JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Desa Purworejo Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro hari Minggu (17/11/2024) gelar peringatan Haul KH. Moch. Ali Sufirman ke 18.
Acara itu dihadiri oleh KH. Alamul Huda Masyhur Pimpinan Pondok Pesantren Al-Rosyid, jajaran Pengurus MWCNU Kecamatan Padangan dan ratusan tamu undangan lainnya.

Kyai Abdul Wahid Muhajirin dzuriyah dari KH. Moch. Ali Sufirman dalam sambutannya mengatakan, pada awal-awal KH. Moch. Ali Sufirman berjuang untuk pendidikan agama Islam banyak sekali tantangan yang dihadapinya.
“Pondok pesantren Miftahul Huda didirikan tahun 1979 kecil-kecilan dan awalnya santri hanya dari lokal, alkhamdulilaah sampai sekarang masih eksis. Saya mohon doa restu semoga saya dan saudara bisa meneruskan perjuangan,” kata Kyai Abdul Wahid Muhajirin.
Gus Wahid sapaan akrab dari Kyai Abdul Wahid Muhajirin menambahkan, KH. Moch. Ali Sufirman adalah seorang tokoh yang dekat dengan rakyat dan tidak jauh dari umaro. Karena menurutnya KH. Moch Ali Sufirman merupakan tokoh yang berjiwa nasionalis tinggi.
“Bapak juga aktif di NU tingkat MWC. Beliau sempat menjadi Ketua Tanfidziyah selama dua periode semasa hidupnya,” kenang Gus Wahid.
Gus Wahid mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang membantu suksesnya acara peringatan Haul KH. Moch. Ali Sufirman.
“Semoga bantuan yang diberikan untuk suksesnya acara ini menjadi amal sholeh dan mendapatkan balasan dari Allah SWT,” harapnya.

Sementara itu, KH. Alamul Huda Masyhur Pimpinan Pondok Pesantren Al-Rosyid sebagai pembicara dalam acara itu mengatakan cukup mengenal baik sosok KH. Moch. Ali Sufirman. Menurutnya, KH. Moch. Ali Sufirman merupakan sosok yang istikomah dan sabar dalam memperjuangkan agama Islam melalui Ponpes Miftahul Huda.
“Semoga para Dzuriyah, yakni Kyai Abdul Wahid Muhajirin dan Kyai Jakfar Almansur diberikan kekuatan dan tetap rukun untuk meneruskan perjuangan bapaknya,” harap Gus Huda sapaan akrab dari KH. Alamul Huda Masyhur.
Dalam tausiyahnya Gus Huda mengatakan, orang yang baik dan bermanfaat itu ada tiga syarat, pertama tidak malas, tidak takut miskin dan tidak takut mati.
KH. Alamul Huda Masyhur juga mengatakan masih ada hubungan kekerabatan dari jalur istri. Menurut Gus Huda, Ibu Nyai Malichah merupakan wanita dari kecamatan padangan yang masih ada hubungan sepupu.














