Setahun Kepemimpinan Setyo Wahono–Nurul Azizah: Fondasi Kuat, Prestasi Nyata

drg. Sofan Solikin Ketua Relawan Ayem bersama Setyo Wahono dan Nurul Azizah saat masa Pilkada kemarin

Oleh: Ketua Relawan Ayem, drg. Sofan Solikin

Satu tahun pertama kepemimpinan Setyo Wahono–Nurul Azizah menjadi fase krusial dalam menentukan arah pembangunan Kabupaten Bojonegoro. Dalam waktu yang relatif singkat, sejumlah indikator strategis menunjukkan progres yang patut diapresiasi.

Sebagai Bupati, Setyo Wahono menekankan konsolidasi birokrasi serta percepatan program prioritas daerah. Pendekatan kepemimpinan yang komunikatif dan terbuka terhadap aspirasi publik membuat roda pemerintahan berjalan lebih stabil dan terukur.

Sementara itu, Wakil Bupati Nurul Azizah tampil aktif mengawal isu sosial, pendidikan, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan UMKM. Sinergi keduanya memperlihatkan pembagian peran yang efektif dalam mendorong capaian pembangunan.

Penurunan Stunting: Investasi Masa Depan

Salah satu capaian penting dalam satu tahun terakhir adalah keberhasilan menekan angka stunting. Intervensi yang dilakukan tidak sekadar administratif, tetapi menyentuh langsung pada edukasi gizi, penguatan posyandu, monitoring ibu hamil, serta kolaborasi lintas sektor.

Penurunan stunting bukan sekadar capaian statistik. Ia merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Bojonegoro. Pemerintah daerah menunjukkan keseriusan menjadikan isu ini sebagai prioritas strategis, karena keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada kualitas generasi penerusnya.

Lompatan Produksi Padi: Terbesar Kedua di Jawa Timur

Di sektor pertanian, capaian Bojonegoro semakin menonjol. Produksi padi meningkat signifikan hingga melampaui Kabupaten Ngawi yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi utama. Bahkan, Bojonegoro kini menempati posisi sebagai kabupaten dengan produksi padi terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur.

Capaian ini tentu bukan kebetulan. Dukungan terhadap petani melalui perbaikan irigasi, distribusi pupuk, optimalisasi lahan, serta pendampingan teknologi pertanian menjadi faktor penentu. Dengan potensi lahan yang luas, Bojonegoro kian mengukuhkan identitasnya bukan hanya sebagai daerah migas, tetapi juga sebagai kekuatan pangan strategis di Jawa Timur.

Dampaknya bersifat multiplikatif: meningkatkan pendapatan petani, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat ketahanan pangan daerah dan provinsi.

Fondasi Telah Diletakkan

Tentu, satu tahun belum cukup untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah pembangunan. Tantangan tetap ada—mulai dari fluktuasi ekonomi, perubahan iklim yang memengaruhi pertanian, hingga ekspektasi publik terhadap pelayanan yang semakin cepat dan transparan.

Namun arah kebijakan yang jelas, keberanian memprioritaskan isu fundamental seperti stunting dan pertanian, serta konsistensi komunikasi publik menjadi sinyal bahwa kepemimpinan ini berjalan dengan arah yang terukur.

Fondasi telah diletakkan dengan kokoh. Jika konsistensi dan akselerasi terus dijaga, bukan tidak mungkin Bojonegoro akan semakin mengukuhkan diri sebagai daerah yang maju, berdaya saing, dan mandiri—baik dari sisi kualitas SDM maupun kekuatan ekonomi.

Satu tahun telah dilalui. Prestasi mulai terlihat. Kini publik menanti akselerasi yang lebih besar di tahun-tahun berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *