Lima Golongan yang Didoakan Para Malaikat

Oplus_0

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi

Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya. Jumlah mereka sangat banyak. Begitu banyaknya malaikat ini sampai-sampai langit hampir dipenuhi oleh mereka. Bahkan dalam sebuah hadis dijelaskan setiap jarak empat jari dilangit ada malaikat yang mendiami.

Masing-masing malaikat mempunyai tugas dari Allah. Ada yang bertugas mengurus hujan; berapa jumlah tetes hujan yang akan diturunkan, kapan terjadi hujan, dan di area mana hujan turun. Ada yang bertugas mengatur angin; kadar kekencangan hembusannya, kapan angin berhembus, di tempat mana saja angin dihembuskan. Ada yang bertugas mengatur tumbuh-tumbuhan, gunung dan bebatuan. Dan, ada yang bertugas mendoakan orang-orang yang mempunyai sifat atau amaliyah tertentu. Bermacam-macamnya tugas malaikat ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا (النازعات 5)

Dan demi para malaikat yang mengatur urusan dunia (QS. Al-Naziat 5)

Doa para malaikat memiliki kedudukan yang agung; ia menjadi tanda penerimaan dan keberkahan dari Allah. Hal ini sebab mereka selalu melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya.

Barangkali sebagian dari kita menyangka bahwa doa malaikat hanya diberikan kepada orang-orang dengan amalan besar dan berat. Padahal, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ada banyak amalan yang tampak ringan tetapi mampu mengundang doa dan permohonan ampun dari para malaikat. Salah satu bentuk kemurahan Allah. Menjadikan amal yang sederhana dan mudah dilakukan, namun memiliki bobot spiritual yang luar biasa.

Artikel ini akan membahas lima golongan yang secara eksplisit disebutkan dalam hadis-hadis Nabi SAW. Sebagai orang-orang yang mendapatkan doa dari malaikat:

  • Orang yang menjenguk orang sakit,
  • Orang yang tidur dalam keadaan suci,
  • Orang yang mengajarkan kebaikan,
  • Orang yang menempati shaf pertama dalam shalat berjamaah, dan
  • Orang yang tetap duduk di tempat shalat setelah shalat selesai.

Dengan mempelajari kelima amalan tersebut, kita berharap menjadi hamba yang selalu dinaungi rahmat Allah melalui doa malaikat.

Orang yang Menjenguk Orang Sakit

Menjenguk orang sakit (‘iyādat al-marīḍ) merupakan salah satu amalan sosial yang sangat ditekankan dalam Islam. Secara fikih, ia termasuk hak sesama muslim; sedangkan secara ruhani, ia adalah bentuk latihan untuk melunakkan hati.

Menjenguk orang sakit juga merupakan bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada sesama muslim. Dan bisa saja kepedulian dan rahmah ini mengundang empati para malaikat sehingga para malaikat mendoakan setiap orang yang menjenguk orang sakit. Nabi saw. bersabda,

الرّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرحمنُ، ‌ارْحَمُوا ‌من ‌في ‌الأرْضِ، يَرْحَمْكُمْ من في السَّمَاءِ، (رواه الترمذي)

Orang yang mempunyai sifat kasih sayang, ia akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Mengasihi. Kasihilah orang yang ada di bumi, maka yang ada dilangit (para malaikat) akan mengasihimu (HR. Tirmidzi)

Menjenguk orang sakit juga merupakan idkhal surur (menghibur) dan memberikan dukungan moral untuk orang yang dijenguk, yang mana ini merupakan amal yang sangat di anjurkan dalam agama.

Adapun dalil tentang para malaikat yang mendoakan orang yang menjenguk orang sakit adalah hadis

مَا مِنْ ‌مُسْلِمٍ ‌يَعُودُ ‌مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ (رواه الترمذي)

Tidaklah seorang muslim ketika menjenguk muslim (yang sakit) di pagi hari kecuali 70.000 malikat akan medoakannya hingga sore, dan jika ia menjenguknya sore hari, maka akan ada 70.000 malaikat yang mendoakan ampunan baginya hingga waktu pagi. (HR. Tirmidzi)

Orang yang Tidur dalam Keadaan Suci

Tidur bukan sekadar istirahat, tetapi ia adalah kembalinya ruh kepada Allah. Dijelaskan dalam al-Quran surah Azzumar ayat 42 bahwa saat tidur, ruh ditahan oleh Allah, dan Allah melepaskannya kembali jika ruh tersebut milik orang yang belum tiba ajalnya. Karena itu, tidur merupakan “kematian kecil” (al-mawtah aṣ-ṣughrā). Oleh sebab itu, jika tidur dipahami kembalinya sebagai ruh kepada Allah, maka sudah selayaknya seorang muslim tidur dalam keadaan suci. Hal ini merupakan adab seorang hamba ketika hendak menghadap-Nya, sebagaimana adab ketika hamba hendak menghadap-Nya melalui shalat.

Setidaknya ada tiga sifat malaikat yang ditiru seseorang yang menjaga wudhu ketika hendak tidur: kesucian dan ketaatan (ketundukan).

Kesucian, sebab orang yang berwudhu ia suci dari hadas yang menyertainya. Dalam hadis dijelaskan orang yang berudhu ketika dosa-dosanya rontok bersamaan dengan menetesnya air yang menetes dari anggota wudhunya, sehingga setelah wudhu ia sudi dari hadas dan suci dari dosa. Ini sebagaimana malaikat yang suci dari hadas dan dosa.

Ketaatan, sebab orang yang berwudhu pada dasarnya ia menaati perintah Allah, karena sebagaimana dijelaskan dalam hadis, Rasulullah saw. memerintahkan orang yang hendak tidur untuk berwudhu. Beliau bersabda:

إِذَا أَتَيْتَ ‌مَضْجَعَكَ، ‌فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ ‌لِلصَّلَاةِ (رواه البخاري)

Apabila kamu tidur, maka wudhulah sebagaimana wudhumu untuk sholat (HR. Bukhari)

Keserupaan sifat ini bisa jadi menjadi sebab ketertarikan malaikat kepada hamba tersebut hingga para malaikat mendoakannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

مَنْ ‌بَاتَ ‌طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَاّ قَالَ الْمَلَكُ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ ‌بَاتَ ‌طَاهِرً (رواه ابن حبان)

Barangsiapa yang tidur malam dalam keadaan suci, maka para malaikat akan bermalam di rambutnya, dan tidakla ia bangun kecuali para malaikat berdoa, “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu, si Fulan, sebab sesungguhnya ia bermalam dalam keadaan suci (HR. Ibnu Hibban)

Orang yang Mengajarkan Kebaikan

Jika Rasulullah saw. adalah orang paling mulia, maka tugas yang diembannya juga menjadi tugas yang paling mulia. Apakah tugas itu? Tugas itu adalah mengajarkan kebaikan. Kebaikan ini bermacam-macam, ada kebaikan yang berhubungan dengan Allah, seperti iman, tawakkal, mahabbah, dan ridha. Dan, ada kebaikan yang berhubungan dengan sesama mahluk, seperti baik kepada semua mahluk Allah bahkan kepada binatang sekalipun.

Ilmu adalah cahaya, sebagaimana perkataan Imam Malik

لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ نُورٌ يَضَعُهُ اللَّهُ عز وجل فِي الْقُلُوبِ

Ilmu sejati bukanlah banyaknya riwayat. Ilmu sejati adalah cahaya yang Allah Azza wa Jalla letakkan di dalam hati –hamba-hamba pilihan-Nya.

Jika ilmu sering diserupakan dengan cahaya, maka malaikat adalah mahluk yang Allah ciptakan dari cahaya. Di sini ada keterkaitan antara ilmu dan malaikat. Karena itu tidak heran apabila para malaikat senantiasa mendoakan para pengajar kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah saw.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى ‌مُعَلِّمِ ‌النَّاسِ ‌الخَيْرَ (رواه الترمذي)

Sesungguhnya Allah merahmati, dan para palaikat, penduduk langit dan bumi, bahkan semut yang ada di sarangnya dan ikan-ikan, kesemuanya mendoakan maghfirah bagi orang yang mendoakan kebaikan (HR. Tirmidzi)

Orang yang Shalat di Shof Pertama

Hadis tentang doa para malaikat untuk orang yang shalat di shaf pertama banyak diriwayatkan oleh para Imam Muhaddisin, di antaranya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ ‌عَلَى ‌الصَّفِّ ‌الْأَوَّلِ (رواه ابن ماجه والنسائي)

Sesungguhnya Allah merahmati, dan para malaikat mendoakan ampunan bagi orang yang shalat di shaf pertama (HR. Ibnu Majah dan Nasa’i)

Shalat berjamaah merupakan keutamaan, apalagi jika jamaahnya dilakukan di shaf pertama. Ini merupakan keutamaan di atas keuatamaan. Orang sholat di shaf pertama menggambarkan kesungguhan dan semangat menghadap kepada Allah, merupakan pengejawentahan dari firman Allah fastabiqū al-khairāt. Selain itu, orang yang shalat di shaf pertama lebih sedikit kemungkinan lengahnya, sebab ia tidak terganggu dengan orang-orang di barisan depannya.

Orang yang shalat di shaf pertama mempunyai keserupaan dengan malaikat.

إِنَّ ‌الصَّفَّ ‌الْأَوَّلَ عَلَى مِثْلِ صَفِّ ‌الْمَلَائِكَةِ، (رواه ابو داود)

Orang yang shalat di shaf pertama itu seperti shafnya malaikat (HR. Abu Dawud)

أَلَا تَصُفُّونَ ‌كَمَا ‌تَصُفُّ ‌الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ: يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ (رواه مسلم)

“Maukah kalian berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb-nya?”

Kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb-nya?” Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf pertama dan merapatkan barisan.” (HR. Muslim)

Bisa jadi keserupaan inilah yang mendorong para malaikat (dengan perintah Allah) untuk mendoakan mereka.

Orang yang Tetap di Tempat Shalat Setelah Shalatnya Selesai.

Di antara keistimewaan malaikat yang dijelaskan oleh Allah di dalam al-Quran adalah mereka tidak pernah bosan dan jenuh beribadah kepada Allah. Allah berfirman

فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ (فصلت 38)

Artinya: Maka, para malaikat yang di sanding Tuhanmu senantiasa bertasbin untuknya pada siang ataupun malam, dan mereka tidak pernah bosan (QS. Fushshilat 38)

Orang yang tidak langsung meninggalkan tempat sholatnya setelah sholatnya selesai, lisanul hal-nya seakan berkata mereka tidak pernah bosan beribadah kepada Allah, bahkan mereka seakan tidak ingin keluar dari ibadah. Hal ini menyerupai sifat malaikat sebagaimana ayat di atas, mereka tidak pernah bosan beribadah membaca tasbih untuk Allah.

Doa permohonan ampun dari para malaikat ini sangat besar manfaatnya. Ibnu Batthal dalam Syarah Shahih Bukharinya berkata, “Orang yang banyak dosa dan ingin Allah melebur dosanya hendaknya ia memanfaatkan doa permohonan ampun para malaikat dengan cara tidak tergesa-gea meninggalkan tempat shalatnya walaupun shalatnya telah selesai.”

Semoga kita tergolong di antara hamba-hamba yang selalu dinaungi doa malaikat, ditetapkan langkahnya menuju ridha Allah, dan dihidupkan dalam cahaya kebaikan sampai akhir hayat. Aamiin.

 

*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi, M.Ag Ketua Aswaja Center Bojonegoro dan Pengasuh Jamaah Sabtu Sore Masjid Agung Darussalam Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *