaha dunia terhadap sektor pertanian sebagai salah satu contoh bahwa pertanian memiliki daya tarik ekonomi.

“Ini menunjukkan bahwa di pertanian ini menjadi sektor yang sangat menarik, Bapak Ibu semuanya, ini sangat menarik sekali,” ujarnya.

Karena itu, Zaenal mengajak masyarakat yang sudah bergerak di sektor pertanian agar terus mengembangkan usahanya.

“Karena itu, kami berpesan kepada Bapak semuanya, tolong yang sudah di pertanian enggak usah berpindah ke lain hati, nggih. Masa akan pindah ke yang lain, karena ini yang paling menguntungkan,” tandas Zaenal.

DKPP Ajak Ansor Manfaatkan Lahan untuk Tebu

Dalam kesempatan tersebut, Zaenal juga mengajak GP Ansor Bojonegoro ikut mengambil bagian dalam pengembangan lahan pertanian. Ia menegaskan, pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan DKPP seorang diri sehingga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Karena memang membangun pertanian di Bojonegoro ini jelas tidak akan mampu dilakukan oleh Dinas Pertanian saja, tidak mampu,” ungkap Zaenal.

Menurutnya, kolaborasi juga diperlukan dengan BUMD Pangan Mandiri serta organisasi kepemudaan seperti GP Ansor.

“Dan pada saat ini kita mendatangkan atau kita menggandeng Ansor, ini karenanya juga tidak mampu. Nggih, Dinas Pertanian itu membangun pertanian sendiri,” ujarnya.

Zaenal kemudian mengapresiasi tindak lanjut Kasatkorcab Banser Bojonegoro, Moh. Muhtadin, yang sebelumnya melakukan kunjungan ke DKPP dan mengajukan lahan seluas empat hektare untuk tanaman tebu.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Muhtadin pada saat kunjungan ke DKPP, ternyata ditindaklanjuti dengan mengajukan lahan 4 hektar ya Mas ya, untuk tanaman tebu, nah ini. Untuk tanaman tebu. Tepuk tangan untuk Mas Muhtadin dan teman-teman ini,” kata Zaenal.

Karena itu, Zaenal mengajak kader Ansor yang memiliki atau mengetahui lahan yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman tebu agar mengusulkannya kepada DKPP.

“Kalau ada lahan yang bisa kita kerjasamakan tanaman tebu, ini monggo diusulkan, nggih, monggo diusulkan,” ajak Zaenal.

Ia juga menyampaikan peluang kerja sama dalam pengembangan sejumlah komoditas lain, termasuk jagung dan padi.

“Kami menawarkan kepada teman-teman GP Ansor, nanti kalau ada apa lahan yang bisa kita garap bersama, nggih, kita juga ada bantuan jagung, nggih, bantuan padi, dan bantuan apapun, nggih, ini kita bisa kerjasamakan,” jelasnya.

Tebu Dinilai Punya Potensi Ekonomi

Zaenal mengatakan tanaman tebu juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Berdasarkan perhitungan yang disampaikannya, pendapatan tanaman tebu dalam kondisi optimal dapat mencapai ratusan juta rupiah per hektare dalam satu tahun.

“Kemarin salah satu dari anggota LPPNU, Mas Nafi itu menghitung tanaman tebu kita itu apabila optimal per tahunnya itu sampai Rp700 juta, nggih. Rp700 juta per hektar pendapatannya,” papar Zaenal.

Ia menambahkan, tanaman tebu tidak hanya dapat dipanen sekali. Dalam kondisi tertentu, tanaman tersebut dapat dipanen beberapa kali sebelum dilakukan pembongkaran dan penanaman kembali.

“Keuntungan tanaman tebu sekali tanam dia itu bisa dipanen optimalnya 3 sampai 5 kali, Pak,” terangnya.

Zaenal kemudian menceritakan praktik di Kediri yang menurutnya menunjukkan tanaman tebu dapat dipanen lebih banyak kali dari satu kali penanaman.

“Tetapi yang terjadi di Kediri itu sampai 15 kali, Pak, mboten dibongkar. Tandur sekali panene ping 15,” ujarnya.

Bahas Persoalan Harga Tembakau

Selain peluang pengembangan komoditas, Zaenal juga menyinggung persoalan harga tembakau yang mengalami penurunan di Bojonegoro.

Ia mengatakan, kondisi tersebut perlu diselesaikan bersama karena persoalan perdagangan tembakau melibatkan banyak pihak, mulai petani, pedagang hingga perusahaan atau gudang rokok.

“Terus ini juga kita tawarkan, kita itu sekarang ada permasalahan terkait dengan rendahnya harga tembakau. Nggih, harga tembakau. Tembakau itu sekarang menurun yang seharusnya bulan ke-9 ini puncak-puncak harga tembakau, tetapi yang terjadi di lapangan itu harganya menurun,” kata Zaenal.

Untuk membahas persoalan tersebut, DKPP telah mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai perdagangan tembakau.

“Akhirnya kemarin kita kumpulkan, pedagangnya kita kumpulkan, ya, tengkulaknya, petani-petani kita kumpulkan, lalu gudangnya, pabrik rokoknya, Gudang Garam, Djarum, nggih, AOI, semuanya kita kumpulkan,” jelas Zaenal.

Dari pertemuan tersebut, menurut Zaenal, muncul sejumlah persoalan yang menjadi penyebab perbedaan pandangan antara petani dan pedagang terkait kualitas tembakau.

Ia mengatakan, pedagang menyampaikan adanya persoalan kualitas dan pencampuran tembakau, sementara petani juga menyampaikan tudingan berbeda terhadap praktik pedagang.

Karena itu, Zaenal menegaskan pihaknya tidak ingin menyalahkan salah satu pihak. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan kepercayaan antara petani dan pedagang.

“Saya tidak akan menembak Bapak semuanya, saya tidak, saya tidak menyalahkan pedagang atau petani, tapi di sini ada sesuatu yang salah, yang salah apa? Yang salah ternyata kredibilitas baik itu petani maupun pedagang itu disangsikan,” tegas Zaenal.

Sebagai langkah berikutnya, Zaenal menyebut salah satu solusi yang dibahas adalah membangun pola kemitraan dan penjadwalan yang diharapkan dapat diterapkan pada musim berikutnya.

“Akhirnya kita carikan solusi. Solusinya apa? Ada kemitraan dan penjadwalan, insyaallah tapi itu tahun depan,” pungkas Zaenal.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *