JagatSembilan.com | Bojonegoro – Hanya 6.21% Pesantren Al memiliki sanitasi layak. Demikian diungkapkan oleh IDFoS Indonesia dalam konsultasi publik kemarin Rabu, (07/08/2024). Kegiatan itu Konsultasi Publik itu memaparkan kondisi sanitasi di pondok pesantren Kabupaten Bojonegoro.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak termasuk STIKES Rajekwesi, IAI Al Fatimah, LDII, Forum Komunikasi Pondok Pesantren, Lakpesdam, INFID, serta perwakilan dari Dinas Kesehatan, Kemenag Kabupaten Bojonegoro, dan Bappeda Bojonegoro.
IDFoS Indonesia dalam paparannya mengatakan, penelitian yang dilakukan bekerja sama dengan INFID ini melibatkan 359 pondok pesantren, dengan 177 lembaga menjadi sampel penelitian menggunakan teknik convenience sampling. Hasil riset ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan untuk menangani masalah sanitasi di pesantren.
Rizal Zubad Firdausi dari dari IDFoS Indonesia yang akrab disapa Mas Rizal, memaparkan hasil riset serta indikator-indikator kondisi sanitasi pesantren dan memberikan rekomendasi sebagai acuan penanganan masalah di lingkungan pesantren.
Mas Rizal juga mengungkapkan, beberapa temuan kritis yang memerlukan perhatian segera secara serius. Hanya 6,21% Pondok Pesantren memiliki layanan kesehatan yang sangat baik, sementara 37,29% pesantren masih membutuhkan perbaikan signifikan dalam hal sanitasi.
Mas Rizal juga mengungkapkan, beberapa kondisi kritis yang ditemukan termasuk kekurangan air bersih, pengelolaan limbah kamar mandi yang tidak memadai, serta penampungan dan pemilahan sampah yang buruk. Selain itu menurut Mas Rizal, perilaku sanitasi santri sangat dipengaruhi oleh kurangnya kebijakan dan program edukasi yang efektif.
“Pelayanan kesehatan di pesantren juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan dengan banyak Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) yang tidak berfungsi dan perlunya bekerjasama dengan puskesmas setempat. Temuan-temuan ini menyoroti perlunya tindakan kolaboratif untuk meningkatkan standar sanitasi dan kesehatan di pesantren-pesantren Bojonegoro,” kata Mas Rizal.
Sementara itu Joko Hadi Purnomo Ketua IDFoS Indonesia mengatakan, isu ini berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, yang merupakan bagian dari kesepakatan global.
“Sanitasi menjadi elemen dasar bagi masyarakat Indonesia, termasuk pesantren, karena banyak masalah kesehatan bermula dari sanitasi. Dengan kerjasama IDFoS Indonesia dan INFID, riset ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi atau saran kebijakan bagi para pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat,” jelas Ketua IDFoS Indonesia, Joko Hadi Purnomo.
M. Yasin perwakilan Kemenag Kabupaten Bojonegoro menyatakan, apa yang dilakukan oleh IDFoS Indonesia dan INFID sangat membantu.
“Hal itu karena selama ini tidak ada bantuan atau kontribusi kepada pondok pesantren di wilayahnya mengenai sanitasi. Kami sangat terbantu dengan riset dan inisiatif IDFoS Indonesia,” kata M. Yasin.
Sementara itu Faktur Rozi perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro mengatakan, masalah terkait air bersih di masyarakat mayoritas terjadi di pondok pesantren.

“Penyelesaian masalah ini memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk akademisi, pemangku kepentingan, dan pondok pesantren itu sendiri,” kata Faktur Rozi.
Kegiatan ini menandai langkah penting dalam upaya meningkatkan kondisi sanitasi di Pesantren – pesantren di Bojonegoro, serta menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak untuk mencapai tujuan tercapainya sanitasi yang layak di pesantren.













