Oleh: Ahmad Rifqi Azmi
Seringkali kebanyakan dari kita mengira bahwa mendekatkan diri kepada Allah hanya bisa dilakukan dengan ibadah-ibadah yang bersifat ritual saja, seperti shalat, membaca al-Quran, berdzikir, dan sebagainya. Padahal kenyataannya jalan mendekatkan diri kepada Allah sangat banyak. Bahkan menurut seorang Sufi, Sayyid Ahmad Al-Rifa’i:
الطُّرُقُ إِلَى اللهِ تَعَالَى بِعَدَدِ أَنْفَاسِ الْخَلَائِقِ
Jalan mendekat kepada Allah sebanyak bilangan nafas semua mahluk
Di antara jalan mendekatkan diri kepada Allah yang sangat banya itu adalah berhidmah kepada keluarga dengan cara seperti mendidik, merawat, memenuhi kebutuhan mereka, dengan niat melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan ikhas karena-Nya. Namun, sayang sekali karena minimnya ilmu, kebanyakan orang beranggapan bahwa urusan rumah tangga hanyalah rutinitas, atau kewajiban sosial, atau bahkan beban belaka, sehingga mereka sering melewatkan kesempatan bertaqarrub kepada Allah melalui jalan ini.
Berhidmah kepada keluarga adalah salah satu ibadah sosial yang dianjurkan oleh Nabi saw. Di antara hikmah mengapa berhidmah kepada keluarga sangat di anjurkan dalam agama adalah karena banyak masalah sosial yang timbul dari pasangan suami istri yang tidak mau berhidmah kepada yang lainnya. Istri yang acuh tidak mau membantu suami, dan suami yang acuh tidak peduli pada istri, sehingga salah satu dari keduanya menceritakan aib yang lain kepada orang lain, dan ini adalah awal petaka dalam rumah tangga dan dapat berujung pada perceraian. Dan, dari perceraian ini, akhirnya timbullah problek anak yang tidak terurus dan lainnya.
Sangat pentingnya hal ini hingga Nabi saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي (رواه ابن ماجه)
Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada kelurganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku (HR. Ibnu Majah)
Sekecil Apapun Bentuk Khidmah pada Keluarga Dapat Bernilai Besar di Sisi Allah
Barangkali di antara kita meremehkan bentuk khidmah kepada keluarganya, misalnya seorang istri yang bersedia memasak untuk suami, seorang suami yang bersedia membantu tugas istri menata dan merapikan bajunya. Khidmah seperti ini meskipun tampak sepele, namun bisa bernilai tinggi di sisi Allah jika disertai niat yang tulus untuk Allah Ta’ala.
Dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, Imam al-Ghazali mengutip sebagian perkataan safaus shalih:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيْرٍ تَعْظُمُهُ النِّيَّةُ وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيْرٍ تُصْغِرُهُ النِّيَّةُ
Di balik amal yang tampak kecil, bisa tersembunyi nilai yang besar apabila dilakukan dengan niat yang benar. Sebaliknya, amal besar bisa kehilangan nilainya bila disertai keangkuhan.
Maka, seorang yang melayani keluarganya dengan ikhlas, meski sekadar menyiapkan makanan atau membersihkan rumah, bisa jadi lebih dicintai Allah daripada orang yang banyak beribadah dengan ibadah yang terlihat besar namun tanpa disertai niat yang benar.
Lebih jauh, hidmah pada keluarga juga menjadi sarana untuk meneladani sifat-sifat Allah (takhalluq bi akhlāqillah). Allah adalah ar-Raḥmān (Maha Pengasih), ar-Razzāq (Maha Pemberi Rezeki), dan al-Ḥafīẓ (Maha Pemelihara). Ketika seseorang memberi nafkah, mengasuh, mendidik, atau menjaga keluarganya, ia sedang meniru sifat-sifat itu dalam bentuk kemanusiaan. Di sinilah letak nilai spiritual dari berhidmah kepada keluarga. Ia menjadi latihan batin. Tempat di mana seseorang belajar sabar, belajar memberi tanpa pamrih, dan belajar mencintai tanpa menuntut. Semua sifat ini adalah tangga mendekat menuju Allah Ta’ala.
Keteladanan Rasulullah saw. dalam Berhidmah kepada Keluarga
Rasulullah saw. adalah teladan sempurna dalam segala sisi kehidupan, bukan hanya dalam ibadah ritual dan perjuangan dakwah saja, tetapi juga dalam kelembutan dan pengabdian di rumah. Dalam dirinya, kita melihat bahwa taqarrub kepada Allah tidak hanya dibangun di mihrab, tetapi juga di dapur, di ruang keluarga, dan di tengah pekerjaan rumah tangga. Imam Bukhari mriwayatkan
عَنِ الْأَسْوَدِ قَالَ :سَأَلْتُ عَائِشَة: مَا كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ.
Aku bertanya kepada ‘Āisyah: “Apa yang biasa dilakukan Nabi ﷺ di rumahnya?”
‘Āisyah menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya — maksudnya melayani urusan rumah tangga mereka. Tetapi ketika waktu salat tiba, beliau keluar (menuju masjid) untuk salat.” (HR. Bukhari)
Dalam hadis lain, Sayyidah Aisyah pernah ditanya, “apa yang dikerjakan Rasulullah saw. dirumahnya? Aisyah menjawab
كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِي بُيُوتِهِمْ (رواه أحمد)
“Beliau menjahit pakaiannya, menambal sandalnya, dan melakukan pekerjaan sebagaimana laki-laki biasa bekerja di rumah mereka.”
Mengomentari hal ini, Imam al-Munawi berkata, hadis di atas menunjukkan bahwa betapa penting akhlak tawadu’. Rasulullah saw. manusia paling mulia saja melakukan pekerjaan rumah tangganya sendiri. Al-Munawi berkata:
وَفِيْهِ أَنَّ الْإِمَامَ الْأَعْظَمَ يَتَوَلَّى أُمُوْرَهُ بِنَفْسِهِ وَأَنَّهُ مِنْ دَأْبِ الصَّالِحِيْنَ
Hendaknya seorang pemimpin sebaiknya mengurus urusannya sendiri, dan bahwa hal itu merupakan kebiasaan (kebiasaan mulia) para orang saleh.”
Kisah Sayyidah Fatimah yang Berhidmah Pada Keluarganya
Berhidmah kepada keluarga ini juga diajarkan oleh Rasulullah kepada putri tercintanya, Sayyidah Fatimah. Diriwayatkan Fatimah pernah mengeluh kepada Rasullah saw. perihal beratnya pekerjaan rumah tangga. Bahkan, dalam riwayat Tiimidzi diceritakan tangan Fatimah melepuh karena karena sering menumbuk (gandum). Rasulullah menjawab:
ألا أدُلُّكُما على ما هو خَيْرٌ لكُما من الخَادمِ؟ إذا أخذْتُما مَضْجَعكُما، تقُولانِ ثَلاثًا وَثَلاثِينَ، وَثَلاثًا وثَلاثِينَ، وأرْبعًا وَثَلاثِينَ: من تَحْميدٍ، وَتَسْبيحٍ، وَتَكْبيرٍ (رواه الترمذي)
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik daripada pembantu? Apabila kalian berdua hendak berbaring (untuk tidur), ucapkanlah: tiga puluh tiga kali al-ḥamdu lillāh (pujian kepada Allah), tiga puluh tiga kali subḥānallāh (penyucian bagi Allah), dan tiga puluh empat kali Allāhu akbar (Allah Mahabesar). (HR. Tirmidzi)
Dalam hadis tersebut, meskipun Rasulullah saw. bisa saja memberika pembantu untuk Fatimah, namun Rasulullah saw. tidak melakukan hal itu. Hemat penulis, Rasul tidak ingin kesempatan mendekatkan diri kepada Allah melalui jalan berhidmah keluarga ini terlewatkan dari Fatimah ketika ia diberi pembantu. Maka Rasulullah saw. memberikan amalan lain untuk meringankan khidmah rumah tangga itu, seperti tahmid (mengingat nikmat Allah agar sampai lupa beratnya pekerjaan yang dikerjakan) tasbih (mengingat bahwa pada dasarnya Allah dibalik semua apa yang terjadi) dan takbir (mengingat kebesaran Allah hingga pekerjaan yang dipikul terasa kecil.
Jika penulis boleh membuat analogi, jika seorang istri berhidmah pada suaminya dengan memasakkan makanan dan membuatkan minuman suaminya, maka sajadah seorang istri adalah dapur, dan tasbihnya adalah alat-alat memasaknya. Semoga kita semua diberi taufik oleh Allah dapat meneladani Rasulullah saw. dalam berhidmah kepada keluarga dengan baik dan benar. Semoga bermanfaat..
Tabik,
Ahmad Rifqi Azmi, M.Ag













