Menggelorakan Silaturahim

Ilustrasi potret Usman Roin, Dosen Jurnalistik Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri
Usman Roin, Dosen Jurnalistik Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri Bojonegoro

Oleh: Usman Roin*

Silaturahim, atau menguatkan ikatan persaudaraan sekarang, memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah, hadirnya teknologi di mana cukup via video call atau kirimkan teks ucapan lebaran, permohonan mohon maaf selesai.

Hal di atas, sebenarnya tidak masalah dilakukan bila mana keberadaan kita jauh geografis. Lalu, tuntutan pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk hadir lebaran secara langsung.

Sebagai misal, jurnalis, tenaga kesehatan, aparat keamanan, petugas transportasi serta jenis profesi lain yang mengutamakan pelayanan publik agar tetap berjalan.

Hanya saja, selagi masih bisa bersilaturahim, momentum bermaaf-maafan kudu dilakukan. Dalam bahasa Jawa, dimenke atau upayakan sungguh-sungguh dalam pemaknaan yang bisa penulis berikan.

Hal itu, agar kehadiran Idulfitri tidak sia-sia. Sehingga, sanak saudara, teman, sahabat, hingga kolega yang belum dikunjungi, bisa rutin ditengok saben lebaran dari tahun ke tahun.

Lalu, bagaimana agar bersilaturahim menjadi bersemangat?

Pertama, niat bersilaturahim. Niat di sini, lebih tepatnya kehendak kuat untuk melakukan sesuatu –dalam hal ini silaturahim. Jika kemudian diuraikan, niat ini lebih kepada upaya lahirnya motivasi intrinsik, untuk melakukan anjang sana dan sini di momentum lebaran.

Sebagaimana kita mafhum, kini akses jalan pedesaan sudah baik dan rata, alis dicor. Hanya saja, semangat diri seperti luntur oleh faktor “ngeles” panas, capek dan sederet faktor lain. Padahal sisi, fasilitas motor juga ada, dan keluarannya yang terbaru.

Niat silaturahim, kalau bagi penulis akan lebih afdol (utama) dengan bertemu langsung, atau yang kekinian dinamakan offline. Faedahnya, biar tahu bilamana ada masalah dikeluarga bisa saling menguatkan, bahkan turut pula saling “nuturi” dalam istilah Jawa yang berarti meberi nasihat.

Alhasil, berkat sungguh-sungguh berkunjung ke sanak saudara, yang asalnya berangkat ada problem, pulangnya sudah mendapat jawaban atas problematik yang sedang dihadapi.

Kedua, rekreasi. Silaturahim kala lebaran agar semangat juga bisa dijadikan sebagai sarana rekreasi. Terlebih, dalam hal berlibur, tidak melulu kudu di tempat wisata yang esensinya bersenang-senang.

Dengan sambang (berkunjung) dari keluarga satu kepada berikutnya, bisa digunakan berwisata dalam arti berpergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan. Hal ini selaras dengan pemaknaan KBBI daring, bila rekreasi tidak melulu bermakna bersenang-senang.

Sebagai contoh, kala bersilaturahim kepada kekuarga di desa, tentu keadaan rumah, pepohonan yang rindang, bahkan sayur mayur bisa dipetik langsung dari tanaman di mana hal itu jarang didapatkan di perkotaan.

Momentum itu menjadi spesial yang mengesankan, bahwa berkahnya bersilaturahim ada sisi rekreatif dalam arti kita bisa mendapatkan pengetahuan baru hasil dari bepergian. Entah dalam hal menanam, hingga mengolah hasil tanaman menjadi kuliner yang maknyus.

Sebagai bonus, sayur mayur, buah-buahan, bisa menjadi oleh-oleh gratis yang bisa dibawa pulang kala balik.

Ketiga, bersedekah. Silaturahmi kala lebaran menjadi semakin semangat oleh hadirnya kebiasaan sedekah. Dalam hal ini pemberian uang baru pecahan 2 ribu, 5 ribu, 10 ribu, 20 ribu dan seterusnya kepada anak-anak.

Dari sisi motivasi ini masuk ekstrinsik, yakni dorongan silaturahmi di mana anak-anak mau ikut oleh karena akan mendapatkan sangu berupa uang pecahan baru-baru.

Lalu, siapa yang akan memberi? Tentu kita semua yang memiliki rizki lebih, sebagai upaya melestarikan budaya lebaran kepada generasi masa depan. Alhasil, dengan memberikan uang pecahan baru, yang kemudian diniatkan bersedekah, hal itu akan menguatkan semangat bersilaturahim tradisi lebaran mendatang.

Kini, lebaran masih masuk dihari ke 3. Artinya, masih ada hari ke 4, 5, 6 dan 7 sebelum akhirnya ditutup dengan lebaran ketupat, yang dalam tradisi Jawa bersama-sama makan ketupat, setelah sebelumnya dibacakan doa dan diamini bersama-sama.

*Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Unugiri Bojonegoro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *